Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Harga Telur Anjlok, 600 Peternak di Magetan Terancam Gulung Tikar

Harga Telur Anjlok, 600 Peternak di Magetan Terancam Gulung Tikar
Kandang peternak di Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan, Magetan. IDN Times/Istimewa.
Intinya Sih
  • Harga telur di Magetan anjlok hingga Rp18.500 per kilogram akibat lemahnya permintaan pasar, membuat stok menumpuk dan peternak terpaksa menjual di bawah harga normal.
  • Kenaikan harga pakan dari Rp408 ribu menjadi Rp465 ribu per sak memperparah kondisi peternak, meningkatkan biaya produksi dan mengancam sekitar 600 usaha peternakan ayam petelur.
  • Para peternak berharap pemerintah segera turun tangan melalui program penyerapan hasil produksi dan stabilisasi harga pakan agar usaha mereka tidak gulung tikar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Magetan, IDN Times – Ratusan peternak ayam petelur di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, sedang menghadapi masa sulit. Harga telur yang terus merosot di tengah lesunya permintaan pasar membuat hasil produksi menumpuk di gudang. Di saat yang sama, harga pakan ternak justru mengalami kenaikan tajam sehingga menambah beban biaya produksi.

Kondisi tersebut dirasakan hampir seluruh peternak ayam petelur di Magetan dalam dua bulan terakhir. Di Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan, misalnya, gudang-gudang peternak dipenuhi tumpukan telur yang belum terjual. Stok yang mengendap bahkan mencapai 1 hingga 2 ton per peternak.

Para peternak mengaku kesulitan memasarkan telur karena rendahnya serapan pasar. Jika dalam waktu sepekan tidak ada pembeli, mereka terpaksa menjual telur dengan harga murah agar tidak membusuk di gudang.

"Keadaan peternak sekarang hancur. Telur menumpuk dan tidak bisa keluar, sementara harga pakan terus naik," ujar Agung Pambudi, salah satu peternak, Rabu (24/6/2026).

1. Terpaksa jual di bawah harga normal

Kandang peternak di Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan, Magetan. IDN Times/Istimewa.
Kandang peternak di Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan, Magetan. IDN Times/Istimewa.

Biasanya telur dijual dengan harga sekitar Rp23 ribu per kilogram. Namun karena stok terus menumpuk, peternak kini terpaksa melepasnya dengan harga Rp18.500 hingga Rp20 ribu per kilogram.

Menurut Yudi Santoso, kondisi tersebut membuat para peternak semakin tertekan. Sebab harga jual yang turun tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus meningkat.

"Kondisi peternak di Magetan sangat memprihatinkan. Harga pakan terus naik, telur tidak bisa keluar dan akhirnya harus diobral," katanya.

Penurunan harga telur terjadi bersamaan dengan melemahnya daya beli masyarakat. Akibatnya, distribusi telur dari peternak ke pasar berjalan lambat dan stok terus menumpuk.

2. Harga pakan naik, biaya produksi membengkak

Kandang peternak di Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan, Magetan. IDN Times/Istimewa.
Kandang peternak di Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan, Magetan. IDN Times/Istimewa.

Di tengah sulitnya menjual hasil produksi, peternak juga harus menghadapi kenaikan harga pakan ternak. Dalam dua bulan terakhir, harga pakan ayam naik dari Rp408 ribu menjadi Rp465 ribu per sak ukuran 50 kilogram.

Kenaikan tersebut membuat biaya operasional kandang melonjak drastis. Sementara pemasukan dari penjualan telur justru terus menurun.

Perwakilan Paguyuban Ternak Rakyat Indonesia, Teguh Wahyudi, mengatakan kondisi yang dialami peternak saat ini sudah masuk kategori darurat.

"Para peternak di Magetan terancam bangkrut. Harga pakan terus naik sementara telur tidak bisa keluar ke pasar. Ada sekitar 600 peternak yang terdampak," ujarnya.

3. Harap pemerintah segera turun tangan

Kandang peternak di Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan, Magetan. IDN Times/Istimewa.
Kandang peternak di Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan, Magetan. IDN Times/Istimewa.

Di Kabupaten Magetan terdapat sekitar 600 peternak ayam petelur dengan populasi mencapai 1,6 juta ekor ayam. Hampir seluruhnya kini menghadapi persoalan serupa, yakni sulitnya menjual telur dan tingginya biaya produksi.

Dampak lesunya pasar juga dirasakan pedagang telur di Pasar Sayur Magetan. Jika biasanya 15 kilogram telur bisa habis dalam sehari, kini penjualan sebanyak itu baru laku setelah dua hingga tiga hari.

Para peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, baik melalui program penyerapan hasil produksi maupun upaya menstabilkan harga pakan. Mereka khawatir jika kondisi ini terus berlanjut, banyak usaha peternakan rakyat di Magetan yang terpaksa tutup karena tidak mampu lagi menanggung kerugian.

"Kalau keadaan seperti ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin banyak peternak yang gulung tikar," kata Teguh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin

Latest News Jawa Timur

See More