Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Lewati Tenggat, Selama Dua Pekan Ada Hampir 5000 Kasus Baru di Jatim
ilustrasi infeksi virus corona COVID-19 (IDN Times/Mardya Shakti)

Surabaya, IDN Times - Hari ini adalah tenggat yang diberikan oleh Presiden Joko Widodo kepada Pemerintah Provinsi Jatim untuk menurunkan kasus. Tenggat itu sendiri diberikan Jokowi saat mengunjungi Grahadi Kamis, (25/7/2020) lalu.

"Saya minta dalam waktu dua minggu pengendaliannya betul-betul kita lakukan sama-sama dan terintegrasi dari semua unit, baik itu Gugus Tugas provinsi, kota, dan kabupaten seterusnya sampai ke rumah sakit kampung, desa, semuanya," kata Jokowi saat itu.

Namun, tenggat itu dipastikan tak tercapai. Bukannya turun, angka kasus di Jawa Timur malah naik. Bahkan, dalam dua pekan ada hampir 5000 kasus COVID-19 baru.

1. Khofifah sebut secara persentase angka kesembuhan jadi yang tertinggi

Gubenur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat menerima kunjungan Joko Widodo, Kamis (25/6). Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Kepresidenan

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa pun angkat bicara soal jatuh tempo target yang diberikan Jokowi. Ia menyebut jika angka kesembuhan pasien COVID-19 selama dua pekan terus membaik. Saat ini, ia mengatakan bahwa ada 37,34 persen pasien positif di Jatim yang sudah sembuh.

"Upaya mengendalikan pandemi COVID-19 di Jawa Timur mulai membuahkan hasil signifikan," ujar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, seperti dikutip dari Antara, Kamis, (9/7/2020).

Khofifah mengatakan, secara persentase, angka kesembuhan kasus COVID-19 juga menjadi capaian tertinggi selama dua bulan terakhir. "Dengan kesembuhan kasus yang terus bertambah ini semoga ke depan semakin banyak warga Jatim yang terkonversi negatif dari COVID-19," ucapnya.

Selain itu, lanjut dia, dalam waktu sama jumlah kematian diharapkan akan terus menurun.

"Kami optimistis dengan tingginya angka kesembuhan ini maka Jatim bisa segera melalui masa darurat pandemik, sesuai instruksi dari Presiden Jokowi," katanya.

2. Jumlah pasien positif justru bertambah hampir 5000 kasus dalam dua pekan

Rapat Terbatas Percepatan Pembangunan PSN Jalan Tol Trans Sumatra dan Tol Cisumdawu pada Senin, (7/7/2020) (Dok. IDN Times/Biro Pers Kepresidenan)

Meski angka kesembuhan diklaim menjadi yang tertinggi, namun data pasien COVID-19 berkata lain. Sejak mendapat tenggat dari Jokowi, angkanya bukannya turun tapi malah naik. Di hari kunjungan Jokowi, angka pasien COVID-19 di Jatim tercatat sebanyak 10.532.

Selama dua pekan, jumlah pasien positif justru bertambah. Berdasarkan data terakhir dari Gugus Tugas Nasional, pada Kamis (9/7/2020) ada tambahan 517 dalam sehari. Angka itu membuat jumlah kasus di Jatim saat ini mencapai 15.458 atau naik 4926 kasus. Atau per hari rata-rata ada 351 pasien baru.

Kepada Jokowi dua pekan lalu, Khofifah sempat membeberkan tentang sebab masih tingginya angka COVID-19 di Jatim. Salah satu penyebab utamanya adalah tingkat kepatuhan masyarakatnya untuk menerapkan protokol kesehatan yang masih rendah. Selain tak mengenakan masker, angka masyarakat yang menerapkan physical distancing pun masih kecil.

3. Tingkat penularan (Rt) sudah turun tapi belum stabil

Ilustrasi virus corona (IDN Times/Rochmanudin)

Meski kasus positif COVID-19masih tinggi, ternyata rate of transmission (Rt) atau tingkat penularan di Jatim sudah di bawah 1 selama 30 Juni - 3 Juli 2020. Angka ini belum stabil, karena masih bisa terbaca empat hari. Padahal standar badan kesehatan dunia (WHO) dan Bappenas, wabah dinilai melemah ketika Rt di bawah 1 bertahan selama 14 hari.

"Nilainya Jatim sudah kecil. (Tapi) belum stabil, masih 4 hari. Terakhir 0,7," jelas Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) dr. Windhu Purnomo, Rabu (8/7/2020).

4. Terapkan jam malam hingga razia restoran

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat patroli protokol kesehatan di Kecamatan Tandes, Selasa (7/7/2020) petang. Dok Humas Pemkot Surabaya

Masih tingginya angka COVID-19 membuat pemprov dan pemerintah daerah terus melakukan tindakan pencegahan. Di Surabaya misalnya, pemerintah setempat menerapkan jam malam. Selain itu, mereka juga menggelar razia massif di berbagai tempat seperti restoran untuk memastikan warga menerapkan protokol kesehatan.

Editorial Team

Related Article