Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dari Rumah Prostitusi Menjadi Rumah Harapan
Eko Prasetyo, alumnus Kimia Universitas Airlangga (Unair) angkatan 2002
  • Bangunan bekas rumah prostitusi di kawasan Njarak-Dolly Surabaya kini berubah menjadi Masjid Kampoeng Njarak, pusat ibadah dan pemberdayaan masyarakat yang menumbuhkan semangat kebersamaan warga.
  • Eko Prasetyo, alumnus Kimia Unair, menjadi penggerak utama transformasi ini dengan menerapkan pola pikir ilmiah dan kolaboratif dalam merancang program sosial serta ekonomi bagi warga sekitar.
  • Masjid Kampoeng Njarak kini menjadi simbol perubahan positif bahwa tempat dengan masa lalu kelam dapat bertransformasi menjadi ruang harapan melalui niat, kerja sama, dan kepedulian bersama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Di sebuah gang di kawasan eks lokalisasi Njarak-Dolly, Surabaya, berdiri sebuah masjid yang mungkin tak pernah dibayangkan keberadaannya beberapa tahun lalu. Bangunan itu dulunya merupakan rumah prostitusi terakhir yang masih bertahan di kawasan tersebut. Kini, tempat itu berubah menjadi pusat ibadah sekaligus pemberdayaan masyarakat bernama Masjid Kampoeng Njarak.

Di balik transformasi tersebut ada sosok Eko Prasetyo, alumnus Kimia Universitas Airlangga (Unair) angkatan 2002. Baginya, perubahan yang terjadi bukan sekadar pergantian fungsi bangunan, melainkan perubahan makna dan harapan bagi warga sekitar.

Dari ruang yang dulu identik dengan praktik prostitusi, kini setiap hari terdengar lantunan ayat suci, kegiatan mengaji ibu-ibu, hingga aktivitas sosial yang melibatkan masyarakat sekitar. Masjid Kampoeng Njarak tumbuh menjadi ruang bersama yang menghubungkan warga dalam semangat kebersamaan dan kepedulian.

"Masjid ini kami harapkan menjadi tempat yang menghidupkan nilai kebersamaan dan kepedulian," ujar Eko.

Harapan itu tidak berhenti pada fungsi ibadah. Masjid Kampoeng Njarak juga menjadi pusat berbagai program pemberdayaan masyarakat. Mulai dari santunan untuk warga yang membutuhkan, kegiatan sosial kemasyarakatan, hingga program penguatan ekonomi bagi warga sekitar.

Bagi Eko, perubahan sosial tidak bisa dibangun sendirian. Karena itu, ia aktif mengajak berbagai pihak untuk terlibat sebagai donatur dan mitra program. Dukungan tersebut menjadi energi yang menjaga keberlanjutan berbagai kegiatan yang dijalankan masjid.

"Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat bisa tumbuh bersama dan merasakan manfaatnya secara langsung," katanya.

Menariknya, perjalanan Eko sebagai penggerak perubahan sosial justru berakar dari dunia yang tampaknya jauh berbeda, yakni ilmu kimia.Ia mengaku pendidikan yang ditempuh di Fakultas Sains dan Teknologi Unair telah membentuk cara berpikirnya secara sistematis dan terstruktur. Berbagai mata kuliah kimia mengajarkannya untuk melihat persoalan secara runtut, mencari akar masalah, lalu menyusun solusi yang tepat.

Pola pikir itu kemudian ia terapkan saat merancang program-program pemberdayaan masyarakat di Kampoeng Njarak. Baginya, membangun perubahan sosial juga membutuhkan proses yang terukur layaknya sebuah eksperimen ilmiah.

Selain bekal akademik, pengalaman berorganisasi saat menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Kimia turut membentuk kemampuan kepemimpinannya. Dari sana ia belajar membangun komunikasi, menggerakkan orang lain, hingga menciptakan kolaborasi yang kini menjadi modal penting dalam menjalankan berbagai program sosial.

Perjalanan mengubah rumah prostitusi menjadi masjid sekaligus pusat pemberdayaan masyarakat menjadi bukti bahwa perubahan besar sering kali lahir dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Di tengah berbagai tantangan sosial perkotaan, Masjid Kampoeng Njarak kini menjadi simbol bahwa sebuah tempat tidak selamanya ditentukan oleh masa lalunya. Dengan niat, kerja sama, dan kepedulian, ruang yang dulu menyimpan stigma dapat berubah menjadi ruang yang menumbuhkan harapan.

Jika diberi kesempatan kembali ke masa kuliah, Eko mengaku ada satu hal yang ingin lebih banyak ia lakukan, memperluas silaturahmi. Menurutnya, jejaring pertemanan dan kolaborasi merupakan modal penting untuk menghadirkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. Karena pada akhirnya, perubahan tidak pernah lahir dari kerja seorang diri.

Pesan itulah yang kini terus ia bagikan kepada mahasiswa Kimia Unair dan generasi muda lainnya, manfaatkan ilmu, potensi, dan kesempatan yang dimiliki untuk menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitar. Sebab, seperti yang terjadi di Kampoeng Njarak, perubahan besar bisa dimulai dari satu langkah kecil yang berani diambil.

Editorial Team

Related Article