Magetan, IDN Times – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magetan, Jawa Timur, menemukan tujuh pelajar mengalami gangguan penglihatan berat atau low vision. Kondisi ini membuat mereka hanya mampu melihat objek dengan jelas pada jarak sekitar satu meter.
Temuan tersebut terungkap dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi pelajar. Pemeriksaan dilakukan terhadap sekitar 57 ribu siswa sepanjang 2025.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Magetan, dr. Renny Kurniawaty, mengatakan low vision menjadi salah satu temuan yang mendapat perhatian serius karena keterbatasan penglihatan yang dialami para pelajar tersebut.
“Low vision itu gangguan tajam penglihatan, di mana dia mampu melihat sekitar 1 meter. Padahal orang normal itu bisa sampai sekitar 40 meter. Ada tujuh anak,” ujar Renny, Minggu (30/8/2026).
Dari sekitar 57 ribu pelajar yang menjalani skrining, Dinkes Magetan menemukan 3.099 anak mengalami gangguan penglihatan. Sebanyak 2.461 pelajar di antaranya telah kembali ke puskesmas untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan tindak lanjut.
Gangguan yang ditemukan cukup beragam. Kasus gangguan refraksi menjadi yang paling dominan dengan jumlah sekitar 971 pelajar.
Selain itu, terdapat 27 pelajar yang memiliki tekanan bola mata yang mengarah pada gangguan glaukoma.
Renny mengatakan gangguan penglihatan pada anak sering kali tidak disadari oleh orang tua maupun guru.
Salah satu contohnya ketika anak mengalami kesulitan melihat tulisan di papan tulis. Mereka biasanya memilih maju atau mendekat agar tulisan terlihat jelas.
Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa anak membutuhkan pemeriksaan mata dan alat bantu penglihatan.
“Sering dianggap sepele karena memang tidak begitu disadari. Kalau tidak bisa melihat papan tulis dari jauh, mereka biasanya mendekat. Padahal mereka membutuhkan koreksi dengan alat bantu seperti kacamata,” jelasnya.
Menurut Renny, gangguan penglihatan yang tidak ditangani dapat mengganggu aktivitas anak, termasuk proses belajar di sekolah.
Dinkes Magetan mengaku telah melakukan sejumlah langkah untuk menangani pelajar yang teridentifikasi mengalami gangguan penglihatan.
Sebanyak 62 pelajar dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya melalui layanan BPJS Kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Sementara itu, 610 pelajar dari keluarga kurang mampu mendapatkan bantuan kacamata dari Yayasan Paramitra. Sedangkan pelajar dari keluarga mampu diarahkan menjalani pemeriksaan dan mendapatkan alat bantu penglihatan secara mandiri.
Renny mengakui faktor ekonomi masih menjadi salah satu kendala dalam penanganan. Sebagian keluarga kesulitan membiayai perjalanan ke rumah sakit maupun membeli kacamata untuk anak mereka.
Program skrining kesehatan pelajar di Magetan masih terus berlangsung. Dinkes menargetkan pemeriksaan dapat menjangkau seluruh siswa jenjang SD hingga SMA.
Total sasaran program tersebut mencapai sekitar 98 ribu pelajar. “Memang masih berproses dan belum selesai. Biasanya akhir tahun selesai karena jumlah sasaran cukup banyak,” pungkas Renny.
