Potensi Bencana di Magetan Meningkat, Pemuda Dilatih Tanggap Bencana

Magetan, IDN Times - Potensi bencana alam di Kabupaten Magetan meningkat seiring dengan tingginya intensitas hujan yang berlangsung. Oleh karena itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Magetan memetakan sejumlah wilayah rawan terjadi bencana.
Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Magetan, Fery Yoga Saputra, mengatakan 18 wilayah kecamatan berpotensi terjadi angin kencang. “Kali ini, angin potensinya merata. Biasanya hanya wilayah Panekan, Sukomoro, Maospati, Magetan, Takeran, dan Bendo,’’ kata Fery, Minggu (24/2).
1.Tujuh kecamatan rawan longsor

Sedangkan daerah yang dinyatakan rawan tanah longsor berada di wilayah tujuh kecamatan. Ketujuh kecamatan itu yaitu, Poncol, Parang, Plaosan, Panekan, Sidorejo, Magetan, dan Ngariboyo.
Selain itu, sedikitnya 10 desa di wilayah Kecamatan Kartoharjo, Barat, Lembeyan, Plaosan, Panekan, Magetan, dan Kawedanan disebut sebagai daerah berpotensi banjir. “Untuk menanggulangi bencana, maka kami menjalankan program pelatihan kepada seluruh elemen masyarakat,’’ kata Fery kepada IDN Times.
2.Karang Taruna dapat pelatihan tanggap bencana

Karena Magetan rawan bencana, BPBD Magetan adakan pelatihan penanggulangan bencana. Pelatihan itu diberikan kepada generasi millennials di Desa Sumberdukun, Kecamatan Ngariboyo.
Sejumlah anggota karang taruna desa setempat mengikuti pelatihan dasar pemuda tanggap bencana di Embung Klumpit, Desa Banyudono, Kecamatan Ngariboyo sejak Sabtu (23/2) hingga Minggu (24/2).
Pelatihan itu dibagi menjadi dua sesi, yaitu materi dan praktik dengan pelatih dari Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Magetan. “Pelatihan ini merupakan permintaan dari pemuda desa. Mereka menghendaki pengenalan pengetahuan tentang water rescue dan penyelamatan atau penanganan awal apabila terjadi laka air,’’ Fery menjelaskan.
3.Peserta pelatihan ikuti praktek penanggulangan kecelakaan air

Gigin Sasmita, Operator Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB), mengatakan pelatihan bagi kalangan millennials baru pertama kali dilakukan. Adapun pelatihan yang diberikan terdiri dari cara mengevakuasi korban di air, evakuasi korban kecelakaan vertikal dari ketinggian, dan penanganan media pertama atau medical first respon (MFR).
Dalam simulasi evakuasi korban di air, para penyelamat menyelamatkan korban kecelakaan air dengan menggunakan perahu karet. Sedangkan penyelamatan korban kecelakaan vertikal atau dari ketinggian menggunakan tali karmantle dan kereta.
"Setelah berhasil diselamatkan, para korban mendapatkan penanganan medical first respon," kata Gigin.
















