Petani di Banyuwangi saat menyimpan jagung di atas lumbung (jurung). Selama proses menyimpan ada tradisi tidak boleh berbicara. IDN Times/Istimewa
Koordinator Komunitas Kampung Papring Kreatif, Widie Nurmahmudy mengatakan, ide tersebut bermula ketika dia dan delapan anggota komunitasnya ingin mengetahui sejarah lumbung pangan di desanya, sekaligus membuat konten video di media sosialnya. Momen tersebut digunakan untuk berdialog mengajak petani menghidupkan kembali lumbung pangannya menghadapi dampak COVID-19. Lumbung penyimpanan jagung tersebut bernama jurung.
"Kita masing masing anggota komunitas saling berbagi dokumentasi, ngobrol dengan petani langsung di lokasi. Tanya sejarah lumbung, bukan skala desa. Kalau skala rumah tangga namanya jurung. Kami tanya kenapa jurung gak dimanfaatkan lagi, apalagi menghadapi dampak wabah saat ini, dan ternyata petani juga mendukung ide kami," ujar Widie saat dihubungi via telepon, Kamis (30/4).
Selain alasan ketahanan pangan, para pemuda berharap dengan aktifnya kembali lumbung, petani tidak lagi bingung dengan bibit yang harus di tanam di musim selanjutnya.
"Waktu musim tanam biasanya beli bibit lagi, apa gak rugi. Jadi petani ada yang baru buat lumbung lagi, ada yang sudah punya. Harapan kami bisa mengembalikan lumbung skala rumah tangga," katanya.
Para pemuda juga mengajak petani untuk menjual hasil panennya sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan. Harapannya petani bisa mengatur pengeluaran sesuai kebutuhan dengan tidak tidak menjual dalam jumlah banyak.
"Tiap bulan keluarkan berapa kilogram, dijual dicicil, selama pandemi. Kalau langsung dijual semua takutnya gak bisa mengelola keuangannya, habis, bingung lagi. Prinsipnya orang kalau punya cadangan makanan tidak akan takut lapar, pikirannya ayem dan tentram," ujarnya.