Diterjang Cuaca Ekstrem, Kunjungan Wisata di Magetan Turun

Magetan, IDN Times – Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 di Magetan, Jawa Timur, terasa berbeda tahun ini. Cuaca ekstrem berupa angin kencang disertai hujan yang melanda sejumlah destinasi wisata utama, seperti Telaga Sarangan, Mojosemi Forest Park, Lawu Green Forest, dan Taman Wisata Genilangit, membuat kunjungan wisata menurun drastis. Penurunan jumlah pengunjung bahkan mencapai 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
1. Musim angin datang lebih cepat

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Magetan, Joko Trihono, mengungkapkan bahwa musim angin tahun ini datang lebih cepat dibandingkan biasanya. Kondisi ini berbeda dengan libur Nataru tahun lalu yang meski diguyur hujan, tidak disertai angin kencang.
"Cuaca ekstrem ini sangat berpengaruh. Penurunan kunjungan mencapai 20 hingga 30 persen. Contohnya hari Minggu ini, yang biasanya bisa menjual hingga 20 ribu tiket, sekarang hanya sekitar 11 ribu tiket terjual," ujar Joko, Minggu (29/12/2024).
Menurut Joko, fenomena angin kencang di Magetan terjadi dua kali dalam setahun, yaitu saat mongso pitu dan mongso songo. Saat ini, angin kencang bercampur hujan diperkirakan akan berlangsung selama 40 hari.
2. Berdampak pada pelaku wisata

Cuaca ekstrem ini juga berdampak pada pelaku usaha wisata, seperti perhotelan, rumah makan, toko oleh-oleh, wahana berkuda, hingga penyewaan perahu. Salah satu yang paling terdampak adalah operator perahu di Telaga Sarangan.
"Air telaga yang berombak membuat pengunjung takut untuk naik perahu. Penurunan omset kami mencapai 50 hingga 70 persen. Kadang dalam sehari hanya ada satu penyewa," kata salah seorang operator perahu.
Meski pihak penyewaan memastikan bahwa naik perahu tetap aman, sebagian besar wisatawan memilih untuk tidak mengambil risiko. "Hanya wisatawan yang benar-benar berani yang tetap naik," tambahnya.
3. Cuaca segera membaik

Para pelaku wisata di Magetan hanya bisa pasrah menghadapi kondisi ini. Mereka berharap cuaca segera membaik agar perekonomian sektor wisata bisa kembali normal, terlebih karena momentum libur panjang seperti ini biasanya menjadi masa panen bagi mereka.
"Fenomena alam seperti ini memang tidak bisa dilawan. Kami hanya bisa berharap cuaca bersahabat di sisa libur tiga hari ke depan," kata Nisan, salah satu pelaku usaha di Telaga Sarangan.



















