Glow In The Dark: Saat 1.300 Penari Gandrung Sewu Banyuwangi Bercahaya

- Gandrung Sewu 2026 di Pantai Boom Marina Banyuwangi untuk pertama kalinya digelar malam hari, menampilkan 1.300 penari dengan riasan glow in the dark bertema Kembang Dermo.
- Pertunjukan diawali atraksi drone dan memadukan tari Gandrung, tata cahaya, serta teknologi; penari tampil sekitar satu jam dengan kostum merah-kuning keemasan, sampur, dan kipas.
- Festival yang memasuki penyelenggaraan ke-14 ini menekankan regenerasi pelestari budaya; tantangan utama penari adalah menyamakan gerakan setelah latihan gabungan yang terbatas.
Banyuwangi, IDN Times - Malam itu, tepi Pantai Boom Marina, Kabupaten Banyuwangi, dipadati lautan manusia. Mereka datang untuk menyaksikan Gandrung Sewu 2026 yang tampil dengan konsep berbeda.
Untuk pertama kalinya, pertunjukan digelar malam hari dengan tema Kembang Dermo. Sebanyak 1.300 penari Gandrung tampil elok dengan riasan glow in the dark, berlatar hamparan Selat Bali.
Sebelum para penari tampil, pertunjukan drone lebih dulu mengisi langit Pantai Boom Marina. Rangkaian cahaya di udara membentuk berbagai formasi: penari, kipas, peta Banyuwangi, hingga tulisan Gandrung Sewu.
Begitu lampu dipadamkan, giliran 1.300 penari unjuk kebolehan. Riasan fosfor di tubuh para penari berpendar dengan cahaya neon, seakan ikut menari bersama mereka yang berlenggak-lenggok di bawah sinar rembulan.
Tak lama, lampu kembali menyala. Neon yang tadi berpendar berganti menjadi kilau kostum merah dan kuning keemasan, lengkap dengan mahkota (omprog) yang menjulang anggun di kepala penari Gandrung.
Sekitar satu jam lamanya, barisan penari bergerak kompak di atas lautan pasir pantai. Gerakan mereka mengikuti alunan musik dari satu sisi arena ke sisi lain, sebelum ditutup lewat permainan sampur dan kipas yang luwes.
Kekompakan para penari dan riasan glow in the dark sukses memukau penonton yang hadir. Sepanjang pertunjukan, ponsel-ponsel terangkat nyaris tanpa jeda, seakan tak mau ketinggalan merekam momen.
"Keren sekali," ucap salah satu penonton dari sisi kiri arena pertunjukan, disambut tepuk tangan meriah.
Wajah Baru Gandrung Sewu, Bupati Banyuwangi Tekankan Regenerasi Pelestari Budaya

Penampilan Gandrung Sewu 2026 di Pantai Boom Marina, Banyuwangi, Sabtu malam (24/10/2026). (Dok. Pribadi/Novia Herawati) Gandrung Sewu telah menjadi salah satu event ikonik di Banyuwangi sejak pertama kali diselenggarakan pada 2012. Pada 2026, festival budaya tersebut memasuki tahun penyelenggaraan ke-14.
Kini, lewat tema Kembang Dermo, perjalanan panjang itu memasuki babak baru. Untuk pertama kalinya, Gandrung Sewu tampil di malam hari, menyatukan seni tradisi dengan tata cahaya dan teknologi pertunjukan.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan Gandrung Sewu tahun ini menjadi momentum melihat wajah baru festival sekaligus menguatkan regenerasi pelestari budaya daerah.
Menurutnya, Gandrung Sewu juga bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan cerminan kekuatan dan kebersamaan. Kemegahan yang tersaji di tepi Pantai Boom itu hasil dari latihan panjang para pelatih dan penari.
"Panggung megah malam ini tidak bisa terwujud tanpa dukungan kalian, saya sampaikan terima kasih kepada para penari dan pelatih yang rajin berlatih setiap hari," tutur Bupati Ipuk di Pantai Boom Marina, Sabtu (24/10/2026).
Tiga Kali Tampil, Penari Gandrung Sewu Dikejar Waktu Latihan yang Singkat

Salah satu penari Gandrung Sewu, Rienqyu Qoniah, 13 tahun, siswi SMP Negeri 3 Banyuwangi, bersama ibunda. (Dok. Pribadi/Novia Herawati) Di antara 1.300 penari Gandrung Sewu, ada Rienqyu Qoniah, penari dari SMP Negeri 3 Banyuwangi. Bagi Qyu, sapaan akrabnya, tari tradisional Gandrung sudah menjadi kesehariannya sejak duduk di bangku SD.
Bahkan, Gandrung Sewu 2026 menjadi penampilan ketiganya di festival tahunan Banyuwangi ini. "Kesulitan gerakan, sih tidak ada," tutur gadis berusia 13 tahun ini kepada IDN Times seusai acara.
Meski sudah berpengalaman, Qyu mengaku waktu latihan yang sempit menjadi salah satu tantangan tersendiri. Ia bercerita bahwa latihan intensif baru dimulai pada Agustus 2026, tiga bulan menjelang acara.
"Latihan intensifnya sejak Agustus 2026, cukup singkat memang. Jadi cukup sulit pas nyamain gerakan dengan penari lain. Apalagi, latihan gabungan dengan penari sekolah lain itu cuma 3 kali," imbuhnya.

Tubuh 1.300 penari bercahaya saat tampil dalam acara Gandrung Sewu di Pantai Boom Marina, Banyuwangi, Sabtu (24/10/2026). (Dok. Pribadi/Novia Herawati) Hal senada disampaikan Fitria Susanti, koordinator penari Gandrung dari SMP Negeri 3 Banyuwangi. Ia menuturkan latihan gabungan Gandrung Sewu tingkat kabupaten baru dimulai awal Oktober.
SMP Negeri 3 Banyuwangi sendiri mengirimkan 6 penari untuk berpartisipasi dalam acara Gandrung Sewu di Pantai Boom Marina, termasuk Qyu. Setiap harinya, penari terpilih tanpa lelah, pagi, siang, dan malam.
"Sekolah kami mengirimkan 9 orang, namun yang lolos seleksi 6 orang. Alhamdulillah 6 orang ini memang punya background menari semua, jadi untuk hafalan gerakan, tidak sulit," ucap Fitri.
Tantangan terbesar justru ada pada penyamaan gerak saat latihan gabungan. Fitri tak memungkiri bahwa 1.300 penari bukanlah angka yang kecil. Terlebih, penari datang dari berbagai sekolah dengan materi awal yang tidak sama.
"Kekurangan pasti ada, mbak. Yang terpenting, alhamdulillah Gandrung Sewu 2026 berjalan lancar," pungkasnya. Gandrung Sewu 2026 di Pantai Boom Marina ditutup oleh penampilan artis ibu kota: Kunto Aji dan Project Pop.























