Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bediding Melanda Jatim, Dokter Bongkar Mitos Udara Dingin Penyebab Flu
ilustrasi bediding (pexels.com/Pavel Danilyuk)
  • Fenomena bediding di Jawa Timur disebabkan oleh Angin Monsun Australia yang membawa udara kering dan langit cerah, membuat suhu malam hingga dini hari terasa lebih dingin.
  • dr. Octavianus Eka Saputra menegaskan bahwa flu bukan akibat udara dingin, melainkan infeksi virus; suhu dingin hanya melemahkan pertahanan alami saluran napas sehingga virus mudah menyerang.
  • Kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis disarankan menjaga daya tahan tubuh dengan pakaian hangat, asupan gizi cukup, olahraga ringan, serta istirahat memadai selama musim bediding.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Fenomena bediding atau udara dingin yang belakangan melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur (Jatim) memicu berbagai anggapan di masyarakat, termasuk anggapan bahwa suhu dingin menjadi penyebab flu dan masuk angin.

Dokter spesialis anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, dr. Octavianus Eka Saputra, Sp.A., meluruskan anggapan tersebut dan mengingatkan masyarakat agar lebih mewaspadai dampak perubahan suhu terhadap daya tahan tubuh.

Menurut dokter yang akrab disapa dr. Eka itu, flu bukan disebabkan oleh udara dingin, melainkan infeksi virus. Namun, suhu dingin dan udara yang lebih kering saat fenomena bediding dapat membuat sistem pertahanan alami saluran pernapasan menurun sehingga virus lebih mudah menginfeksi tubuh. "Faktanya, flu disebabkan oleh virus, bukan oleh suhu udara. Namun udara dingin dan kering ini bisa membuat lapisan lendir pelindung di saluran napas mengering. Akibatnya, pertahanan alami tubuh melemah dan virus menjadi lebih mudah masuk," ujarnya, Selasa (21/7/2026).

dr. Eka menjelaskan, kelompok yang paling rentan terdampak adalah bayi, anak-anak, lansia, serta penderita penyakit kronis seperti asma, hipertensi, dan penyakit jantung. Selain meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, suhu dingin juga memicu penyempitan pembuluh darah di permukaan kulit sebagai respons alami tubuh untuk mempertahankan suhu.

Kondisi tersebut, lanjut dr. Eka, dapat menyebabkan tekanan darah meningkat secara tiba-tiba sehingga penderita hipertensi maupun penyakit jantung perlu lebih waspada selama musim bediding berlangsung.

"Penyempitan pembuluh darah ini dapat meningkatkan tekanan darah secara tiba-tiba. Oleh karena itu, penderita hipertensi dan gangguan jantung harus jauh lebih waspada selama fenomena ini berlangsung," katanya.

Berdasarkan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena bediding dipicu oleh hembusan Angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering, ditambah kondisi langit cerah saat musim kemarau sehingga panas bumi lebih cepat terlepas pada malam hingga dini hari.

Fenomena tahunan ini umumnya mencapai puncak pada Juli hingga Agustus dan dapat berlangsung hingga September.

Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama bediding, dr. Eka membagikan sejumlah langkah sederhana yang dapat diterapkan masyarakat. Mulai dari mengenakan pakaian hangat berlapis, menjaga kecukupan cairan dan nutrisi, rutin mencuci tangan, tetap aktif berolahraga dan beristirahat cukup, hingga segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi, sesak napas, lemas, atau menolak makan dan minum.

Ia menegaskan, masyarakat tidak perlu panik menghadapi fenomena bediding karena merupakan siklus alam yang terjadi setiap tahun. Yang terpenting adalah menjaga daya tahan tubuh dan menerapkan pola hidup sehat agar risiko penyakit dapat diminimalkan.

"Bediding adalah dinamika alam yang wajar. Bagian terpenting adalah bukan mencemaskan udara dinginnya, melainkan bagaimana kita menjaga daya tahan tubuh dan menerapkan pola hidup sehat untuk melindungi diri dan keluarga," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article