Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Penumpang Bus AKDP Jatim Anjlok 40 Persen, PO Pangkas Armada

Kota Surabaya
Penumpang Bus AKDP Jatim Anjlok 40 Persen, PO Pangkas Armada
Kondisi Terminal Purabaya Bungurasih terkini. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Jumlah penumpang bus AKDP di Jawa Timur merosot hingga 40 persen akibat lesunya ekonomi, sehingga perusahaan otobus memangkas armada operasional sampai separuh.
  • Pengusaha mengatur armada dan rit perjalanan untuk memaksimalkan keterisian kursi, termasuk hanya menjalankan perjalanan pagi dan sore pada trayek Surabaya-Malang.
  • Bisnis AKDP juga tertekan kenaikan harga suku cadang, biaya perawatan, fluktuasi dolar, serta penyusutan komponen vital kendaraan yang harus dijaga tetap laik dan aman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Lesunya perekonomian mulai menghantam bisnis transportasi darat di Jawa Timur (Jatim). Jumlah penumpang bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dilaporkan merosot hingga 40 persen, memaksa Perusahaan Otobus (PO) memangkas operasional armada demi menekan kerugian.

Ketua DPD Organda Jatim, Firmansyah Mustafa mengatakan, penurunan penumpang membuat pengusaha bus harus melakukan efisiensi secara ketat. Sejumlah PO bahkan mengurangi jumlah bus yang beroperasi hingga separuh dari kondisi normal. "Daripada beroperasi penuh tapi hasilnya nihil, kami harus realistis. Jika biasanya satu PO menerjunkan 10 unit armada, sekarang cukup 5 unit saja yang jalan," ujarnya, Selasa (25/8/2026).

Firmansyah mengungkapkan, pengurangan armada bukan berarti permintaan sepenuhnya hilang. Pengusaha justru mengatur jumlah bus agar tingkat keterisian penumpang lebih tinggi sehingga biaya operasional tidak terbuang. "Prinsipnya, lebih baik jumlah bus yang jalan sedikit, tapi kursi terisi penuh. Itu jauh lebih masuk akal dibanding dipaksakan jalan semua tapi kosong," ungkapnya.

Efisiensi juga diterapkan melalui pengaturan rit perjalanan. Strategi tersebut terutama dilakukan pada jalur dengan tingkat permintaan relatif tinggi, seperti trayek Patas Surabaya-Malang. Firmansyah mencontohkan, dalam kondisi normal satu bus bisa melayani hingga empat rit perjalanan dalam sehari. Kini, sebagian pengusaha memilih hanya mengoperasikan rit pertama pada pagi hari dan rit keempat pada sore hari.

Pada rit pagi, bus membawa penumpang dari Surabaya menuju Malang. Setelah tiba, bus tidak langsung kembali ke Surabaya, tetapi ditahan terlebih dahulu. Armada baru kembali beroperasi pada rit sore untuk mengangkut penumpang dari Malang menuju Surabaya. "Dengan pola itu, keterisian kursi di kedua perjalanan bisa maksimal 100 persen dan operasional tidak terbuang sia-sia," jelasnya.

Tekanan terhadap bisnis AKDP tidak hanya berasal dari penurunan jumlah penumpang. Pengusaha juga menghadapi kenaikan harga suku cadang serta biaya perawatan kendaraan yang semakin tinggi.

Fluktuasi nilai tukar dolar terhadap rupiah turut berdampak terhadap harga sejumlah komponen kendaraan. Di sisi lain, ban dan komponen vital lainnya mengalami penyusutan yang harus ditanggung pengusaha agar armada tetap laik dan aman digunakan.

Kondisi tersebut membuat pengusaha harus berhitung lebih ketat sebelum memutuskan jumlah armada dan perjalanan yang dijalankan setiap hari.

"Pengusaha PO yang hari ini masih bertahan adalah pejuang transportasi yang sesungguhnya. Kuncinya saat ini adalah cermat berhitung dan menjaga keandalan servis agar kepercayaan penumpang tetap terjaga," pungkas Firmansyah.

    Share Article

    Curated For You

    Editorial Team

    Related Articles

    See More