Harga Cabai Rawit Jatim Terus Memuncak, Terungkap Faktornya

Surabaya, IDN Times - Harga cabai rawit mulai mengalami kenaikan di pasaran Jawa Timur (Jatim). Pantauan IDN Times di pedagang sayur kawasan Mojosarirejo, Driyorejo, Kabupaten Gresik, harga seperempat kilogram cabai rawit sebesar Rp19.000. Sementara harga per kilogramnya (kg) yaitu Rp76.000.
Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim per 21 Juli 2024, harga rata-rata Jatim adalah Rp64.198 per kg, harga rata-rata tertinggi di Kota Pasuruan Rp79.300 per kg dan harga rata-rata terendah di Kabupaten Bangkalan Rp23.000 per kg.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Dydik Rudy Setiawan mengatakan, cabai rawit merah di tingkat produsen mengalami kenaikan harga dimulai dari 27 Juni lalu dengan harga Rp17.286 per kg. Dan terus mengalami kenaikan sampai puncaknya di tanggal 18 Juli sebesar Rp42.786. Kini terus naik.
“Kenaikan harga cabai rawit merah pada tingkat harga produsen diatas range Harga Acuan Pembelian (HAP) yaitu Rp25.000 – Rp31.500 atau di atas HAP 50 persen," ujarnya, Minggu (21/7/2024).
Untuk cabai rawit merah di tingkat konsumen mengalami kenaikan harga dimulai dari 27 Juni dengan harga Rp24.767 dan terus mengalami kenaikan sampai puncaknya di tanggal 18 Juli sebesar Rp37.767. Kenaikan harga cabai rawit merah pada tingkat harga konsumen di atas range HAP yaitu Rp40.000 – Rp57.000 per kg.
“Perkembangan harga cabai besar ditingkat konsumen mengalami peningkatan harga sebesar 0,8 persen atau Rp 29.633,” jelasnya.
Rudy menambahkan, ketersediaan cabai rawit pada bulan Juni mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya sebesar 47 persen. Meski demikian masih dalam kategori surplus yaitu sebesar 40.799 ton.
Sedangkan ketersediaan cabai besar pada bulan Juni mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya sebesar 49 persen, namun demikian ketersediaan Jatim pada Juni surplus sebesar 3.133 ton.
Penurunan ketersediaan cabai rawit dan cabai besar pada bulan Juni diakibatkan penurunan luas panen dan produktivitas yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, produktivitas pertanaman di dataran tinggi menurun karena sudah memasuki fase panen akhir-bongkar.
Disamping itu juga curah hujan yang menurun cenderung kering akibatnya ketersediaan air yang terbatas mempengaruhi pertumbuhan pertanaman yang masih ada. “Kedua, di wilayah dataran rendah Sebagian besar memulai tanam baru,” pungkasnya.



















