Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

HIV/AIDS Kota Malang Meningkat, Edukasi Disarankan Masuk Kurikulum

HIV/AIDS Kota Malang Meningkat, Edukasi Disarankan Masuk Kurikulum
Ilustrasi pita HIV. (freepik.com/jcomp)

Malang, IDN Times - Penyebaran HIV/AIDS di Kota Malang kini jadi masalah serius. Dinas Kesehatan Kota Malang mencatat jika pada akhir 2022 terdapat 1.756 orang yang menjalani pengobatan.

Lebih detail, jumlah pengidap HIV/AIDS baru pada 2022 ada 481 orang. Jumlah ini meningkat jika dibandingkan pada tahun 2021 yang mencatat 329 pengidap baru. Di mana Dinas Kesehatan Kota Malang menjabarkan kalau pengidap terbanyak adalah laki-laki. Dari 481 orang pengidap HIV/AIDS baru pada 2022, 168 adalah pria atau 34,9 persen.

1. Dinkes Kota Malang terus gencarkan antisipasi dini

Ilustrasi HIV dan AIDS. (pexels.com/Anna Shvets)
Ilustrasi HIV dan AIDS. (pexels.com/Anna Shvets)

Dinas Kesehatan Kota Malang menyediakan 16 layanan untuk pencegahan HIV/AIDS sejak Februari 2023. Salah satunya dengan mendistribusikan kondom dan pelicin kepada masyarakat yang melakukan seks berisiko. Kemudian juga program pengobatan pada masyarakat yang sudah terjangkit.

 "Dinkes Kota Malang juga melakukan sosialisasi bahaya dna pencegahan HIV/AIDS kepada anak-anak SMP dan SMA. Tapi masih dalam program di UKS, belum masuk kurikulum sekolah," terang Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Malang, Meifta Eti Winindar saat dikonfirmasi pada Kamis (09/03/2023).

2. Edukasi HIV/AIDS perlu masuk kurikulum sekolah

Ilustrasi perempuan. (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi perempuan. (IDN Times/Arief Rahmat)

Jaringan Indonesia Positif menyarankan agar edukasi HIV/AIDS dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Pasalnya edukasi yang hanya dalam seminar tidak efektif mencegah penyebaran HIV/AIDS. Oleh karena itu, perlu dorongan serius dari Pemerintah Kota Malang dal upaya pencegahan.

"Menurut saya sosialisasi hanya memberikan materi dasar yang selalu diulang-ulang terus. Sehingga upaya yang bisa lakukan seperti memasukan materi bahaya HIV/AIDS ke kurikulum sekolah," terang aktivis Jaringan Indonesia Positif, Rika Wanda.

Sementara untuk perawatan pengidap HIV/AIDS di Kota Malang menurutnya sidah baik, namun hwris bisa lebih disempurnakan. Ia juga menemui masih banyak masyarakat yang kaget dan khawatir saat mendengar dirinya terkena HIV/AIDS, padahal perawatannya tidak jauh beda dengan pengidap penyakit jantung maupun diabetes.

Selain itu, ia juga mengingatkan para pengidap HIV/AIDS haris tajin mengkonsumsi obat. Pasalnya jika putus mengkonsumsi obat, akan berpengaruh pada jumlah penyebaran HIV/AIDS di Kota Malang. Menurutnya, ini adalah persoalan bersama, tidak hanya pengidap saja. Haris ada kesetaraan terhadap masyarakat yang mengidap HIV/AIDS.

"Permasalahannya mereka putus obat yang juga jadi pemicu (penyebaran HIV). Kemudian pemahaman masyarakat juga masih kurang sehingga riskan memunculkan stigma pada pengidap HIV/AIDS," tegasnya.

3. Dinas Pendidikan Kota Malang belum perlu kurikulum HIV

Ilustrasi Sekolah dari Rumah (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi Sekolah dari Rumah (IDN Times/Arief Rahmat)

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang mengatakan hingga saat ini belum perlu memasukkan pendidikan HIV/AIDS di kurikulum pendidikan. Pasalnya sudha banyak materi khusus terkait pencegahan HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya. Salah satunya dalam kompetensi dasar pendidikan agama, olahraga dan kesehatan, dan kewarganegaraan.

"Sekarang kami menggunakan kurikulum merdeka belajar. Sehingga apapun bisa jadi bahan ajar. Jadi materi tentang HIV/AIDS telah kenalkan sejak dini agar anak-anak paham," pungkasnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rizal Adhi Pratama
EditorRizal Adhi Pratama
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More

KAI Daop 8 Uji Coba Bahan Bakar Biodisel untuk Lokomotif Kereta

02 Mei 2026, 13:35 WIBNews