RS Persada Malang Tak Bisa Sediakan Hasil CCTV Dugaan Pelecehan Pasien

Malang, IDN Times - RS Persada Malang akhirnya menonaktifkan dokter AY yang diduga melakukan pelecehan seksual pada seorang pasien asal Bandung pada September 2022. Ia kini tengah diselidiki terkait kasus tersebut oleh pihak internal RS Persada Malang. Namun, tampaknya tidak ada CCTV uang bisa dijadikan barang bukti.
1. RS Persada Malang akui tidak ada CCTV di ruang inap pasien

Sub Komite Etika dan Disiplin Profesi RS Persada Malang, dr Galih Endradita menyampaikan jika tidak ada CCTV di tempat korban dirawat inap saat kejadian. Diketahui jika korban saat kejadian dirawat inap di kamar VIP.
"CCTV itu tidak boleh berada di wilayah pelayanan oleh dokter seperti di ruang rawat inap itu azasnya kerahasiaan, jadi tidak terpantau CCTV. Yang terpantau CCTV itu area-area publik yang berpotensi terjadi kekerasan seperti IGD," terangnya saat dikonfirmasi pada Sabtu (19/4/2025).
Meskipun tidak ada CCTV di ruang inap pasien, tapi Galih mengatakan masih ada CCTV di lorong-lorong menuju ruang rawat inap pasien. CCTV ini dipasang untuk memantau siapa saja yang masuk atau keluar ruangan, dan apakah ada kejadian kekerasan di rumah sakit.
2. Rekaman CCTV 2 tahun yang lalu sudah terhapus

Meskipun ada CCTV di lorong-lorong menuju ruang rawat inap, Galih menyampaikan jika mereka tidak bisa menyerahkan hasil CCTV kepada pihak kepolisian. Hal ini dikarenakan ada batas waktu sampai kapan hasil rekaman CCTV disimpan di pusat penyimpanan.
"Kemudian penyimpanan data CCTV itu terbatas, otomatis kalau 3 tahun kita sudah tidak menyimpan. Penyampanan ini tidak permanen, mungkin hanya 2 minggu, kalau lebih dari itu otomatis terhapus. Sehingga saat yang bersangkutan masuk ruangan itu sudah tidak ada," bebernya.
3. RS Persada Malang sebut tak ada laporan pelecehan pada 2022

Lebih lanjut, Galih menyampaikan kalau ia masih mencoba berkomunikasi dengan korban untuk mendapatkan data tambahan. Ini dikarenakan kasus ini telah berlalu sejak 2 tahun lalu, sehingga mereka kesulitan mengumpulkan bukti-bukti dan keterampilan dari saksi.
"Kemudian tidak ada komplain, biasanya kalau ada masalah seperti itu biasanya ada komplain. Biasanya kalau ada kejadian seperti ini ada komplain di media sosial dan kami biasanya menanyakan bagaimana kepuasan dsri pelayanan di rumah sakit. Tapi ini tidak ada sama sekali, kami bahkan baru tahu setelah diinfokan teman-teman melalui media. Sehingga informasi kita juga terbatas," pungkasnya.





















