Manajemen Perseta 1970 Tulungagung Bawa Kasus ke Ranah Hukum

- Manajemen Perseta 1970 Tulungagung menyayangkan insiden tendangan kungfu yang mengakibatkan pemain mereka mengalami retak tulang rusuk bagian bawah.
- Manajemen berencana membawa kasus ke polisi setelah menemukan unsur kesengajaan dalam insiden tersebut, serta harapan agar ada pembelajaran bagi semua pihak.
- Pihak Perseta 1970 Tulungagung belum menerima permintaan maaf resmi dari tim lawan, dan berharap adanya edukasi untuk menjaga sportivitas selama pertandingan.
Tulungagung, IDN Times - Manajemen Perseta 1970 Tulungagung menyayangkan insiden tendangan kungfu, dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Gelora Bangkalan kemarin sore. Pemain Putra Jaya Pasuruan, M Hilmi menendang pemain Perseta 1970 Tulungagung, Firman Nugraha tepat di bagian dada. Akibatnya, Firman mengalami retak tulang rusuk bagian bawah. Hingga saat ini belum ada permohonan maaf secara resmi yang disampaikan oleh manajemen Putra Jaya Pasuruan.
1. Sebelumnya ada insiden penyikutan yang dilakukan pemain Putra Jaya Pasuruan

Manajer Perseta 1970 Tulungagung, Rudi Iswahyudi mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima permintaan maaf secara resmi dari tim lawan. Mereka menyayangkan adanya kejadian ini. Terlebih sebelumnya juga terjadi kejadian penyikutan yang juga dilakukan pemain lawan.
"Sebelumnya ada kejadian penyikutan, pemain Perseta 1970 Tulungagung sampai mengeluarkan darah dari hidung, kemudian terjadi tendangan kungfu ini," ujarnya, Selasa (6/01/2025).
2. Temukan adanya unsur kesengajaan, rencana laporkan kasus ke polisi

Pihak manajemen Perseta 1970 Tulungagung sendiri berencana membawa permasalahan ini ke ranah hukum. Berdasarkan hasil analisa, ditemukan adanya unsur kesengajaan dalam kejadian tersebut. Dari rekaman video terlihat pemain Putra Jaya Pasuruan sudah bersiap untuk menendang lawannya. Selain itu setelah dikeluarkan pemain tersebut masih menantang dan memprovokasi pemain lainna. "Ini sudah di luar ranah permainan sepak bola, kuat dugaan ada unsur kesengajaan, kita belum mengetahui motifnya apa," tuturnya.
3. Tak selesai di Komdis, harap ada pembelajaran bagi semua pihak

Menurut Rudy, selama ini kejadian kekerasan dalam olahraga hanya selesai melalui mekanisme sidang komisi disiplin. Namun banyak kasus yang kembali terulang bahkan hingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Dengan upaya membawa kasus ini ke ranah hukum, diharapkan bisa memberi edukasi ke semua pihak. Para pemain juga diharuskan menjaga sportivitas selama pertandingan.
"Kasus seperti ini selalu berulang setiap tahunnya, hanya sanksi dari komisi disiplin saja, ini akan menjadi pembelajaran bagi semua pihak," pungkasnya.















