Surabaya, IDN Times - Warga Surabaya yang punya hobi jogging pasti tidak asing dengan lapangan THOR. Lapangan yang terletak di Jalan Patmosusastro, Kelurahan Darmo, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya, Jawa Timur ini menjadi salah satu area jogging favorit arek-arek Suroboyo. Lapangan ini makin digemari usai direnovasi dan diresmikan ulang oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini pada 12 Oktober 2017. Tapi, tahu gak kalau Lapangan THOR ini bukan sekadar lapangan sepak bola dengan berbagai fasilitas olahraga biasa? Lapangan ini punya sejarah panjang.
THOR sendiri adalah singkatan dari bahasa Belanda, Tot Heil Onze Ribben yang berarti Salam Untuk Tulang Rusuk Kita. Lapangan ini sudah ada sejak era kolonial. Uniknya, THOR adalah nama dari klub sepak bola yang berdiri pada 1901 di daerah Karang Menjangan Surabaya.
Thor tidak ujug-ujug berdiri dan bukan klub bola pertama yang ada di Surabaya. Jhon Edgard memulai memprakarsai sepak bola di Surabaya dengan mendirikan klub bola bernama Victoria pada tahun 1894. Selanjutnya, beberapa klub seperti Victoria dan E.C.A. Voorwaarts meramaikan kancah sepak bola Surabaya.
Barulah pada tahun 1900, seorang berkebangsaan Belanda bernama J.F.W Pas tiba dan memprakarsai sebuah hal besar. Memiliki latar belakang sebagai pemain sepak bola aktif, ia mulai mengumpulkan beberapa pemain bola dan memutuskan untuk membentuk sebuah asosiasi olah raga yang permanen. Pada Maret 1901 bertempat di restoran Griim n Co. mereka berkumpul dan mengagendakan untuk mengadakan pertemuan segera.
''Kami berempat adalah: tiga pesepak bola sejati, mantan pemain dari Belanda yaitu J. F. Pas, Heymering, dan saya sendiri (penulis), serta yang keempat adalah pendukung sepak bola terbesar di lingkaran kami, Douw van de Krap, yang hanya bermain sepak bola dengan mulutnya (seorang teoritikus),'' tulis Piet Koopman dalam buku berjudul SOERABAIASCHE VOETBALVEREENIGING T.H.O.R. 1901 – SEPTEMBER – 1931. Buku ini sendiri dirilis untuk memperingati 30 tahun berdirinya THOR.
''Tiba-tiba setelah keheningan yang lama, Pas berkata, saya sudah muak selalu bermain dengan tim mantan pemain yang dikumpulkan seadanya untuk bertanding melawan klub yang sudah ada di sini (E.C.A. Voorwaarts). Ayo, mari kita dirikan klub baru sendiri!'' lanjut Koopman dalam buku tersebut.
Awalnya ide ini dianggap aneh, namun perlahan usulan ini diterima oleh tiga orang lainnya. Lalu, mulai bulan Agustus 1901 nama THOR didirikan dan diploklamirkan secara besar-besaran. ''Ketika izin pemerintah keluar sebulan kemudian pada tanggal 7 September 1901, namanya disesuaikan menjadi TOT HEIL ONZER RIBBEN,'' tulis Koopman. THOR adalah nama untuk asosiasi itu dan digunakan juga sebagai nama klub sepak bola mereka. Benar saja, pada tahun-tahun selanjutnya, THOR menjadi klub yang disegani dan sering menjuarai kompetisi antar klub-klub Surabaya.
Koran De Locomotive yang terbit pada tanggal 8 Juli 1921 misalnya memberitakan tentang pertandingan antara juara Liga Makassar melawan beberapa klub Surabaya. ''Tim juara dari Makassar, M.V.V., akan memainkan beberapa pertandingan di Surabaya pada tanggal 29 Juni serta 2 dan 3 Juli. Salah satunya melawan juara Surabaya yaitu, Thor.''
Tak hanya sepak bola THOR merupakan asosisasi olahraga multi cabang. Sejak 5 tahun setelah berdiri, mereka bahkan sudah menyelenggarakan beberapa kompetisi cabang olah raga lain seperti atletik hingga hoki. De Indische Courant yang terbit pada 24 Desember 1935 misalnya pernah memberitakan adanya pertandingan hoki antar kota.
''Pada hari Jumat, 27 Desember mendatang, seksi hoki dari Thor, dengan kerja sama yang baik dari A.S.C., akan menyelenggarakan pertandingan piala antar-kota di lapangan Thor dan lapangan A.S.C. Pertandingan ini awalnya direncanakan untuk diikuti oleh Malang, Semarang, Batavia, dan Surabaya. Namun, pada saat-saat terakhir Batavia mengundurkan diri, sehingga tim kedua dari Surabaya akan bertanding sebagai pengganti Batavia,'' tulis koran tersebut.
Hingga saat ini, jejak panjang THOR sebagai asosiasi olahraga dan klub sepak bola era kolonial masih terus terasa. Nama THOR kini diabadikan menjadi sebuah lapangan olahraga kebanggaan masyarakat Surabaya. Meski zaman telah berubah, semangat dan gaung aktivitas olahraga di sana tetap terjaga serta hidup di tengah warga Surabaya.
