Malang, IDN Times - Laga Arema FC menghadapi Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan pada 28 April 2026 mendatang menimbulkan banyak penolakan. Penolakan tersebut datang dari Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK) dan mahasiswa Universitas Brawijaya yang tergabung dalam Amarah Brawijaya. Mereka merasa masih ada trauma mendalam saat Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022.
Banyak Penolakan Arema Vs Persebaya di Kanjuruhan, Ini Jawaban Panpel

1. Panpel Arema FC menilai jika laga ini bisa jadi penyembuh luka Tragedi Kanjuruhan
Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Arema FC, Erwin Hardiyono memahami pihak-pihak yang menolak laga ini karena masih ada trauma terkait Tragedi Kanjuruhan. Tapi menurutnya Stadion Kanjuruhan telah mendapatkan renovasi besar-besaran sehingga tingkat keamanannya sudah jauh kebih baik dari sebelumnya. Ia menjelaskan sudah banyak perbaikan mulai kemiringan tangga di area gerbang penonton, jumlah pintu yang lebih banyak, adanya tangga dan pintu keluar darurat (emergency exit), dan hasil Risk Assessment (RA) dari Polda Jatim juga memberikan nilai yang cukup bagus.
"Semua pihak di Malang Raya, termasuk masyarakat, memang masih mengalami trauma pasca tragedi yang lalu. Tapi salah satu cara untuk menyembuhkannya adalah dengan menyelenggarakan laga ini di sini," terangnya pada Selasa (7/4/2026).
Erwin juga mengungkapkan jika mereka telah menyiapkan stadion lain jika memang tidak mendapat izin dari kepolisian. Ada opsi bermain di Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar, Bali yang telah didaftarkan sebagai homebase kedua. "Meskipun begitu, kami tetap berharap bisa bermain di Kanjuruhan," ujarnya.
2. Panpel Arema FC yakin bisa menyelenggarakan laga ini dengan baik
Erwin juga mengatakan jika ia belum mendapatkan informasi pasti apakah laga ini akan berjalan dengan penonton atau tidak, ia masih menunggu ijin resmi dari pihak kepolisian. Tapi ia meyakinkan jika pihaknya telah menyelenggarakan 13 pertandingan kandang Singo Edan, dan selama ini tidak pernah terjadi masalah signifikan.
"Pasca renovasi Stadion Kanjuruhan, fasilitas yang ada sangat mumpuni dari segi safety and security. Jadi, kami bisa maksimal dalam memberikan pelayanan kepada penonton maupun rekan-rekan suporter," jelasnya.
Ia juga menjelaskan laga menghadapi Malut United dan Persis Solo akan jadi simulasi untuk menunjukkan bahwa penyelenggaraan pertandingan di Stadion Kanjuruhan aman. Laga menghadapi Malut United sendiri telah selesai dengan aman, tinggal laga menghadapi Persis Solo pada Sabtu (18/4/2026).
3. Begini sekema pengamanan saat menghadapi Persebaya
Lebih lanjut, Erwin menyampaikan jika untuk skema pengamanan akan disamakan seperti putaran pertama antara Persebaya Surabaya Vs Arema FC di Stadion Gelora Bung Tomo. Menurutnya laga ini bisa berjalan normal dan aman berkat koordinasi dengan pihak-pihak keamanan, ia juga akan berkoordinasi dengan Presidium Aremania.
"Jaminan keamanan adalah kewajiban penyelenggara, dalam hal ini LOC (Arema FC). Jika diizinkan, ini akan menjadi tanggung jawab bersama. Panitia sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk merancang skema pengamanan laga tersebut. Namun, keberhasilan pengamanan bukan hanya tugas Panpel dan aparat, melainkan juga dipengaruhi oleh dukungan stakeholder lainnya," pungkasnya.
Ia juga menambahkan kalau jumlah personel pengamanan saat laga menghadapi Persebaya Surabaya akan ditambahkan secara signifikan. Lebih banyak dibandingkan saat menjamu Malut United di mana ada 670 personel yang terdiri dari unsur Kepolisian, TNI, Pemkab Malang, dan rekan-rekan Korlap Presidium.