Surabaya, IDN Times - Tren jam tangan luxury di Surabaya belum menunjukkan tanda melambat. Di tengah kondisi ekonomi yang masih fluktuatif, pasar arloji premium justru tetap hidup berkat loyalitas para kolektor dan meningkatnya rasa penasaran generasi muda terhadap dunia horologi.
Harga jam tangan mewah yang beredar di Surabaya pun tidak main-main, mulai sekitar Rp40 juta hingga mencapai Rp900 juta. Nilai tersebut tak menyurutkan minat pecinta arloji yang rela datang untuk melihat koleksi terbaru, mempelajari teknologi mesin, hingga mengenal filosofi desain di balik setiap model.
Salah satu distributor jam tangan luxury, Kevin Lie, mengatakan Surabaya menjadi salah satu pasar potensial untuk segmen premium. Menurutnya, penggemar tidak hanya berasal dari kalangan kolektor lama, tetapi juga anak muda yang mulai tertarik mendalami dunia jam tangan mekanis.
"Di Surabaya peminatnya cukup banyak. Seperti Seiko dibandingkan beberapa brand luxury lain memang relatif masih baru, sehingga banyak orang ingin belajar lebih banyak dan melihat produknya secara langsung," ujar Kevin, Jumat (17/7/2026).
Ia menjelaskan, pembeli jam tangan luxury masih didominasi usia di atas 40 tahun. Namun, tren pencarian informasi datang dari kelompok usia yang jauh lebih muda, bahkan mulai 18 tahun.
"Kalau pembelinya memang lebih banyak usia 40 tahun ke atas. Tetapi yang datang untuk mencari informasi cukup banyak dari usia 18 tahun karena sekarang informasi sangat mudah didapat dari media sosial," katanya.
Salah satu magnet utama yang menarik perhatian pencinta jam tangan adalah filosofi desain khas Jepang yang diusung Grand Seiko. Setiap koleksi tidak hanya menawarkan presisi tinggi, tetapi juga mengangkat inspirasi dari lanskap alam Jepang, mulai Danau Suwa, hutan birch, Lembah Atera, hingga ombak laut Jepang yang diterjemahkan dalam tekstur dan gradasi warna dial.
Kevin mencontohkan, beberapa model memiliki efek perubahan warna unik. Dari kejauhan dial tampak berwarna perak, tetapi ketika dilihat dari sudut tertentu akan memunculkan semburat merah muda yang terinspirasi bunga sakura. "Desain seperti ini sengaja dibuat agar orang tertarik mendekat karena ada perubahan warna yang terlihat dari sudut pandang berbeda," jelasnya.
Selain model klasik, koleksi diver watch juga menjadi salah satu incaran kolektor. Tahun ini, Grand Seiko memperkenalkan Spring Drive U.F.A. Ushio 300 Diver, diver watch terkecil yang pernah dibuat merek tersebut dengan diameter hanya 40,8 mm.
Jam ini dibekali mesin Spring Drive Caliber 9RB1 yang memiliki tingkat akurasi hingga ±20 detik per tahun, menjadikannya salah satu movement pegas paling akurat di dunia. Dial bertema Ushio atau "pasang laut" menghadirkan gradasi biru dan hijau yang terinspirasi laut Jepang, dipadukan ketahanan air hingga 300 meter serta material High-Intensity Titanium yang sekitar 30 persen lebih ringan dibanding baja tahan karat.
Tak hanya lini diver, Grand Seiko juga memperbarui koleksi flagship Evolution 9 dengan sembilan model baru. Lima di antaranya menggunakan mesin Spring Drive U.F.A. Caliber 9RB2 berakurasi ±20 detik per tahun, sedangkan empat model lainnya mengusung mesin mekanikal Hi-Beat Caliber 9SA5 dengan cadangan daya hingga 80 jam. Seluruh model mendapatkan penyempurnaan berupa micro-adjustment clasp untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan sehari-hari.
Sementara itu, Manajer Seiko Surabaya, Sujono Adi, mengatakan tren jam tangan bergaya vintage kembali menjadi favorit berbagai kalangan. Salah satu yang paling banyak diminati adalah model klasik yang dikenal sebagai Seiko Nano, terutama untuk pasar perempuan.
"Sekarang semua kalangan suka karena tren vintage kembali. Model yang bergaya klasik penjualannya sampai sekarang masih cukup baik," ungkapnya.
Menurut Sujono, kondisi ekonomi memang memengaruhi daya beli masyarakat, tetapi dampaknya tidak terlalu signifikan bagi pasar jam tangan premium karena kolektor tetap aktif mencari model-model terbaru.
"Pengaruh ekonomi tentu ada, tetapi nama besar brand masih menjadi kekuatan. Kolektor tetap mencari model baru. Maka dari itu tersedia pilihan dari segmen bawah, menengah hingga premium, sehingga kebutuhan berbagai kalangan bisa terpenuhi," katanya.
Ia menilai, bertahannya permintaan di tengah situasi ekonomi menjadi bukti bahwa jam tangan luxury kini tidak lagi dipandang sekadar aksesori penunjuk waktu. Bagi para penggemarnya, sebuah arloji premium menyimpan nilai sejarah, teknologi, seni, sekaligus menjadi instrumen investasi yang terus diminati.
