Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kiai Miftachul Akhyar yang Kembali Jadi Rais Aam PBNU
Rais Aam PBNU KH Mifcathul Akhyar sambutan penutupan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 yang digelar di Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil, Bangkalan, Selasa (23/6/2026). Tangkapan Layar YouTube.
  • KH Miftachul Akhyar kembali ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031 melalui musyawarah AHWA pada Muktamar ke-35 NU di Jombang.
  • Sebelum terpilih, Kiai Miftach menjadi satu dari sembilan anggota AHWA; ia sebelumnya menjabat Rais Aam periode 2022-2027 dan Pj Rais Aam pada 2018-2020.
  • Ulama kelahiran Surabaya ini memiliki rekam jejak pendidikan pesantren dan kepemimpinan NU, serta mendirikan Pesantren Miftachus Sunnah sambil rutin menggelar pengajian Al-Hikam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jombang, IDN Times - KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya memimpin jajaran Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai Rais Aam masa khidmah 2026-2031. Penetapan tersebut menjadi kelanjutan pengabdian Kiai Miftach di pucuk kepemimpinan NU setelah sebelumnya mengemban amanah yang sama pada periode 2022-2027.

Kiai Miftach terpilih sebagai Rais Aam melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Sebelum kembali dipercaya menjadi Rais Aam. Kiai Miftach terlebih dahulu terpilih sebagai salah satu dari sembilan anggota AHWA. Posisi tersebut juga pernah diembannya pada Muktamar ke-34 NU yang kemudian mengantarkannya menjadi Rais Aam PBNU masa khidmah 2022-2027.

Kelahiran Surabaya pada 1953, Kiai Miftach tumbuh dari keluarga pesantren. Ia merupakan putra kesembilan dari 13 bersaudara, anak KH Abdul Ghoni, pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya.

Lingkungan keluarga pesantren menjadi fondasi awal perjalanan keilmuan Kiai Miftach. Sang ayah dikenal sebagai sosok kiai yang sangat memuliakan tamu. Nilai-nilai tersebut tumbuh bersama pendidikan agama yang ditempuh Kiai Miftach di sejumlah pesantren di Jawa.

Ia pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Tambakberas dan Pondok Pesantren Sidogiri di Jawa Timur, serta Pondok Pesantren Lasem di Jawa Tengah. Kiai Miftach juga memperdalam ilmu melalui Majelis Ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Makki di Malang.

Selepas menempuh pendidikan di sejumlah pesantren, Kiai Miftach mulai membangun tradisi pengajian di lingkungan tempat tinggalnya. Aktivitas tersebut kemudian berkembang hingga berdirinya Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Jalan Kedung Tarukan Nomor 100, Surabaya.

Pengabdian Kiai Miftach di NU juga memiliki rekam jejak panjang. Ia mengawali kiprah struktural sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya periode 2000-2005. Karier organisasinya kemudian meningkat ke tingkat Jawa Timur. Kiai Miftach dipercaya menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur selama dua periode, yakni 2007-2013 dan 2013-2018.

Di tingkat PBNU, ia dipercaya menjadi Wakil Rais Aam PBNU periode 2015-2020. Kiai Miftach kemudian menjalankan tugas sebagai Pj Rais Aam PBNU pada 2018-2020 sebelum akhirnya terpilih sebagai Rais Aam definitif untuk masa khidmah 2022-2027.

Kini, setelah kembali dipercaya memimpin sebagai Rais Aam PBNU 2026-2031, Kiai Miftach memasuki babak baru dalam perjalanan pengabdiannya di organisasi Islam terbesar tersebut. Di tengah kesibukannya sebagai ulama dan pemimpin organisasi, Kiai Miftach tetap menjaga tradisi pengajian. Salah satu rutinitasnya adalah menggelar pengajian kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari setiap Jumat setelah salat Jumat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article