Datang ke UB, Anies Baswedan Bicara Masalah Tata Kota di Indonesia

- Anies Baswedan menyoroti lemahnya rujukan dalam tata kota Indonesia dan mengusulkan pembentukan badan khusus serta forum berbagi praktik terbaik antar daerah.
- Ia menyebut Jakarta sebagai cerminan kesenjangan sosial ekstrem di Indonesia, dengan kemiskinan dan kekayaan yang berdampingan sangat dekat secara geografis.
- Saat memimpin Jakarta, Anies menerapkan prinsip keadilan sosial dalam kebijakan tata kota, termasuk pembangunan trotoar luas agar ruang publik lebih inklusif bagi pejalan kaki.
Malang, IDN Times - Mantan Gubernur Jakarta, Anies Baswedan mengunjungi Universitas Brawijaya (UB) pada Selasa (10/3/2026) untuk menjadi narasumber Bincang Pleno tentang Menavigasi Perencanaan Perkotaan Menuju Keadilan Ruang dan Sosial di Tengah Krisis dan Ketidakpastian. Di sana ia berbicara soal masalah tata kota di Indonesia.
1. Anies menilai tata kota di Indonesia tidak memiliki rujukan yang pasti

Anies menyampaikan kalau ada begitu banyak persoalan perkotaan di Indonesia, menurutnya ini disebabkan pengelola perkotaan tidak memiliki rujukan ke mana harus membawa kotanya dan pada siapa pengalaman bisa diambil. Ia berpendapat harusnya ada badan yang khusus mengurus tata perkotaan.
"Memimpin desa ada rujukan dari pemerintah, maka dari itu ada Kementerian Desa, desa mandiri seperti apa atau perbaikan seperti apa. Maka dari itu apa praktik-praktik yang kita lakukan di Jakarta didokumentasi dijadikan referensi, terobosan-terobosan di berbagai negara kita kumpulkan juga sebagai referensi, begitu juga terobosan di berbagai wilayah di Indonesia juga kita jadikan referensi. Sehingga nanti jadi tempat bertemakan berbagi macam gagasan," terangnya.
Anies berpendapat harusnya ada workshop dengan berbagai kepala daerah tentang bagaimana memimpin sebuah daerah atau mengelola kota. Karena menurutnya, mengelola kota lebih rumit dari properti manajer atau real estate manajer.
2. Menurut Anies, Jakarta adalah wajah kesenjangan sosial Indonesia

Dalam kesempatan yang sama, Anies mengungkapkan jika saat ia maju sebagai Calon Gubernur Jakarta pada tahun 2017, ia melihat Jakarta adalah wajah kesenjangan sosial di Indonesia. Pasalnya ia melihat kemiskinan ekstrem ada di Jakarta dan kekayaan paling ekstrem juga ada di Jakarta.
"Ekstrimnya rumah-rumah yang sangat besar dan ekstrimnya yang tidak punya ruang. Kampung yang super padat tidak ada 2 kilometer dari Monas, ada rumah-rumah yang tidak memiliki MCK karena MCKnya satu kampung berkelompok. Oleh karena itu ketika kami akhirnya diberikan tugas untuk memimpin Jakarta, masalah ini yang kami entaskan," bebernya.
"Kalau saya memimpin 20 orang, maka saya akan memberikan tugas masing-masing. Tapi kalau saya memimpin 2 ribu orang maka saya akan bikin struktur organisasi. Ada struktur, ada jobdesk, dan ada KPI. Tapi kalau saya memimpin suatu provinsi dengan 11 juta penduduk maka saya gak bisa pakai tugas atau struktur organisasi, tapi saya harus memimpin dengan nilai atau value. Karena diterjemahkan sebagai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Jakarta," sambungnya.
3. Begini cara Anies Baswedan menerapkan prinsip keadilan pada tata kota di Jakarta

Lebih lanjut, Anies bercerai terkait hari pertamamya memimpin Jakarta, ia mengumpulkan para kepala dinas untuk membicarakan prinsip keadilan di tiap-tiap dinas. Menurutnya, Dinas Bina Marga yang paling kesulitan menerjemahkan bagaimana keadilan di dinasnya.
"Salah satu kepala dinas berpikir berat bagaimana mewujudkan keadilan di dinas kami ya, itu dinas Bina Marga. Kalau rumah sakit atau sekolah itu cepat sekali menerjemahkan keadilan. Terus muncul pertanyaan apakah jalan yang bapak/ibu bangun sudah untuk semuanya? Perasaan saya kok belum," paparnya.
Anies mengungkapkan jika jalan-jalan di Jakarta sata itu tidak adil untuk para pejalan kaki, padahal menurutnya tidak semua orang Jakarta memiliki kendaraan tapi semua warga Jakarta memiliki alat transportasi berupa kaki. "Lalu pertanyaannya lagi apakah bina marga sudah membangun jalan untuk kaki atau hanya untuk roda? Karena itulah Jalan Jenderal Sudirman memilih trotoar yang sangat luas, Kemang, dan Singkili," pungkasnya.

















