Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jatim Kirim Tim Psikososial ke NTT, Khofifah Pulihkan Senyum Anak-Anak

Kota Surabaya
Jatim Kirim Tim Psikososial ke NTT, Khofifah Pulihkan Senyum Anak-Anak
Khofifah saat mengunjungi SD Inpres Robo, Desa Ranaka, Kecamatan Wae Ri'i, Kabupaten Manggarai, Minggu (23/8/2026). Dok. Pemprov Jatim.
  • Pemprov Jawa Timur mengirim empat personel Layanan Dukungan Psikososial ke Flores, NTT, untuk mendampingi korban gempa melalui konseling, penguatan, dan trauma healing selama tiga hari di lokasi.
  • Gubernur Khofifah Indar Parawansa menekankan pemulihan bencana harus mencakup kesehatan mental anak-anak, orang tua, dan lansia, selain bantuan logistik, tempat tinggal, pangan, serta layanan kesehatan.
  • Saat mengunjungi SD Inpres Robo di Manggarai, Khofifah mengajak anak-anak bermain, bernyanyi, dan membangun semangat agar kembali merasa aman, beraktivitas, serta bersekolah ketika fasilitas dinyatakan aman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) tidak hanya mengirim bantuan logistik untuk warga terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemprov Jatim juga mengirim tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) untuk membantu memulihkan kondisi mental anak-anak, orang tua, dan lansia yang terdampak bencana.

Tim beranggotakan empat orang tersebut telah berada di lokasi selama tiga hari untuk memberikan pendampingan, konseling, serta trauma healing kepada warga. Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menegaskan pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan kebutuhan pangan, pakaian, tempat tinggal, dan layanan kesehatan terpenuhi.

Menurutnya, gempa dapat meninggalkan rasa takut dan tekanan psikologis, terutama bagi anak-anak. Maka, pendampingan psikososial menjadi bagian penting dari proses pemulihan agar mereka kembali merasa aman dan mampu menjalani aktivitas seperti sebelum bencana.

“Kami mengirim tim LDP, layanan dukungan psikososial. Tim LDP ini ada empat orang yang sudah tiga hari mereka di sini. Jadi ini tim trauma healing. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan penguatan kepada anak-anak, bapak-ibu, dan lansia. Mereka membutuhkan waktu untuk mendapatkan pendampingan, konseling, dan trauma healing,” ujar Khofifah saat mengunjungi SD Inpres Robo, Desa Ranaka, Kecamatan Wae Ri'i, Kabupaten Manggarai, Minggu (23/8/2026).

Khofifah sengaja mengajak anak-anak berbincang dan bermain untuk membangun kembali suasana ceria di tengah situasi pascabencana. Ia menanyakan cita-cita mereka, termasuk siapa yang ingin menjadi gubernur dan bupati.

“Ada yang ingin jadi gubernur? Coba angkat tangan. Ada yang ingin jadi bupati?” tanya Khofifah.

Sejumlah anak langsung mengangkat tangan. “Saya, Bu! Saya!” teriak salah seorang anak dengan penuh semangat.

Khofifah kemudian memberikan motivasi agar anak-anak tidak kehilangan keberanian untuk bermimpi meski sedang menghadapi situasi sulit.

“Mudah-mudahan semua cita-cita kalian tercapai. Yang ingin jadi tentara atau polisi, semoga bisa menjadi jenderal. Jadilah anak-anak Indonesia yang luar biasa,” katanya.

Keceriaan semakin terasa ketika Khofifah mengajak anak-anak bernyanyi bersama. Lagu “Hari Merdeka” dan “Garuda Pancasila” dinyanyikan dengan penuh semangat. Anak-anak mengikuti nyanyian sembari mengikuti gerakan tangan Khofifah.

Di tengah proses pemulihan akibat gempa, momen tersebut menjadi bagian dari upaya mengembalikan rasa aman dan keceriaan anak-anak. Khofifah menilai anak-anak merupakan kelompok yang membutuhkan perhatian khusus karena pengalaman bencana dapat meninggalkan trauma dan rasa takut.

Ia pun menegaskan pendampingan psikososial tidak boleh dilakukan hanya sekali. Proses pemulihan mental membutuhkan waktu dan harus menyesuaikan kondisi masing-masing korban.

“Jadi prosesnya tidak cukup hanya sekali. Penguatan, konseling dan trauma healing ini membutuhkan waktu. Karena itu, pendampingan harus terus dilakukan agar anak-anak, bapak-ibu dan lansia bisa kembali kuat setelah menghadapi bencana,” tegasnya.

Pemprov Jatim menempatkan layanan psikososial sebagai bagian dari penanganan bencana yang berjalan berdampingan dengan bantuan logistik dan layanan kesehatan. Jika bantuan logistik ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar, pendampingan psikososial diarahkan untuk membantu warga membangun kembali kekuatan mental dan rasa percaya diri setelah mengalami bencana.

Khofifah berharap pendampingan tersebut membuat anak-anak secara bertahap kembali berani beraktivitas, bermain, berinteraksi dengan teman, dan bersekolah ketika kondisi fasilitas pendidikan sudah dinyatakan aman.

“Kalau sekolah sudah bisa digunakan, siap sekolah lagi?” tanya Khofifah.

“Siap!” jawab anak-anak serentak.

“Bahagia kita mendengar semangat mereka. Sekolahnya nanti kalau sudah aman dan sudah bisa digunakan, kita kembali sekolah,” ujarnya.

Khofifah juga mengajak orang tua, guru, tenaga kesehatan, relawan, pemerintah daerah, dan masyarakat sekitar untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung pemulihan psikologis anak-anak.

“Anak-anakku, kalian tidak sendiri. Kita semua bersaudara. Tetap semangat, sehat dan kuat untuk menghadapi ujian ini. Mudah-mudahan yang sakit segera sembuh dan anak-anak dengan ceria dan semangatnya bisa kembali bersekolah untuk mencapai cita-cita yang luar biasa,” pesan Khofifah.

Menurutnya, semangat gotong royong dalam penanganan bencana harus menyentuh seluruh kebutuhan korban. Bantuan material diperlukan untuk bertahan dalam masa darurat, layanan kesehatan dibutuhkan untuk pemulihan fisik, sedangkan dukungan psikososial diperlukan agar masyarakat mampu bangkit secara mental.

“Kita semua bersaudara. Kita hadir bersama-sama untuk membantu saudara-saudara kita di sini,” pungkasnya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More