Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sepak Terjang Sarip Tambak Oso dalam Catatan Kolonial
ilustrasi pendekar (pixabay.com/AgusTriyanto)
  • Sarip Tambak Oso dikenal sebagai tokoh rakyat Jawa yang hidup di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, digambarkan sebagai pemberontak melawan penjajahan dan ketidakadilan sosial.
  • Catatan kolonial Belanda menggambarkannya sebagai penjahat berbahaya yang terlibat perampokan dan pembunuhan, sementara masyarakat lokal melihatnya sebagai pelindung rakyat kecil yang dermawan.
  • Sarip tewas pada 1912 setelah baku tembak dengan polisi kolonial, namun kisahnya tetap hidup dalam ludruk dan cerita tutur sebagai simbol perlawanan rakyat terhadap penindasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Jika mendengar nama Robin Hood, banyak orang tentu langsung teringat pada sosok legenda dari Inggris yang dikenal sebagai pembela rakyat kecil. Ia digambarkan merampok kaum kaya dan membagikan hasilnya kepada masyarakat miskin, sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan.

Ternyata, kisah serupa juga hidup dalam cerita rakyat di Indonesia. Di tanah Jawa, masyarakat mengenal tokoh-tokoh seperti Maling Cluring, Brandal Lokajaya, hingga Sarip Tambak Oso. Nama terakhir ini begitu lekat dalam budaya tutur masyarakat Surabaya dan Sidoarjo, bahkan kerap diangkat dalam pertunjukan ludruk.

Dalam kisah ludruk, Sarip digambarkan sebagai sosok pemberontak yang melawan Belanda dan para pejabat desa yang dianggap sewenang-wenang. Salah satu bagian paling ikonik dari cerita itu adalah sosok ibunya yang disebut mampu menghidupkan kembali Sarip setelah tewas dalam sebuah perkelahian. Unsur mistis tersebut membuat kisah Sarip semakin hidup di tengah masyarakat.

Namun Sarip bukan sekadar tokoh dalam cerita panggung. Ia diyakini sebagai sosok nyata yang hidup pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Jejak sepak terjangnya bahkan tercatat dalam sejumlah surat kabar kolonial Belanda pada masa itu.

Pada 1912, sebuah surat kabar Belanda memuat kabar tentang tewasnya seorang penjahat paling dicari oleh pemerintah kolonial. Dalam berita itu terselip kalimat tentang “penjahat berusia 37 tahun” yang tewas setelah lama diburu aparat. Dari keterangan tersebut, dapat diperkirakan Sarip lahir sekitar tahun 1875.

Masa kelahiran Sarip bertepatan dengan perubahan besar di Hindia Belanda. Saat itu pemerintah kolonial mulai menerapkan Agrarische Wet (undang-undang agraria yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda di Hindia Belanda pada tahun 1870). Kebijakan tersebut mengubah sistem tanam paksa menjadi perkebunan dan ekspor hasil bumi dalam skala besar. Dampaknya, banyak rakyat kecil kehilangan lahan dan hidup dalam tekanan ekonomi.

Sarip tumbuh di tengah situasi sosial seperti itu. Pengalaman hidup masyarakat yang terdesak diduga menjadi latar yang membentuk sosoknya. Dalam ingatan masyarakat setempat, Sarip bukan hanya dikenal sebagai perampok, tetapi juga simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan pejabat yang dianggap “sakit” atau menindas rakyat.

Nama Tambak Oso sendiri merujuk pada sebuah desa di sisi timur Sidoarjo. Wilayah inilah yang diyakini menjadi pusat aktivitas Sarip. Surat kabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 5 Februari 1912 menyebut sejumlah daerah yang berkaitan dengan keberadaan Sarip, seperti Tambaksari, Tambakrejo, Sumur, Gedang Asri, Rungkut, Menanggal, hingga Rungkut Tengah.

Dalam berbagai laporan kolonial, Sarip digambarkan sebagai sosok berbahaya dan kejam. Ia sering dikaitkan dengan perampokan rumah-rumah orang kaya maupun pejabat desa. Tak jarang aksi itu berujung pada pembunuhan.

Salah satu laporan yang cukup menghebohkan dimuat surat kabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 19 Januari 1912. Surat kabar itu memberitakan penemuan jasad korban mutilasi di Desa Jaban, Sedati. Sebelumnya, seorang lurah bernama Haji Oemar dan seorang polisi juga ditemukan tewas dengan luka gorok di leher.

Rangkaian kejadian itu membuat suasana desa-desa sekitar menjadi mencekam. Warga hidup dalam ketakutan, terutama ketika sore menjelang malam. Surat kabar kolonial saat itu banyak menggambarkan Sarip sebagai ancaman besar yang sulit ditangkap.

Sarip dikenal licin dan kerap berpindah tempat persembunyian. Ia disebut sering bermalam di rumah-rumah warga yang dianggap aman. Namun di sinilah muncul perbedaan antara catatan kolonial dengan cerita tutur masyarakat.

Jika surat kabar Belanda menggambarkannya sebagai penjahat yang menebar teror, sebagian masyarakat justru melihat Sarip sebagai sosok yang dekat dengan rakyat kecil. Cerita itu masih hidup hingga sekarang.

Masrudin, warga setempat yang ditemui pada 2019, menuturkan bahwa masyarakat dulu banyak membantu persembunyian Sarip. Menurut cerita yang ia dengar dari ayahnya, setiap selesai bermalam di rumah warga, Sarip sering meninggalkan karung berisi gabah di belakang rumah sebagai tanda terima kasih.

“Itu cerita dari almarhum bapak saya, karena saya sendiri belum lahir waktu itu,” ujar Masrudin, yang akrab disapa Mbah Rud.

Karena aksi-aksinya dianggap meresahkan pemerintah kolonial, sayembara penangkapan Sarip pun diumumkan. Hadiah awal sebesar 250 gulden kemudian dinaikkan menjadi 500 gulden bagi siapa saja yang berhasil menangkapnya.

Namun perburuan itu tidak berlangsung lama. Surat kabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 7 Februari 1912 memberitakan bahwa Sarip tewas setelah terlibat perkelahian dengan polisi di sekitar Sedati. Informasi itu disebut berasal dari anak seorang pejabat wedana.

Kabar kematiannya juga dimuat Bataviaasch Nieuwsblad edisi 6 Februari 1912. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Sarip diduga bersembunyi di rumah seseorang bernama Maroop sebelum akhirnya tewas dengan luka tembak di dada.

Meski telah lebih dari seabad berlalu, nama Sarip Tambak Oso tetap hidup dalam ingatan masyarakat. Ia dikenang dalam ludruk, cerita tutur, hingga kisah-kisah kampung yang diwariskan turun-temurun. Bagi sebagian orang, Sarip adalah penjahat. Namun bagi sebagian lainnya, ia adalah simbol perlawanan rakyat kecil pada masa kolonial.

Berita Tentang Kematian Sarip. Doc. Bataviaasch Nieuwsblad 6 Februari 1912
Berita Kematian Sarip. Doc. Het Nieuws Van Dag Voor Nederlandsc-Indie, 7 Februari 1912
Nieuws Van Dag Voor Nederlandsc-Indie, 19 Januari 1912
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article