Dari 20 hingga 56 Tahun, Wisuda Ubhara Penuh Kisah Inspiratif

- Sebanyak 207 wisudawan Ubhara Surabaya diwisuda, termasuk Lusy Sukmawati berusia 56 tahun dan Yunda Kartika Dewo berusia 20 tahun yang sama-sama meraih gelar Sarjana Hukum.
- Lusy membuktikan semangat belajar tanpa batas usia dengan menyeimbangkan pekerjaan di bidang kesehatan, keluarga, dan studi hukum yang relevan dengan profesinya.
- Rektor dan pejabat kepolisian menekankan pentingnya integritas, adaptasi teknologi, serta peran lulusan sebagai agen perubahan dan pemecah masalah di tengah tantangan global.
Surabaya, IDN Times - Sebanyak 207 wisudawan Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya diwisuda pada Rabu (17/6/2026). Ada mahasiswa tertua dan termuda. Ialah Lusy Sukmawati yang menyandang gelar Sarjana Hukum pada usia 56 tahun dan Yunda Kartika Dewo yang juga Sarjana Hukum di usia 20 tahun.
Bagi Lusy, usia bukanlah penghalang untuk terus belajar. Bahkan, di tengah kesibukannya bekerja di bidang kesehatan selama 15 tahun terakhir dan menempuh pendidikan magister, ia tetap menyelesaikan studi S1 Ilmu Hukum dengan penuh semangat.
"Saya ingin terus berkembang dan bisa memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Setelah ini saya akan terus mengabdi, terutama di bidang kesehatan yang selama ini saya tekuni," ungkapnya usai wisuda.
Lusy mengungkapkan, keputusannya mengambil program studi Ilmu Hukum didorong oleh pekerjaannya di bidang manajemen layanan kesehatan. Menurutnya, aspek hukum sangat penting dalam operasional rumah sakit maupun klinik sehingga ilmu yang diperolehnya dapat membantu melindungi tenaga kesehatan dan institusi tempatnya bekerja.
"Saya bekerja di bidang kesehatan dan sangat dekat dengan persoalan hukum. Ilmu ini sangat berguna untuk mendukung dokter maupun karyawan dalam menjalankan tugasnya," katanya.
Tak berhenti di situ, saat ini Lusy juga sedang menempuh pendidikan magister yang ditargetkan selesai pada akhir tahun ini.
Di tengah perkuliahannya, Lusy harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan pendidikan. Namun, keberadaannya di ruang kuliah justru menjadi penyemangat bagi mahasiswa yang sebagian besar berasal dari generasi yang jauh lebih muda.
"Saya sering menyemangati teman-teman. Saya bilang, saya saja masih kuat dan semangat, masa kalian tidak. Bahkan kadang mereka yang bertanya atau berdiskusi dengan saya soal tugas," tuturnya sambil tersenyum.
Untuk tugas akhirnya, Lusy tetap mengangkat tema yang berkaitan dengan bidang kesehatan. Ia meneliti aspek hukum dalam penyelenggaraan layanan kesehatan di rumah sakit dan klinik.
Dukungan keluarga menjadi salah satu faktor yang membuatnya mampu menyelesaikan studi. Menurutnya, keluarga memberikan dorongan penuh selama proses perkuliahan berlangsung. Saat ini Lusy bertugas di manajemen sebuah klinik rehabilitasi medik di Surabaya. Ia berharap ilmu hukum yang diperolehnya dapat semakin memperkuat kontribusinya dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
"Saya akan terus berjuang dan berusaha menjadi lebih baik. Belajar tidak mengenal usia," katanya.
Sementara salah seorang wisudawan Magister Hukum Ubhara, Andrie Gunawar Setiyono, mengaku bersyukur dapat menyelesaikan studinya. Ia menilai pengalaman selama menempuh pendidikan di Ubhara memberinya banyak ilmu, wawasan, dan jaringan yang bermanfaat.
"Saya optimistis ilmu dan gelar yang saya peroleh akan bermanfaat bagi masyarakat. Pengalaman kuliah di Ubhara sangat berkesan dan saya merekomendasikan kampus ini bagi siapa pun yang ingin melanjutkan studi," tuturnya.
Dalam wisuda ini, Rektor Ubhara Surabaya, Irjen Pol (Purn) Anton Setiadji, mengatakan seluruh wisudawan yang dikukuhkan telah memenuhi seluruh persyaratan akademik dan administrasi nasional. Data kelulusan mereka juga telah dilaporkan kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sehingga memperoleh penomoran ijazah dan PIN sebagai bukti legalitas lulusan.
"Sebanyak 207 wisudawan yang dinyatakan lulus merupakan bentuk tanggung jawab Ubhara Surabaya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kelulusan mereka tidak hanya berdasarkan kriteria akademik, tetapi juga telah melalui pelaporan ke kementerian sehingga memperoleh PIN dan penomoran resmi," ujar Anton.
Memasuki usia ke-44 tahun pada 2026, Anton menegaskan Ubhara Surabaya terus menghadirkan berbagai inovasi dalam pengembangan pendidikan tinggi. Selama 16 tahun terakhir, kampus tersebut juga konsisten menghasilkan berbagai capaian sebagai bagian dari peningkatan kualitas pendidikan.
Kepada para lulusan, Anton berpesan agar tidak cepat berpuas diri setelah meraih gelar sarjana maupun magister. Menurutnya, tantangan yang sesungguhnya baru dimulai ketika kembali ke tengah masyarakat.
"Jangan berpuas diri. Teruslah meningkatkan kemampuan, tetap rendah hati, hindari sikap angkuh, dan tingkatkan daya saing, baik untuk memasuki dunia kerja maupun menciptakan lapangan pekerjaan," katanya.
Ia juga mengingatkan para alumni agar selalu menjaga nama baik pribadi maupun almamater dalam setiap langkah pengabdian kepada masyarakat.
Sementara itu, Wakapolda Jatim, Brigjen Pol Pasma Royce menyebut gelar akademik yang diraih para wisudawan merupakan anugerah yang harus disyukuri sekaligus menjadi amanah untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Menurutnya, situasi geopolitik global saat ini berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi dan stabilitas sosial di Indonesia. Karena itu, lulusan perguruan tinggi dituntut tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga mampu menghadirkan solusi.
"Saudara tidak boleh hanya menjadi pemerhati. Jadilah pemecah masalah di tengah berbagai tantangan dan krisis global," katanya.
Ia juga mengajak para lulusan mendukung semangat Jogo Jatim dalam menjaga kondusivitas wilayah. Stabilitas keamanan, kata dia, menjadi modal penting untuk menciptakan iklim investasi dan mewujudkan Jatim sebagai gerbang baru Nusantara.
Selain itu, Pasma berpesan agar lulusan Ubhara adaptif terhadap perkembangan teknologi, menjadi benteng masyarakat dalam menangkal hoaks dan polarisasi, menjaga integritas, menjunjung supremasi hukum, serta berperan sebagai katalisator pembangunan.
Senada, Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jatim, Dyah Sawitri, menilai wisudawan merupakan agen perubahan yang harus mampu membaca peluang baru di tengah perubahan zaman.
"Era sekarang adalah era komunikasi dan kolaborasi. Tidak ada lagi yang bisa bekerja sendiri. Jadilah agen perubahan yang mampu memberikan multiplier effect bagi masyarakat," pungkasnya.















