Gaya Koboi Wawali Armuji: Mengadvokasi Masalah Warga Lewat Medsos

Wakil Wali Kota Surabaya Armuji membuka Rumah Aspirasi tiap Selasa, menerima semua aduan warga, lalu melakukan sidak untuk kasus penting dan rumit.
Hasil sidak diunggah ke media sosial, yang memberinya jutaan pengikut dan pernah mencapai 44 juta penonton; publikasi ini dinilai mendorong pihak terkait cepat bertindak.
Armuji mengaku tidak harmonis dengan Wali Kota Eri Cahyadi, tetap menghadapi somasi atas konten, serta terpilih aklamasi sebagai Ketua Aswakada.
Surabaya, IDN Times - Setiap hari Selasa, suasana di Jalan Wali Kota Mustajab, Surabaya selalu tampak berbeda. Langkah-langkah kaki yang menyimpan beragam beban mendatangi sebuah bangunan yang kerap disebut Rumah Aspirasi. Di sana, Armuji atau yang akrab disapa Cak Ji, Wakil Wali Kota Surabaya, selalu bersiap menyambut siapa saja yang datang. Tak ada pintu yang tertutup. Seluruh aduan warga, mulai dari urusan sengketa hingga persoalan yang terkesan sepele, diterima dan didiskusikan.
Bagi Cak Ji, mendengarkan adalah bentuk pertolongan paling dasar. Warga yang telah mengorbankan waktu dan melangkah jauh kerap kali hanya butuh kepastian bahwa pemerintah benar-benar hadir untuk mereka. Jika aduan yang masuk tergolong rumit, Cak Ji tak segan turun langsung ke lapangan keesokan harinya melalui inspeksi mendadak (sidak). Langkah-langkah cepatnya di lapangan ini lantas mendokumentasikan fakta yang ada, lalu mempublikasikannya ke media sosial.
Saat ini, jumlah pengikut konten media sosialnya mencapai jutaan orang. Di TikTok saja, ia memiliki pengikut hingga 1,9 juta akun, belum lagi di Instagram, YouTube bahkan Threads. Jumlah penontonnya pernah tembus hingga 44 juta untuk satu konten video.
Itu lah cara dia membantu warga. Mendatangi, memediasi, dan melaporkan hasil kerjanya ke publik lewat media sosial. Kerja-kerja advokasi ini sudah dia lakukan semenjak dilantik sebagai Wakil Wali Kota Surabaya.
“Laporan apa saja yang datang ke sini selalu saya tindaklanjuti. Tindaklanjutnya kita muat di media sosial, apa saja laporannya kita terima dengan baik,” ujarnya saat wawancara khusus (Wansus) dengan IDN Times, di rumah dinasnya Senin (5/10/2026).
Baginya, mempersilakan warga untuk masuk ke Rumah Aspirasi dan menampung aduan, itu sudah sedikit membantu meringankan beban mereka. Bahwa dengan cara itu lah warga merasa diperhatikan. Terlebih bila aduan itu ditindaklanjuti dengan sidak, warga merasa pemerintah hadir untuk membantu.
“Orang datang ke sini sudah jauh. Rumahnya jauh-jauh. Menyempatkan waktu bolos kerja misalnya. Yang kedua dia juga pengen harapan untuk dikasih penjelasan. Mencarikan solusi. Loh mosok ditolak, Soal selesai atau tidak itu kan nanti berjalan. Tapi begitu mereka sudah kita terima dengan baik kita kasih penjelasan orang itu 50 persen terselesaikan adem atine wong,” ungkap dia.
Menurut Cak Ji, mengunggah hasil sidak cukup efektif membantu menyelesaikan masalah warga. Beberapa dari mereka takut sidak yang dilakukan Cak Ji viral dan berpengaruh terharap reputasi, sehingga mereka cepat-cepat menyelesaikan masalahnya.
Cak Ji sadar betul bahwa posisinya sebagai wakil kepala daerah tak cukup punya banyak ruang gerak untuk menentukan arah kebijakan. Untuk itu, dia mengambil porsi dengan membantu masalah warga yang selama ini dianggap remeh.
“Saya ini cuma wakil wali kota tidak punya kepentingan. Kalau wong Jowo ngomong awak karo sikil. Saya tidak bisa memutuskan suatu kebijakan. Makanya saya mempunyai inovasi gagasan tersendiri. Wis aku tak membantu warga daripada saya makan gaji buta,” ungkap Cak Ji.
Di sisi lain, soal hubungannya dengan kepala daerahnya, Eri Cahyadi, Cak Ji blak-blakan bahwa tidak ada harmonisasi antara dia dengan Eri. Menurutnya hal tersebut juga terjadi di mayoritas daerah di Indonesia.
“Saya ngomong jujur, sak Indonesia namanya kepala daerah baik bupati, wali kota, wes gak ono sing sinkron, apalagi kalau baru satu periode, Khawatir wakile nyalip mereka,” kata dia.
Sepak terjangnya selama 20 tahun di lembaga legislatif membuat Cak Ji memiliki naluri yang kuat terhadap permasalahan di akar rumput. Ia paham betul apa yang dibutuhkan masyarakat.
“Karena saya merasa bahwa menolong masyarakat itu adalah orang yang benar-benar tertinggal, orang yang tidak punya kemampuan, orang yang tidak punya uang. Kita mumpung punya suatu kesempatan duduk di lembaga eksekutif maupun di lembaga legislatif. Ya itu yang harus kita pergunakan sebagai amanah sesuai dengan sumpah janji kita,” terang dia,
Di balik kontennya yang selalu viral, ternyata Cak Ji tak memiliki konsultan politik. Ia melakukan semuanya sendiri dibantu beberapa editor dan peserta magang.
“Aku iki wong arsitek jadi tahu, misal ono laporan masuk, aku feeling tak sidak mesti viral, bener, anak-anak itu sebelum upload di-asistensi ke saya, oh iki ojo, iki sara gak boleh, tak koreksi-koreksi dewe,” ujarnya.
Meski memiliki jabatan yang cukup penting di Kota Surabaya, tak membuat Cak Ji terbebas dari berbagai masalah, termasuk hukum. Ia sudah berkali-kali mendapat somasi karena konten-kontennya. Semua itu ia hadapi sendiri.
“Saya gak mau take down, dan aku disomasi ping piro ae gak mau aku, ada tiga kali disomasi, kalau klarifikasi, ayo tak muat datang ke sini, kalau disuruh take down saya gak mau,” tuturnya.
Bahkan, ia pernah berkonflik dengan PT Pertamina saat masalah bensin oplosan sedang ramai. Tak gentar, ia pun menghadapi masalah itu. “Saya lapor ke DPP (PDI),” tuturnya.
Pernah juga, Cak Ji mendapat aduan soal pungutan liar (pungli) di lingkungan Pemkot Surabaya. Ia pun menindaklanjuti dengan membongkar dugaan tersebut. Cak Ji tak takut dianggap membakar rumah sendiri. “Itulah kelakuan sebenarnya orang-orang yang ada di dalam sana,” ucap politisi PDIP ini.
Cak Ji juga menyadari bahwa di balik konten-kontennya itu ada pro dan kontra. Berbagai tanggapan positif dan negatif memenuhi kolom komentar. Tapi ia membiarkan itu terjadi, yang negatif bakal dia jadikan masukan sebagai bahan perbaikan. “Orang berhak mengoreksi, ojo anti koreksi,” tuturnya.
Keberhasilan Cak Ji membangun media sosial ini ternyata membuat banyak wakil kepala daerah di Indonesia belajar darinya. Kepada mereka, Cak Ji selalu menekankan bahwa sebagai wakil yang paling penting adalah tak mengutak-atik kerja-kerja kepala daerah dan tidak bermain proyek.
“Gedekno media sosialmu, gak usah ngeriwuki kepala daerahmu, gak usah main proyek, lek pengen los kenceng, wes iku seng penting, kalah, kalah engkok karo dek’e, kan seremonial tok,” ungkapnya.
Bahkan, berkat ketenarannya sebagai wakil kepala daerah yang eksis bermedia sosial, Cak Ji pun dipercaya sebagai Ketua Asosiasi Wakil Kepala Daerah Indonesia (Aswakada) secara aklamasi. “Kabeh wes podo kenal karo aku,” pungkas dia.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)

















