Menenun Harapan, Perjalanan Kasi Desa di Sidoarjo Meredam Stunting

- Ruben, Kasi Pelayanan Desa Pepelegi, Sidoarjo, berjuang melawan stunting setelah menyaksikan keponakannya yang mengalami pertumbuhan fisik dan kemampuan bicara tertinggal jauh.
- Pada tahun 2022, Ruben diangkat sebagai perangkat Desa Pepelegi dan memulai langkah awal dengan menyusun 20 resep makanan inti dan kudapan tinggi kalori tanpa penyedap rasa untuk anak sasaran.
- Tahun 2024, Ruben berhasil meningkatkan berat dan tinggi badan anak-anak dengan membagikan susu tinggi gizi secara masif. Selain itu, ia juga membentuk "Kelas Stimulasi Bintang Kejora" dengan metode Montessori dan ilmu parenting.
Sidoarjo, IDN Times - Stunting bukan hanya kumpulan data statistik di atas kertas. Bagi Kasi Pelayanan Desa Pepelegi, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Fadfash Muhammad Rusyda, atau yang akrab disapa Ruben, stunting adalah gambaran mungil keponakannya sendiri. Lewat Kebijakan yang ia keluarkan, pria itu pun bertekad memerangi stunting di desanya.
Kisah Ruben ini bermula pada 2020 silam. Kala itu ia baru mendapat peran baru sebagai seorang ayah bagi anak pertamanya, Azka. Di tengah kebahagiannya menjadi seorang ayah, Ruben menyaksikan pemandangan menyedihkan dari seorang keponakannya, Yasa yang tepaut dua bulan dari Azka.
Yasa tak tumbuh sehat seperti Azka. Kulit Yasa mengelupas setelah makan protein laut, pertumbuhan yang stagnan, hingga helai rambut yang tampak kering seperti rambut jagung.
"Awalnya saya cuek. Tapi lama-lama saya sadar, pertumbuhan fisik dan kemampuan bicaranya tertinggal jauh," ujar Ruben, Senin (12/1/2026).
Puncaknya sang adik merasa malu untuk membawa anaknya ke Posyandu karena stigma yang melekat. Dari situ Ruben bertekad membantu Yasa.
Beruntungnya, di tahun 2022, Ruben diangkat sebagai perangkat Desa Pepelegi. Baginya itu bukan hanya jabatan tapi juga jalan menebus kegelisahannya mengatasi masalah stunting.
Ia mulai menyelami literasi stunting dari para kader kesehatan dan bidan desa. "Hati saya terketuk kencang. Ternyata banyak 'Yasa-Yasa' lain di Pepelegi, bahkan di seluruh Indonesia," ungkapnya.
Di awal dia menjabat, keputusan pertamanya adalah memerangi stunting menggunakan dana desa. Langkah awal yang dilakukan Ruben adalah menyusun 20 resep makanan inti dan kudapan tinggi kalori tanpa penyedap rasa.
"Di awal tahun 2023 kami mengumpulkan resep sehat tanpa penyedap rasa dan tinggi kalori, sehingga terkumpul 20 resep, yakni 10 resep makanan inti dan 10 resep makanan kudapan untuk dibagikan setiap 2 hari sekali kepada kurang lebih 20 anak sasaran yang sudah lolos screening Kesehatan dari Puskesmas," ungkap dia.
Niat baik tak selalu berjalan mulus, di tengah jalan ada saja tantangan yang dihadapi Ruben. Makanan yang dibagikan ke anak-anak tak selalu masuk dalam pencernaan mereka, ada yang diberi ke tetangga, dimakan saudara hingga dimakan orang tua. "Evaluasi besar-besaran kami lakukan," jelasnya.
Tahun 2024 kebijakan diubah, ia mengambil langkah berani dengan membagikan susu tinggi gizi secara masif. Hasilnya instan, berat dan tinggi badan anak-anak melonjak drastis.
"Alhamdulillah ini menjadi progress yang luar biasa terhadap BB dan TB sasaran," ungkap dia.
Sayangnya, keberhasilan Ruben itu harus terhalang aturan. Ia pun kembali memutar otak agar mimpi mengentaskan stunting di desanya bisa tercapai.
Tahun 2025, Ruben membentuk “Kelas Stimulasi Bintang Kejora". Di kelas ini, pendekatan yang digunakan bukan sekadar instruksi medis, melainkan metode Montessori dan ilmu parenting.
Tiga kali seminggu, selama satu jam, anak-anak dan ibu mereka berkumpul. Sambil anak-anak distimulasi secara psikis, mereka diberikan asupan makanan tinggi kalori.
"Di pertengahan Desember kemarin, kelas telah selesai, dan sangat kami syukuri progress BB dan TB mayoritas anak bertambah, meskipun tidak se-signifikan seperti saat kami berikan Susu, namun parubahan paling signifikan adalah psikis anak-anak dan antusiasme Ibu terhadap pengentasan stunting itu sendiri," jelasnya.
Kini, di bawah langit Pepelegi, anak-anak itu mulai tumbuh dengan harapan baru. Bagi Ruben, perjuangan ini belum usai. Ia berharap kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Yayasan PLATO, terus berlanjut untuk menularkan ilmu ke daerah lain. Karena di balik setiap angka stunting, ada masa depan yang harus diselamatkan dengan empati.


















