Lumajang, IDN Times - Gunung Semeru masih berada pada Level III (Siaga). Aktivitas vulkanik gunung api tertinggi di Pulau Jawa itu tetap menunjukkan erupsi dan guguran, dengan 21 kali gempa letusan terekam selama periode pengamatan Sabtu (5/9/2026) pukul 18.00-24.00 WIB.
Petugas Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi, mencatat selain gempa letusan, aktivitas kegempaan juga terdiri atas 11 kali gempa guguran, 11 kali gempa hembusan, satu kali tremor harmonik, dan dua kali gempa tektonik jauh.
“Gunung jelas hingga kabut 0-II. Asap kawah tidak teramati,” demikian laporan aktivitas Gunung Semeru yang disusun Yadi Yuliandi.
Secara visual, petugas juga mengamati tujuh kali letusan asap berwarna putih hingga kelabu dengan ketinggian sekitar 300-500 meter dari puncak. Arah sebaran asap terpantau ke timur laut. Selain itu, dua kali guguran teramati dengan jarak luncur sekitar 500 meter menuju Besuk Kobokan.
Data kegempaan menunjukkan 21 gempa letusan memiliki amplitudo 10-22 milimeter dengan durasi 71-134 detik. Sementara 11 gempa guguran tercatat memiliki amplitudo 2-10 milimeter dengan durasi 47-120 detik dan durasi 47-120 detik.
Untuk gempa hembusan, tercatat 11 kejadian dengan amplitudo 3-8 milimeter dan durasi 56-82 detik. Petugas juga merekam satu tremor harmonik dengan amplitudo 3 milimeter selama 346 detik.
Dengan kondisi tersebut, tingkat aktivitas Gunung Semeru masih ditetapkan pada Level III atau Siaga.
PVMBG mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak, yang menjadi pusat erupsi.
Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena kawasan tersebut rawan lontaran batu pijar.
PVMBG meminta masyarakat tetap mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai maupun lembah yang berhulu di puncak Semeru.
Kewaspadaan terutama diperlukan di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Potensi lahar juga dapat terjadi pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai Besuk Kobokan.
