Dari Kelas ke Land of Dawn: Riuh Esport Cilik

- Puluhan pelajar sekolah dasar dari berbagai daerah di Jawa Timur berkumpul di Atrium Tunjungan Plaza 3 Surabaya, membawa semangat kompetisi Mobile Legends.
- SDN Kalisari II Surabaya menjadi salah satu sekolah yang mencuri perhatian dengan keikutsertaan dua tim dalam turnamen Mobile Legends: Bang Bang Goes To School.
- Grand Tournament Mobile Legends: Bang Bang Goes To School merupakan langkah strategis membangun ekosistem esport yang sehat dan sejalan dengan dunia pendidikan, dengan melibatkan guru sebagai pendamping utama.
Surabaya, IDN Times – Atrium Tunjungan Plaza 3 Surabaya tampak berbeda pada Kamis (8/1/2026) siang. Riuh suara anak-anak bercampur dengan sorak kecil penuh antusias menggema di tengah pusat perbelanjaan. Puluhan pelajar sekolah dasar dari berbagai daerah di Jawa Timur berkumpul, membawa semangat kompetisi yang tak kalah serius dari turnamen profesional. Di tangan mereka, gawai menjadi senjata utama untuk bertarung di arena Mobile Legends.
Suasana begitu meriah. Mayoritas peserta memang anak laki-laki, namun kehadiran siswi perempuan menambah warna tersendiri. Mereka datang berkelompok mengenakan seragam kebanggaan masing-masing sekolah. Ada yang masih rapi dengan putih-merah, ada yang lengkap dengan seragam pramuka, dan ada pula yang tampil percaya diri memakai jersey khusus tim sekolahnya. Di sisi lain, guru olahraga, pelatih, dan para pembina setia mendampingi, memastikan anak-anak tetap fokus, tertib, dan bermain sportif.
Di depan layar-layar besar yang terpasang di sudut-sudut atrium, jari-jari kecil itu bergerak lincah. Strategi disusun, serangan dilancarkan, dan pertahanan diperkuat. Senyum merekah ketika tower lawan berhasil dihancurkan, disambut tepuk tangan teman setim. Sesekali, raut tegang muncul saat pertandingan berjalan ketat. Para pelatih memantau dengan serius, memberi arahan singkat, sambil menahan emosi melihat anak didiknya berjuang. Kompetisi ini diikuti 84 tim, dengan setiap sekolah diperbolehkan mengirim lebih dari satu tim.
Di antara deretan peserta, SDN Kalisari II Surabaya menjadi salah satu sekolah yang mencuri perhatian. Pembinanya, Jatayu, tampak sibuk mendampingi dua tim yang mereka turunkan dalam ajang ini. Ia bercerita, keikutsertaan sekolahnya bukan sekadar coba-coba. “Untuk hari ini SD Kalisari benar-benar punya dua tim. Kita kirim dua-duanya ke sini. Tadi sudah main beberapa pertandingan, habis ini lanjut lagi,” ujarnya optimistis.
Persiapan tim dilakukan cukup serius. Anak-anak berlatih bersama di sekolah dengan pola yang teratur. Seusai jam pelajaran, mereka menyempatkan waktu satu hingga dua jam untuk bermain bersama, mematangkan kerja sama tim. Latihan itu bahkan dimasukkan dalam kegiatan tambahan di sekolah. Setiap Rabu, anak-anak pulang lebih awal setelah belajar, lalu berkumpul untuk berlatih sambil tetap dalam pengawasan guru.
“Main bareng, belajar bareng. Di kelas latihan, disesuaikan dengan role masing-masing,” kata Jatayu.
Pemain yang diturunkan pun hasil seleksi. Mulai dari siswa kelas 4, 5, hingga 6, semuanya melalui proses kualifikasi sesuai peran di dalam gim. Anak-anak memilih dan dipilih berdasarkan kemampuan serta kecocokan role. Hasilnya tak main-main.
“Kemarin Alhamdulillah bisa juara satu. Target sekarang ya juara satu lagi,” ucapnya lantas tersenyum.
Turnamen ini sendiri merupakan bagian dari Grand Tournament Mobile Legends: Bang Bang Goes To School yang digelar Pemerintah Kota Surabaya berkolaborasi dengan pengembang gim global, Moonton Games. Ajang yang berlangsung hingga Minggu (11/1/2026) ini menyasar pelajar. Lebih dari sekadar perebutan gelar juara, kompetisi ini dirancang sebagai langkah strategis membangun ekosistem esport yang sehat dan sejalan dengan dunia pendidikan.
Kepala Bidang Pengembangan Ekosistem Gim Moonton Games, Erina Tan, menegaskan bahwa tingginya minat gim di kalangan pelajar usia dini perlu diimbangi dengan pendampingan yang tepat. Menurutnya, popularitas gim membawa tanggung jawab moral untuk mengarahkan anak-anak bermain secara sehat dan bermakna. Pendampingan guru menjadi fondasi utama melalui program MLBB Teacher Ambassador yang kini telah menjangkau 328 sekolah di berbagai daerah Jawa Timur, mulai dari Surabaya hingga Malang dan Kediri.
Jawa Timur dipilih sebagai wilayah perintis karena dinilai memiliki kesiapan infrastruktur pendidikan dan dukungan aktif dari tenaga pengajar. Tujuan besarnya bukan hanya mencetak atlet esport profesional, melainkan menanamkan nilai-nilai penting seperti kerja sama tim, komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan berpikir strategis sejak dini.
"Kami titip pesan kepada bapak dan ibu quru untuk membantu pengawasan. Anak-anak harus tetap sehat dan biiak menggunakan gadget K<eqiatan seperti ini harus berjalan seimbang dengar proses belajar di sekolah," tegas Febrina.
Pemerintah daerah pun menyambut baik inisiatif ini. Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, mengingatkan pentingnya keseimbangan antara hobi dan akademik. Ia menekankan peran guru dan orang tua dalam mengawasi penggunaan gawai agar tetap sehat dan produktif.















