Nyala Terang Lereng Gunung Raung Berkat PLTM Sumberarum 2

Banyuwangi, IDN Times - Deras aliran sungai saling bersahutan turun dari balik rimbunnya hutan di Lereng Gunung Raung. Sungai itu melintasi Dusun Sumberasih, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Suaranya beradu dengan deru turbin Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) Sumberarum 2.
Air sungai bersih dan jernih yang keluar dari rumah pembangkit mengalir ke lahan pertanian warga. Tanaman sayur, palawija, hingga buah terlihat sangat segar dan hijauh sepanjang mata memandang.
Suprapto (51), tampak berdiri di dekat pipa besar yang membentang sepanjang 1 kilometer tersebut. Pipa itu menjadi penghubung antara bak penenang penampung air sungai dengan turbin PLTM Sumberarum 2. Sambil memandangi pipa-pipa tersebut, ingatan Suprapto kembali ke empat tahun silam. Saat itu, desa tempatnya tinggal tak seperti sekarang. Listrik cuma ada pagi hingga siang hari. Saat sore datang, desanya akan redup.
Jika dilihat dari kejauhan, kampungnya hanya sebuah desa kecil di kaki Raung dengan cahaya samar-samar. "Dulu, mulai maghrib sampai jam 9 malam tegangan itu drop, jadi lampu rumah warga redup," kata dia, Selasa (22/10/2024)
Kampung tempat Suprapto tinggal merupakan desa terakhir di Kecamatan Songgon yang berbatasan langsung dengan hutan di Lereng Gunung Raung. Kondisi ini membuatnya terisolir dari dunia luar. Sebab, batas antara Desa Sumberarum dengan pemukiman lainnya adalah hutan pinus. Sumberarum juga menjadi ujung dari jaringan listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN). Akibatnya, tegangan listrik kecil. "Gardu PLN dari desa ini hampir 3 kilometer lah, sehingga listriknya redup," ungkap dia. Tak ada aktivitas luar ruangan yang bisa dilakukan di malam hari selain berdiam di rumah.
Namun, kabar bahagia itu akhirnya datang dari PLN tiga tahun lalu. Sebuah rencana pembangunan PLTM sampai di telinga Suprapto. Harapan itu pun muncul. Ia yakin desanya akan terang dan tak lagi tertinggal. Yang membuatnya tenang, pembangkit tersebut ramah lingkungan. "Saya bagian kecil dari masyarakat, yang punya mimpi, dusun saya bisa lebih baik," jelasnya,
Suprapto pun ikut andil dalam pembangunan PLTM. Salah satu peran yang ia mainkan adalah sosialisasi tentang pentingnya pembangkit listrik kepada warga. "Saya dengan teman-teman, ada saya, kepala dusun dan kelompok tani saat ada investor itu kita dukung. Sosialisasi kita bantu. Kita ingin kampung kita maju," terang dia.
PLTM yang dibangun mulai 2021 itu pun bisa mulai beroperasi tahun 2023. PLTM tersebut akhirnya beroperasi. Tak cuma menerangi kampungnya, PLTM Sumberarum kini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Suprapto sendiri misalnya, kini dia memliki warung kelontong yang cukup modern, lengkap dengan kulkas untuk berjualan es krim. Boro-boro punya kulkas, punya penerangan layak di malam hari saja ia tak pernah membayangkan.
"Setelah tegangan listrik bagus seperti sekarang, kayak rumah saya ada kulkas untuk jual es krim, karena tegangannya normal, kalau dulu seandainya jual es krim, gak kuat untuk menyalakan kulkas," jelasnya.
Tak jauh dari tempat tinggal Suprapto, suara deru mesin penghalus kayu memecahkan sunyi Desa Sumberarum yang tenang. Imam (40) sibuk menyurut kayu sengon yang dia dapat dari kampungnya untuk usaha mebel. Sama dengan Suprapto, dulu ia tak pernah membayangkan menggunakan mesin serut kayu seharian. Untuk mengoperasikan alat-alat produksi mebel ia musti memenyalakan genset. Dia pun irit-irit menggunakan genset karena biaya bahan bakarnya tak ramah di kantong.
"Dulu itu mengerjakan mebel pintu satu hari cuma bisa satu saja, pakai genset bahan bakarnya satu hari bisa mencapai Rp100 ribu," ujar Imam seraya menyerut kayu mebel. Kini ia bisa puas menggunakan mesin penghalus kayu tanpa takut rugi.

Semenjak PLTM dibangun di desanya, listrik melimpah, usaha Imam pun semakin berkembang. Yang sebelumnya dalam sehari dia memproduksi satu mebel, kini dia bisa tiga sekaligus. "Sekarang kita bisa pakai listrik, bayarnya mungkin sehari cuma Rp10 ribu, beda jauh dengan menggunakan genset. Sekarang genset saya pakai kalau lagi darurat saja," terangnya.
Tentu saja, keuntungannya melesat jauh. Satu mebel daun pintu saja dia jual dengan harga Rp500 ribu. "Kalau dulu satu hari dapat Rp500 ribu, sekarang bisa Rp1,5 juta, dulu masih dipotong uang bensin untuk genset," kata dia.
PLTM yang menjadi sumber energi listrik utama itu sendiri adalah milik PT Mega Hidro Energi. Perusahaan itu memilih membangun pembangkit listrik di tempat tersebut karena sumber air yang melimpah. Manager Keuangan dan Administrasi PT Mega Hidro Energi, Bambang Isa Kristanto mengatakan, PLTM Sumberarum 2 memiliki dua turbin. Total listrik yang dihasilkan dari PLTM tersebut mencapai 3 Megawatt. "Kita ini ada dua turbin, satu turbin menghasilkan 1,5 Megawatt, dua turbin menjadi 3 Megawatt," kata dia.
PT Mega Hidro Energi bekerjasama dengan PT PLN (Persero) dengan jangka waktu 25 tahun dalam jual beli listrik. PLN membeli listrik dari PT Mega Hidro Energi karena pembangkit tersebut ramah lingkungan dan sesuai dengan target zero emission 2060. "PLN pasti membeli (listrik dari PLTM Sumberarum). Semua penyaluran (listrik) dari PLN," jelasnya.
Bambang menyebut, harga jual listriknya ke PLN jauh lebih murah jika dibanding dari pembangkit listrik lainnya. Hal ini karena biaya produksi listrik dari PLTM juga lebih murah. “Kalau di kita, kita jual 1 kWh-nya Rp965, kalau di pembangkit listrik tenaga uap bisa Rp1000 lebih per kWh," tutur Bambang.
Investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk membangun PLTM tersebut adalah Rp70 miliar. Dengan estimasi jangka waktu balik modal dalam waktu 5 tahun saja. “Untuk jangka waktu kerjasama jual listrik ke PLN sampai 25 tahun,” kata Bambang.
Ia mengklaim, selain turut serta menyediakan listrik dengan nol emisi untuk masyarakat. Perusahaan juga memiliki kewajiban menjaga agar kondisi mata air Lereng Gunung Raung tetap terjaga. Salah satunya dengan rutin melakukan penanaman pohon di hutan.
Meski PLTM terlihat sangat baik, nyatanya pembangkit ini juga punya kekurangan. Salah satunya saat musim kemarau. Selagi debit air sungai turun, listrik yang dihasilkan juga lebih sedikit. "Kalau musim kemarau debit air turun, dengan turunnya debit air, menjadi turun juga produksi (listriknya), kapasitas produksi 3 Megawatt itu tidak sampai full, bisa hanya 75 persen hingga 50 persen,” jelasnya.
Tak cuma itu, karena PLTM mengandalkan kondisi alam, bukan tidak mungkin bergelut dengan ancaman bencana alam. Terlebih letaknya di lereng gunung, kekhawatiran terbesar adalah banjir bandang hingga tanah longsor.

Sementara itu, Asisten Manager Transaksi Energi PT PLN (Persero) Unit Pelaksanaan Pelayaan Pelanggan (UP3) Banyuwangi, Hendrik Purwahyudi mengatakan, upaya PLN menekan laju emisi karbon.Adanya pembangkit ini kata dia, juga dapat menaikkan tegangan suplai ke pelanggan. "Tegangan yang dirasakan pelanggan dibawah 200 volt, maka dengan interkoneksinya pembangkit ini (PLTM) suplai pelanggan seolah-olah menjadi pangkal jaringan, sehingga tegangan bisa naik ke level 220 volt sesuai dengan standart," katanya.
Hendrik menuturkan, setidaknya ada 2 PLTM yang berada di Kecamatan Songgon, yakni PLTM Sumberarum 2 dan PLTM Bayu. 2 PLTM itu terkoneksi dengan penyulang Kaligondo milik PLN. Jumlah pelanggan yang disuplai dari dua PLTM tersebut mencapai 7.300. Sementara total pelanggan PLN Kabupaten Banyuwangi adalah 639.131.
Tercatat kini ada 9 titik pembangkit listrik di Banyuwangi yang bersumber dari Energi Baru Terbarukan (EBT), 2 PLTM dan 7 Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). “Dalam waktu dekat ini, akhir tahun akan beroprasi PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) Ijen, satu unitnya kurang lebih 55 MVA, nanti interkoneksinya di 150 KVA, langsung masuk interkoneksi," katanya.
General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jawa Timur (UID Jatim), Ahmad Mustaqir mengatakan, dari 10.239 MW listrik yang dihasilkan, 4,03 persennya atau 415,7 MW, dihasilkan dari PLT EBT. Mereka pun memasang target 9.634 MW di tahun 2030. "PLN berupaya menambah PLT EBT dengan membangun sistem kepulauan yang tersebar di kepulauan dengan pembangkit PLTS, menambah pembangkit PLTM di sistem 20 kV , melakukan hybrid di sistem yang ada di kepulauan antara PLTD dengan PLTS.''
Data dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, kenaikan PLT EBT mengalami kenaikan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

Apa yang diupayakan PLN dan warga Sumberarum sejalan dengan target besar perseroan dalam mendorong transisi energi. “Bumi memanas, tugas kita adalah bagaimana memastikan kehidupan generasi mendatang lebih baik dari hari ini. Melalui transisi energi, kami terus memastikan bahwa energi yang kita gunakan bukan hanya andal tapi juga ramah lingkungan,” ujar Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo.
Tercatat, realisasi kapasitas terpasang pembangkit EBT di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 8.786 megawatt (MW) mengalami pertumbuhan 261 MW dibandingkan tahun 2022 sebesar 8.525 MW. Pembangkit Listrik Hydro menyumbangkan porsi terbesar dengan komposisi sebesar 5.777 MW.

PLN, kata dia, juga secara masif mendorong implementasi biomassa atau co-firing PLTU sebagai substitusi batu bara. Hingga akhir 2023, program biomassa telah diimplementasikan pada 43 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). “Teknologi co-firing merupakan sebuah terobosan dalam transisi energi di tanah air. Sebab, dengan teknologi ini, banyak manfaat yang didapatkan, selain pengurangan emisi juga akan mengurangi penggunaan energi fosil. Lebih dari itu, co-firing juga mendorong perekonomian kerakyatan lewat keterlibatan langsung masyarakat dalam pengembangan biomassa,” kata Darmawan.
Ke depannya, program ini akan terus dilakukan secara masif di mana pada 2025 mendatang, implementasi cofiring ditargetkan dapat dilakukan pada 52 PLTU. “Dalam mendorong transisi energi di Indonesia PLN tidak bisa menghadapinya dengan suasana kesendirian, perlu adanya kolaborasi dari seluruh pihak. Oleh karena itu PLN akan terus mengoptimalkan setiap potensi yang ada untuk terus menghadirkan energi bersih bagi masyarakat,” pungkas Darmawan.


















