Candi Singosari, peninggalan Kerajaan Singasari yang ditaklukkan oleh Jayakatwang pada 1292 (commons.wikimedia.org)
Peristiwa tersebut bermula ketika Kubilai Khan, penguasa Kerajaan Mongol pada waktu itu, mendapatkan kabar bahwa kerajaan di Jawa menolak membayar upeti dengan memotong telinga utusan dari Mongol yang Bernama Meng Ch’i. Karena murka, kaisar Mongol tersebut mengirimkan tiga jenderal besarnya, Ike Messe, Shih-pi, dan Kau Hsing untuk memimpin sekitar 20 ribu pasukan ke Jawa.
Ekspedisi besar ini bertujuan untuk menundukkan Jawa yang membelot dari kewajiban membayar upeti kepada Kekaisaran Mongol.
Ekspedisi yang dipimpin oleh Ike Messe pada tahun 1292 dilakukan melalui jalur laut: melewati Campa (sekarang Vietnam), Pulau Natuna, Karimun Jawa, hingga berlabuh di Tuban, Jawa Timur.
Setelah tiba di Tuban, rombongan serdadu yang dipimpin Ike Messe bertemu dengan rombongan Shih-pi dan Kau Hsing. Perjalanan ke Kerajaan Jawa kemudian dilanjutkan melalui dua jalur. Pasukan pimpinan Shih-pi melewati jalur laut dari Sungai Sugalu atau Sedayu menuju Sungai Pa-tsieh atau Kalimas, sedangkan pasukan Ike Messe-Kau Hsing melewati jalur darat.
Kabar rencana pasukan Mongol untuk menundukkan Kerajaan Jawa tersebut ternyata sampai ke telinga Raden Wijaya. Di sisi lain, Kerajaan Mongol belum mengetahui adanya suksesi kepemimpinan baru di Pulau Jawa. Raja Kertanegara, penguasa Kerajaan Singasari yang memotong telinga utusan Mongol sebelumnya, telah digulingkan oleh Jayakatwang pada 1292. Peristiwa kudeta tersebut menandai berakhirnya kekuasaan Singasari dan mengawali kekuasaan Kerajaan Kediri di bawah Jayakatwang.
Raden Wijaya, yang merupakan menantu Raja Kertanegara, adalah penerus tahta Kerajaan Singasari. Dengan ditaklukkannya Singasari oleh Jayakatwang, tentu Raden Wijaya juga terkena imbasnya. Setelah penaklukkan itu, Jayakatwang mengusir Raden Wijaya yang kemudian mendirikan sebuah desa bernama Majapahit. Sembari mengurus wilayahnya di desa tersebut, ia menyiapkan berbagai strategi untuk membalas dendam kepada Jayakatwang.
Karena ketidaktahuan pasukan Mongol atas situasi dan kondisi pemerintahan di Jawa saat itu, Raden Wijaya kemudian memikirkan taktik untuk mengajak Mongol bersekutu. Tujuan pasukan Mongol dan Raden Wijaya pada waktu itu selaras, yakni membalas dendam terhadap penguasa Jawa, meskipun kemudian terdapat pergantian pemimpin yang luput diketahui oleh pasukan Mongol. Ia kemudian mengatur strategi untuk menyerang Jayakatwang dengan bergabung dengan pasukan Mongol. Pasukan dari kedua Kerajaan tersebut kemudian berhasil bergabung dan bertemu di Sungai Kali Mas.
Persekutuan dua pasukan itu kemudian membuahkan hasil. Pada tahun 1293, persekutuan Raden Wijaya dan Mongol tersebut berhasil mengalahkan Kerajaan Kediri dan menangkap Jayakatwang berserta keluarga dan pejabat kerajaan.
Setelah peristiwa penyerbuan itu, Raden Wijaya kembali ke kediamannya dengan kawalan sekitar 200 pasukan Mongol. Namun, dalam perjalanan, Raden Wijaya diam-diam membantai seluruh pasukan pengawal. Pertempuran itu berlanjut hingga 68 hari dan berhasil memukul mundur pasukan Mongol hingga ke Hujunggaluh pada tanggal 24 bulan ke-4 atau 31 Mei.
Hujunggaluh merupakan ujung Sungai Kali Mas yang menjadi jalur masuk pasukan Mongol ke Jawa. Oleh karena itu, Sungai Kali Mas yang disebut sebagai pa-tsieh menjadi salah satu situs sejarah penting yang masih eksis hingga saat ini. Salah satu literatur yang merujuk pada peristiwa tersebut adalah Notes on The Malay Archipelago and Malacca oleh W.P. Groeneveldt (1876). Catatan Groeneveldt ini merupakan salah satu literatur yang digunakan tim penelitian Hari Jadi Kota Surabaya dalam menetapkan tanggal 31 Mei sebagai hari ulang tahun Kota Surabaya.