Peringati Maulid Nabi, Warga Kota Madiun Rebutan Gunungan

Madiun, IDN Times - Sejumlah tradisi dilakukan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1440 Hijriyah yang jatuh pada Selasa (20/11). Di Alun-Alun Kota Madiun, perayaannya dilakukan dengan kirab dan rebutan dua gunungan jaler dan estri.
1. Gunungan berisi makanan dan kue

Gunungan jaler berisi beragam sayuran, seperti terong, cabe, kacang panjang, dan gambas. Sedangkan gunungan estri berisi jajanan pasar, di antaranya donad, bolu kukus, dan bakpao. Warga ingin berebut mendapatkan beberapa dari jenis komoditas yang menempel di gunungan dapat mendatangkan berkah.
2. Tua-muda berebut isi gunungan

Gunungan jaler dan estri diarak dari Masjid Kuno Taman hingga Alun-Alun Kota Madiun. Peserta pawai dalam kegiatan bertajuk Grebeg Maulud menempuh jarak sekitar tujuh kilometer dengan berjalan kaki. Mereka mengenakan sejumlah pakaian adat yang mayoritas asli Jawa.
Setelah tiba di alun-alun, peserta pawai meletakkan gunungan itu. Tak berapa lama, ratusan warga yang sebelumnya berada di tepi berjalan ke tengah lapangan. Mereka berdesakan dan saling berebut komoditas yang dipajang di gunungan jaler dan estri.
“Dapat jagung, bakpao juga. Ini untuk cucu saya dan semoga mendapat berkah,’’ kata Lastri, salah seorang warga yang ikut berebut isi gunungan estri.
3.Wali Kota menyatakan pelaksanaan Grebeg Maulud kurang optimal

Meski diikuti ratusan warga, namun Wali Kota Madiun, Sugeng Rismiyanto, menyatakan kegiatan Grebeg Maulud kali ini kurang optimal. Sebab, tidak dibarengi dengan bazar usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). “Menurut saya kurang optimal. Mestinya ada bazar UMKM selama tiga atau tujuh hari di alun-alun. Ke depan perlu ditata lagi,’’ ujar dia.
Ia mengungkapkan itu bukan tanpa alasan. Grebeg Maulud sudah ditetapkan menjadi ikon wisata budaya religi selama delapan tahun terakhir.. Karena itu, sudah sewajarnya jika kegiatan tersebut turut mengangkat perekonomian pelaku UMKM.
4.Grebeg Maulud sebelum 2010 berlangsung di kawasan Masjid Kuno Taman

Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kota Madiun, Ki Sugito mengatakan tradisi Grebeg Maulud itu awalnya hanya berlangsung di kawasan Masjid Kuno Taman. Namun, sejak delapan tahun lalu pemkot meminta agar ruang pelaksanannya diperluas hingga ke alun-alun. Adapun tujuannya menjadikan tradisi itu sebagai aset wisata budaya religi.
5. Grebeg Maulud adalah tradisi dari kesultanan

Grebeg Maulud yang berlangsung di Kota Madiun, Sugito, menjelaskan merupakan tradisi dari Yogyakarta dan Solo. Kedua Kesultanan itu dulunya merupakan bagian dari Kerajaan Demak yang terpecah setelah perjanjian Giyanti pada 1755 Masehi.
‘’Raden Prawiro Dirjo I (penguasa Madiun kala itu) mengangkat Kyai Misbah menjadi ulama untuk memimpin umat Islam di Madiun,’’kata Sugito.
Oleh Kyai Misbah, tradisi yang biasa disebut sekaten dilanjutkan. Hingga sekarang budaya itu tetap dijalankan setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Intinya sebagai syiar agama Islam di Kota Madiun seperti yang dilakukan Kyai Misbah,’’ ujar Sugito.



















