Surabaya, IDN Times - Keterbatasan fisik tak pernah menjadi penghalang bagi Desy Ramadhani Maghfiroh Ayu Putri untuk berkarya. Alumni Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang akrab disapa Fira ini justru mengubah hambatan pendengaran yang dialaminya menjadi kekuatan untuk menginspirasi penyandang disabilitas agar berani tampil percaya diri.
Lewat Fira Modelling Disability (FMD), sekolah talenta khusus penyandang disabilitas yang dirintis sejak masih duduk di bangku kuliah, Fira kini membantu puluhan anak berkebutuhan khusus menemukan potensi diri melalui dunia modelling dan seni pertunjukan.
Saat ini, FMD telah berkembang dengan membuka pelatihan di Surabaya dan Malang. Sebanyak 35 peserta didik penyandang disabilitas mengikuti berbagai program, mulai dari pelatihan catwalk hingga tari dan seni gerak yang dirancang untuk membangun kepercayaan diri.
Fira mengatakan, ide mendirikan FMD lahir dari keprihatinannya melihat masih minimnya ruang bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan bakat dan menunjukkan kemampuan di hadapan publik.
"Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya dan berprestasi. Saya juga berharap sekolah ini menjadi wadah untuk membangun rasa percaya diri, mengembangkan keterampilan, sekaligus mengubah cara pandang masyarakat terhadap para penyandang disabilitas," ujarnya.
Perempuan kelahiran Surabaya itu bukan sosok baru di dunia modelling. Sejak kecil, ia telah menekuni bidang tersebut hingga dipercaya mewakili Indonesia dalam ajang Discover Indonesia: Cultural Performance and Fashion Show di Turki.
Prestasi itu mengantarkannya meraih penghargaan Inspiring Women 2022 kategori pendidikan, sejajar dengan sejumlah tokoh perempuan nasional.
Meski demikian, membangun sekolah inklusif bukan perkara mudah. Bersama sang ibu, Fira harus menyusun metode pelatihan yang berbeda bagi setiap peserta karena masing-masing memiliki karakter, kebutuhan, dan kemampuan motorik yang tidak sama. Menurutnya, tantangan terbesar bukan mengajarkan teknik berjalan di atas panggung, melainkan menumbuhkan keberanian peserta untuk percaya pada kemampuan diri sendiri.
Bagi Fira, kebahagiaan terbesar datang ketika melihat perubahan para peserta didiknya yang semula pemalu dan menutup diri, kini mampu tampil percaya diri di depan banyak orang.
Usai menyelesaikan pendidikan sarjana pada akhir 2025, Fira kini bekerja di FIF Group. Di sela aktivitas profesionalnya, ia tetap meluangkan waktu untuk mengajar dan mendampingi para peserta FMD. Ia mengaku pengalaman belajar di Unesa yang mengedepankan pendidikan inklusif menjadi bekal penting dalam membangun gerakan sosial tersebut.
