Surabaya, IDN Times – Peringkat futsal Indonesia yang kini menempati posisi kedua terbaik di Asia dinilai tidak bisa dipertahankan tanpa regenerasi pemain yang berkelanjutan. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan, kompetisi usia muda menjadi fondasi utama untuk menjaga prestasi Timnas Futsal Indonesia di level Asia hingga dunia.
Erick mengatakan, Indonesia saat ini berada di peringkat kedua Asia dan peringkat ke-14 dunia. Menurutnya, capaian tersebut harus dijaga melalui sistem pembinaan yang berkesinambungan, mulai dari level sekolah hingga kompetisi profesional.
"Tahun ini kita ranking dua Asia. Di dunia peringkat 14. Harapannya minimal tetap di tiga besar Asia atau dua besar, bahkan bisa masuk 10 besar dunia. Karena itu kesinambungan antara grassroot, tim nasional, dan industri harus berjalan," ujarnya usai membuka wondr Futsal Series 2026 di Surabaya, Rabu (29/7/2026).
Ia menyebut Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi kekuatan futsal dunia. Dari sekitar 300 juta penduduk, sebanyak 73 persen merupakan pencinta sepak bola, sementara sekitar 60 juta di antaranya merupakan generasi muda.
"Basisnya sudah ada. Tinggal bagaimana organisasi olahraga, khususnya futsal, terus menggali potensi dari bawah. Semua cabang olahraga berlomba mencari atlet baru, dan futsal punya platform yang luar biasa," katanya.
Menurut Erick, kompetisi pelajar menjadi jalur strategis untuk menjaga regenerasi pemain. Ia mengingatkan pembinaan tidak boleh berhenti pada turnamen sesaat, tetapi harus berlangsung terus-menerus.
"Jangan ngos-ngosan. Jangan hanya mengejar hasil cepat. Pembinaan itu maraton. Negara-negara kuat di futsal juga konsisten menjalankan kompetisi setiap tahun," tegasnya.
Ajang wondr Futsal Series 2026 sendiri resmi dimulai dari Surabaya. Jawa Timur dipercaya menjadi kota pembuka kompetisi futsal pelajar terbesar di Indonesia sebelum bergulir ke puluhan kota lainnya di seluruh Indonesia.
Pada musim 2025, penyelenggara mencatat 55 event di level profesional, SMA, dan perguruan tinggi yang digelar di 40 kota dari Aceh hingga Papua. Sebanyak lebih dari 1.000 tim SMA dan 16 ribu atlet ambil bagian, dengan total kehadiran 756.881 penonton serta menjangkau 34 juta pengguna secara digital.
Tak hanya menggelar turnamen, penyelenggara juga menjalankan program School Visit ke sekitar 1.200 sekolah setiap tahun untuk mengenalkan futsal sekaligus membuka jalur pembinaan menuju level yang lebih tinggi.
Erick menilai ekosistem seperti itu penting karena pelatih Timnas Futsal Indonesia juga dapat memantau langsung potensi pemain dari kompetisi usia muda. "Kita ingin regenerasi tim nasional terus berjalan. Kompetisi pelajar, universitas, liga profesional hingga tim nasional harus saling terhubung," katanya.
Sementara itu, penyelenggara menegaskan wondr Futsal Series tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, melainkan ekosistem pembinaan yang menghubungkan sekolah, perguruan tinggi, klub profesional hingga Timnas Indonesia.
