Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Haji Tertua di Kabupaten Malang, Berangkat ke Makkah di Usia 92 Tahun

Haji Tertua di Kabupaten Malang, Berangkat ke Makkah di Usia 92 Tahun
Paitun, jemaah haji tertua di Kabupaten Malang pada 2024. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
Share Article

Malang, IDN Times - Masyarakat Indonesia yang beragam Islam pasti sangat antusias melaksanakan ibadah rukun Islam kelima, Haji. Berapapun usai jemaah haji tersebut, tidak menyurutkan mimpi melihat ka'bah secara langsung.

Musim haji tahun ini pun akan dilaksanakan pada bulan Juni 2024. Dan sosok jemaah haji tertua di Kabupaten Malang adalah Paitun, warga Jalan Raden Saleh, Dusun Pabrian RT.15/RW.3, Desa Sukonolo, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang yang saat ini berusia 92 tahun.

1. Jemaah haji tertua di Kabupaten Malang berangkat di usia 92 tahun, setelah menunggu giliran selama 6 tahun

Yuyun dan Paitun, jemaah haji tertua di Kabupaten Malang pada 2024. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
Yuyun dan Paitun, jemaah haji tertua di Kabupaten Malang pada 2024. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Paitun diketahui mepakan perempuan kelahiran 9 Agustus 1932, saat ini ia berusia 92 tahun. Meskipun usianya hampir 1 abad, ia masih mampu berjalan sendiri. Tapi ia memiliki masalah pada pendengaran, sehingga haris dipandu keponakannya saat diajak berbicara.

"Kalau usia beliau tercatat di KTP ya 92 tahun, tapi bisa jadi lebih karena yang tercatat di Dukcapil tidak akurat. Pas lahir tidak dicatat, karena beliau lahir kan sebelum Indonesia merdeka," terang keponakan Paitun, Yuyun Maslahah pada Senin (13/5/2024).

Yuyun mengatakan jika Paitun mendaftar sebagai jemaah haji pada 2018 setelah mendapat masukan dari tetangganya. Ia menggunakan hasil warisan keluarganya untuk membiayai pendaftaran haji. Pihak keluarga juga tidak ada yang menghalangi rencana Paitun karena ini merupakan niat baik juga. Ia akhirnya terdaftar di kloter 26 yang berangkat dari embarkasi Juanda, Surabaya.

"Keluarga bahkan tidak ada yang tahu waktu mendaftar, beliau daftar dibantu tetangga di KBIH Al Rifa'i. Kita baru dikabari setelah mendaftar, ya kita dukung saja karena menyempurnakan rukun Islam," jelasnya.

2. Paitun cari uang saku untuk ke Makkah dengan jadi buruh tani

Paitun, jemaah haji tertua di Kabupaten Malang pada 2024. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
Paitun, jemaah haji tertua di Kabupaten Malang pada 2024. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Yuyun mengatakan jika Paitun mendaftar haji dengan mengeluarkan uang Rp60 juta, ia mendapat subsidi pemerintah dari seharusnya membayar Rp90 juta. Uang sebanyak Rp60 juta ini didapatkan Paitun dari menjual tanah warisan keluarga. Tapi Paitun bukanlah dari keluarga yang kaya raya, ia masih haris bekerja di usianya yang ke-92 untuk mengumpulkan uang saku di Makkah.

"Uangnya itu kepakai semuanya untuk biaya keberangkatan, itu dari warisan semua, gak banyak tapi cukuplah. Sementara untuk uang saku dan syukuran cari lagi jadi buruh tani," jelasnya.

Pihak keluarga Paitun juga akan membantu menjual beberapa aset warisan untuk dijadikan uang saku Paitun di Makkah. Mereka berharap perjalanan Paitun bisa lancar dan sehat hingga kembali ke Indonesia.

3. Selama perjalanan haji, Paitun akan dititipkan ke ketua rombongan haji

ilustrasi haji (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi haji (IDN Times/Aditya Pratama)

Keberangkatan Paitun ke Makkah tidak akan didampingi oleh pihak keluarga, tapi Yuyun mengatakan jika bibinya akak dititipkan ke ketua rombongan sejak dari Surabaya hingga ke Arab Saudi. Memang Paitun sejauh ini belum pernah mengalami masalah kesehatan berat, tapi ia masih memiliki penyakit lambung maag.

"Jadi beliau perlu diingatkan dan didorong karena kadang itu tiba-tiba keluar. Pernah itu pagi mau manasik, beliau malah keluar nyari kayu, ya akhirnya saya tinggal ngantar anak sekolah dulu, baru setelah itu nyari bibi ngajak manasik," ungkap Tuyun.

Paitun juga perlu bimbingan selama menjalani ibadah, pasalnya ia tidak tahu doa-doa apa saja yang harus dibaca. Oleh karena itu, ia memerlukan pendamping dari ketua rombongan untuk dibimbing dalam membaca doa-doa.

"Nggak tau (doanya), ikut saja, kalau suruh baca ya baca. Semoga lancar dan dimudahkan," ucap Paitun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Faiz Nashrillah
EditorFaiz Nashrillah

Latest News Jawa Timur

See More

Harga Tiket Pesawat Makin Sultan, Bus Eksekutif Jadi Incaran

14 Jun 2026, 15:59 WIBNews