Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Alumni PMII Soroti Konflik Internal NU, Gaungkan Misi Penyelamatan

Kab. Jombang
Alumni PMII Soroti Konflik Internal NU, Gaungkan Misi Penyelamatan
Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Cak Imin menyerukan penyelamatan NU melalui evaluasi terbuka di Muktamar ke-35, menyusul konflik, perebutan kepentingan, dan persoalan sumber daya yang dinilainya terjadi selama lima tahun terakhir.
  • Alumni PMII membedah buku berisi gagasan kepemimpinan dari 44 penulis, mendorong kaderisasi diterjemahkan menjadi kepemimpinan serta kebijakan yang berdampak bagi masyarakat.
  • Forum di Jombang juga membahas jejak politik alumni PMII dan nilai NU yang tumbuh dari keluarga, kampung, musala, pesantren, serta peran tokoh-tokoh lokal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jombang, IDN Times - Dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU) selama lima tahun terakhir menjadi sorotan dalam forum alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di tengah Muktamar ke-35 NU. Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin bahkan menyerukan perlunya upaya menyelamatkan NU dari persoalan yang dinilainya menggerus organisasi.

Pernyataan itu disampaikan Cak Imin saat menghadiri bedah buku Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan: Jejak Langkah Alumni PMII di Panggung Politik, Akademik, dan Kemasyarakatan di Salam Hall Denanyar, Jombang, Jumat (28/8/2026).

Cak Imin menilai forum Muktamar ke-35 NU semestinya menjadi momentum evaluasi terhadap perjalanan organisasi selama lima tahun terakhir. Ia meminta kader dan alumni PMII yang memiliki ruang dalam proses Muktamar tidak hanya menjadi penonton.

“Tema terbesar hari ini adalah menyelamatkan NU dari keterpurukan lima tahun terakhir,” ujarnya.

Cak Imin menegaskan, evaluasi perlu dilakukan secara terbuka dengan mengakui persoalan yang terjadi di internal NU. Ia menilai konflik dan perebutan kepentingan selama beberapa tahun terakhir telah berdampak terhadap hubungan antarstruktur organisasi.

“NU harus kita akui, jujur, terburuk. Kejujuran itu sebagai bagian dari konsekuensi untuk kita melakukan apa di dalam menolong keterpurukan itu,” katanya.

Cak Imin juga menyinggung berbagai konflik yang muncul di tubuh NU. Ia menyebut perselisihan, persoalan kepentingan, hingga perebutan sumber daya sebagai kondisi yang memprihatinkan.

“Perih lima tahun terakhir ini. Saya sebagai kader PMII, sebagai kader NU, melihat cakar-cakaran, rebutan uang di publik,” ucapnya.

Ia meminta pengalaman tersebut tidak kembali terulang. Menurutnya, Muktamar harus menjadi ruang untuk memperbaiki persoalan sekaligus menentukan arah organisasi ke depan.

Ketua Umum PB IKA PMII periode 2025-2030, Fathan Subchi, mengatakan buku yang dibedah dalam forum tersebut memuat tulisan hampir 100 alumni PMII dari berbagai latar belakang. Sebanyak 44 orang di antaranya turut menuangkan gagasan dalam buku.

Menurut Fathan, keberagaman pengalaman alumni dapat menjadi sumber perspektif dalam melihat masa depan NU dan bangsa. Ia mendorong agar proses kaderisasi tidak berhenti pada aktivitas organisasi, tetapi diterjemahkan menjadi kepemimpinan dan kebijakan yang berdampak kepada masyarakat.

“Kalau di Mesir kan, minal fikroh ilal harokah. Dari ideologi menuju gerakan. Saya kira kita bisa kembangkan, dari ideologi, dari ide, dari manifesto, dari gagasan menuju kepemimpinan,” ujar Fathan.

Sementara itu, Wakil Sekjen PB IKA PMII M. Sholeh Basyari mengatakan buku tersebut juga mencoba menawarkan perspektif mengenai kepemimpinan yang lahir dari tradisi pergerakan.

Ia menyebut dinamika politik dan ketegangan yang terjadi dalam lima tahun terakhir menjadi salah satu latar belakang lahirnya gagasan tersebut.

“Buku ini menyodorkan alternatif leadership yang kami tawarkan kepada publik Indonesia. Inilah kami, wahai Indonesia. Kami punya sistem kepemimpinan yang khas, berjenjang, dan memiliki karakter tersendiri,” katanya.

Namun, pembahasan dalam forum juga tidak lepas dari politik praktis. Sholeh mengaitkan perjalanan alumni PMII dan warga NU dengan sejumlah momentum politik nasional.

Ia menyebut 1999 ketika KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden, 2009 saat kekuatan politik berbasis warga NU disebut menguat, serta 2019 ketika KH Ma'ruf Amin terpilih sebagai Wakil Presiden sebagai bagian dari rangkaian yang menurutnya menarik untuk dicermati menuju 2029.

Sholeh bahkan mempertanyakan apakah pola tersebut akan kembali terjadi pada 2029. Ia kemudian menyebut Muhaimin sebagai salah satu tokoh yang menurutnya memiliki posisi sentral dalam kemungkinan tersebut.

“Pertanyaannya, apakah siklus sembilan tahunan yang sudah terjadi dan sukses mengantarkan hasil itu akan terulang lagi pada 2029? Kalau terulang seperti 1999, 2009, 2019 dan kelak 2029, tokoh sentralnya hanya satu, yakni Dr. Abdul Muhaimin Iskandar,” ujarnya.

Di sisi lain, Ketua Umum IKA Perempuan PMII Luluk Nur Hamidah membawa perspektif berbeda dalam forum tersebut. Melalui bukunya Ublek dan Oncor, ia mencoba melihat NU dari akar kehidupan masyarakat, bukan semata dari panggung politik maupun kekuasaan.

Menurut Luluk, nilai-nilai NU justru tumbuh dari ruang-ruang sederhana seperti keluarga, musala, kampung, pesantren, dan tempat mengaji. “NU itu saya mulai tidak dari sesuatu yang besar seperti hari ini, tetapi saya melihat NU dari sesuatu yang kecil, yang sangat intim, yang sangat tenang, dan sangat indah, yang itu digambarkan seperti Ublek,” katanya.

Ia menekankan peran ibu, nyai, nenek, kiai kampung, dan guru ngaji dalam pewarisan nilai keagamaan dan tradisi NU kepada generasi berikutnya. “Tidak dari panggung-panggung yang besar, panggung-panggung yang gemerlap, apalagi dari panggung-panggung kekuasaan,” tegasnya.

Forum tersebut dihadiri sejumlah alumni dan tokoh, di antaranya Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh, Ketua KPU RI Mochammad Afifuddin, Rektor UIN Walisongo Prof Musahadi, Ketua Umum IKA Perempuan PMII Luluk Nur Hamidah, serta anggota DPD RI Ahmad Nawardi sebagai moderator.

Pertemuan tersebut berlangsung di tengah Muktamar ke-35 NU yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, 27-31 Agustus 2026. Muktamar menjadi forum evaluasi kepengurusan sekaligus penentuan arah dan kepemimpinan NU untuk periode berikutnya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More