Kemarau, 9.000 Jiwa di Magetan Kesulitan Air Bersih

Andalkan pasokan dari distribusi BPBD

MAGETAN, IDN Times – Krisis air bersih terjadi di Kabupaten Magetan, Jawa Timur pada musim kemarau ini. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat lebih dari 9.000 jiwa terkena dampaknya selama tiga bulan terakhir. Mereka merupakan warga Desa Kuwon, Kecamatan Karas, dan Desa Sayutan, Kecamatan Parang.

Mereka mengandalkan droping air bersih dari BPBD Magetan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Sumur maupun aliran sungai di sekitar permukiman telah kering kerontang.

1. Droping air bersih setiap 2 hari sekali masih kurang

Kemarau, 9.000 Jiwa di Magetan Kesulitan Air BersihIDN Media/Nofika Dian Nugroho

Marjuki, salah seorang warga Dusun Sumber Meneng, Desa Kuwon, Kecamatan Karas mengungkapan pemenuhan air bersih dari distribusi oleh BPBD belum dapat memenuhi kebutuhan warga. Air dengan kapasitas 6.000 liter yang diangkut satu unit truk tangki setiap dua hari sekali tidak cukup untuk memasak, mandi, dan mencuci pakaian.

“Pengirimannya masih kurang. Sebaiknya, droping dilakukan sehari sekali,’’ kata dia, Jumat (12/10).

2. BPBD akui droping air bersih terkendala armada

Kemarau, 9.000 Jiwa di Magetan Kesulitan Air BersihIDN Times/Nofika Dian Nugroho

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Magetan, Fery Yoga Saputra, tidak menampik tentang masih kurangnya distribusi ke lokasi yang mengalami krisis air bersih. Kondisi itu akibat minimnya jumlah armada truk tangki dengan kapasitas 6.000 liter yang hanya berjumlah satu unit.

Armada itu harus memasok air bersih di dua wilayah kecamatan secara bergiliran. Karena itu, proses pendistribusian hanya dapat dijalankan dua hari sekali di masing-masing titik krisis air bersih. “Untuk menambah droping, kami berusaha berkoordinasi dengan pihak terkait yang memiliki armada truk tangki,’’ ujar Fery.

Namun, ia menuturkan, upaya itu tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Hasil koordinasi dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Magetan, misalnya, diketahui lebih fokus pada pelayanan pelanggan. “Sedangkan dua desa yang mengalami krisis air bersih paling parah tidak terjangkau jaringan PDAM,’’ tutur Fery.

3. 600 ribu liter air bersih didistribusikan selama 3 bulan terakhir

Kemarau, 9.000 Jiwa di Magetan Kesulitan Air BersihIDN Times/Nofika Dian Nugroho

Meski dengan keterbatasan jumlah armada, pihak BPBD tetap berusaha mendistribusikan air bersih. Satu unit truk tangki terpaksa dijalankan ke lokasi kekeringan secara bergiliran. Selama tiga bulan terakhir, Fery mengatakan, pasokan air yang telah dikirim lebih dari 600 ribu liter.

Jumlah pendistribusian itu diprediksi bakal terus bertambah. Sebab, sesuai rilis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang diterima BPBD setempat, hujan mulai mengguyur wilayah Magetan pada November mendatang. “Pastinya lokasi yang mengalami krisis air bersih akan lebih meluas,’’ kata Fery.

4. Anggaran droping air bersih sebanyak Rp 9 juta

Kemarau, 9.000 Jiwa di Magetan Kesulitan Air BersihIDN Times/Nofika Dian Nugroho

Fery mengungkapkan alokasi anggaran untuk mensuplai air bersih di lokasi krisis sebanyak Rp 9 juta. Duit sebanyak itu sudah termasuk penambahan dari perubahan APBD 2018. “Untuk anggaran tahun depan akan kami kaji kembali. Kalau dinilai kurang maka akan diajukan penambahannya,’’ kata dia.

Topik:

  • Edwin Fajerial

Berita Terkini Lainnya