Saat Muktamirin NU Menginap di Gereja: Kisah Rumah Singgah Lintas Iman

- GKJW Jombang membuka rumah singgah bagi peserta Muktamar ke-35 NU pada 27-31 Agustus 2026, lengkap dengan matras, kamar mandi, dan ruang salat.
- Keterbukaan GKJW terhadap muktamirin NU berakar pada hubungan sosial historis warga Kristen dan NU di Jombang, termasuk kedekatan yang dikaitkan dengan Gus Dur.
- Inisiatif JANUR bersama GKJW, GKI, BAMAG, dan Klenteng Gudo menyediakan tiga rumah singgah gratis bagi 47 peserta dari beragam daerah dan latar belakang.
Jombang, IDN Times - Sejumlah kasur matras tertata di dalam ruangan berpendingin udara. Bantal dan fasilitas kamar mandi telah disiapkan. Di salah satu bagian ruangan, sebuah tempat khusus disediakan bagi tamu yang hendak menunaikan salat. Tidak ada yang istimewa dari fasilitas itu jika hanya dilihat sebagai tempat menginap. Namun, ada satu hal yang membuatnya berbeda, rumah singgah tersebut berada di lingkungan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Jombang.
Di tempat inilah sejumlah peserta Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) memilih beristirahat selama mengikuti rangkaian forum akbar NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU), Tambakberas, Jombang, 27-31 Agustus 2026.
Para tamu datang dari berbagai daerah. Ada pengurus NU, akademisi, peneliti, aktivis, hingga jurnalis. Mereka tidak hanya datang untuk mengikuti Muktamar, tetapi juga menjadi bagian dari cerita kecil tentang perjumpaan dua komunitas keagamaan yang berlangsung jauh dari panggung utama Muktamar.
Bagi Achmad Soleh, perwakilan anggota Majelis Jemaat GKJW Jombang yang akrab disapa Kung Soleh, menerima tamu Muktamar NU bukan sesuatu yang baru. GKJW Jombang pernah membuka pintunya bagi peserta Muktamar ketika forum yang sama digelar di Jombang pada 2015.
"Kita ada hubungan emosional dengan teman-teman Islam, dan khususnya NU, itu memang GKJW ada satu kedekatan," ujar Kung Soleh.
Kedekatan itu, menurut dia, memiliki akar sejarah yang cukup panjang. Salah satunya berada di Desa Bongsorejo, wilayah yang tidak jauh dari Pondok Pesantren Tebuireng. Sebelum Indonesia merdeka, mayoritas warga Bongsorejo merupakan jemaat GKJW.
Di tengah lingkungan yang juga menjadi salah satu basis penting tradisi pesantren, kehidupan masyarakat berlangsung berdampingan. Hubungan sosial antara warga GKJW dan warga NU terbangun melalui kehidupan sehari-hari.
Bagi Kung Soleh, hubungan tersebut menjadi bagian dari alasan mengapa gerejanya tidak merasa asing ketika harus menerima para muktamirin NU. Bahkan, sejarah kedekatan tersebut juga bersinggungan dengan sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kung Soleh menyebut tokoh yang dikenal sebagai Presiden keempat Indonesia itu pernah mengajar di lingkungan GKJW.
Rumah singgah yang dibuka pada Muktamar ke-35 NU tidak dipandang sekadar sebagai tempat menampung orang yang membutuhkan tempat tidur. Ada hubungan sosial yang telah terbangun jauh sebelum Muktamar berlangsung.
Salah satu orang yang merasakan langsung keterbukaan tersebut adalah Arhanuddin Salim. Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Manado sekaligus dosen IAIN Manado itu datang dari Sulawesi Utara untuk mengikuti Muktamar ke-35 NU.
Alih-alih mencari penginapan komersial, Arhan memilih tinggal di guest house GKJW Jombang. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ia memang sudah terbiasa berada dalam ruang perjumpaan lintas iman di Manado. "Saya penggiat lintas iman ya di Manado. Kebetulan kami juga ada jejaring lintas agama, lintas iman di Manado, jadi saya sudah biasa dengan gereja," kata Arhanuddin.
Karena pengalaman tersebut, ia tidak merasa canggung ketika harus menginap di lingkungan gereja. Justru sebaliknya. Sejak berkomunikasi hingga tiba di Jombang, ia mengaku mendapatkan sambutan yang membuatnya merasa diterima sebagai tamu. Hal kecil pun menurutnya memberi kesan tersendiri.
"Ada spanduk 'Selamat Datang' gitu. Itu luar biasa menurut saya," ucapya.
Bagi Arhan, fasilitas yang disediakan GKJW juga cukup membantu peserta yang datang dari daerah jauh. "Adanya fasilitas seperti ini menurut saya sangat membantu ya sebenarnya, bagi kami yang jauh dari Jombang, terutama yang dari Sulawesi," katanya.
Tidak hanya Arhan. Kung Soleh menyebut para tamu yang menginap datang dengan latar belakang yang beragam. Ada Wakil PCNU Manado, dosen dari Kebumen, kader Ansor, peneliti, hingga jurnalis dari Surabaya. Mereka datang dengan kepentingan masing-masing. Tetapi untuk beberapa hari, mereka berbagi ruang yang sama sebagai tamu di sebuah gereja.
Inisiatif tersebut tidak hanya dilakukan GKJW Jombang. Rumah singgah gratis itu merupakan bagian dari kolaborasi lintas iman yang digagas Jaringan NU Kultural (JANUR) Jombang bersama sejumlah gereja dan komunitas keagamaan setempat.
Selain GKJW Jombang, terdapat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jombang dan Badan Kerja Sama Antar Gereja (BAMAG) Jombang. Klenteng Gudo juga turut terlibat dalam gerakan tersebut.
Koordinator JANUR Jombang, Aan Anshori, mengatakan gerakan tersebut muncul dari keinginan untuk memberikan kontribusi nyata bagi peserta yang datang dari berbagai daerah. "Upaya ini merupakan bentuk kontribusi nyata komunitas gereja di Jombang untuk memberikan kemudahan bagi siapa saja yang berkehendak baik menyukseskan Muktamar NU ke-35," ujar Aan.
Hingga saat ini, berdasarkan data yang dihimpun JANUR Jombang, sebanyak 47 muktamirin telah menempati tiga rumah singgah gratis tersebut. Mereka berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, hingga Kalimantan Tengah.
Latar belakang mereka pun beragam. Mulai dari Banser, Muslimat, jurnalis, aktivis, hingga akademisi. Tiga lokasi yang digunakan sebagai rumah singgah yakni Guest House GKJW Jombang, Pastori GKI Jombang, serta Guest House BAMAG di Dusun Weru, Desa Mojongapit. Jumlah 47 orang itu mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan ribuan orang yang hadir dalam Muktamar.
Namun, bagi para penggagasnya, yang penting bukan semata jumlah orang yang ditampung. Ada pesan yang ingin disampaikan melalui pintu yang dibuka tersebut. Bahwa perbedaan identitas keagamaan tidak selalu harus berujung pada jarak sosial.

















