Ngawi, IDN Times – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Kabupaten Ngawi menyisakan persoalan serius. Sebanyak 502 Sekolah Dasar (SD) negeri dan swasta di 19 kecamatan belum mampu memenuhi kuota peserta didik baru. Bahkan, satu sekolah harus memulai tahun ajaran baru tanpa satu pun murid di kelas 1.
Age Verification
Krisis Murid di Ngawi, 502 SD Kekurangan Siswa dan Satu Sekolah Nihil

1. Hanya dua SD yang berhasil memenuhi kuota, satu sekolah tanpa murid baru
Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Ngawi menunjukkan hanya SD Negeri Karangtengah 4 dan SD Negeri Margomulyo 1 di Kecamatan Ngawi yang berhasil memenuhi pagu penerimaan siswa baru. Sebagian besar sekolah lainnya hanya menerima kurang dari 10 murid. Bahkan, tiga sekolah hanya mendapatkan dua siswa baru. Kondisi paling memprihatinkan dialami SD Negeri Rejomulyo 2, Kecamatan Karangjati, yang tidak memperoleh satu pun murid baru.
2. Sudah jemput bola ke TK, tetapi kelas 1 tetap kosong
Pelaksana Tugas Kepala SD Negeri Rejomulyo 2, Catur Sulistiyowati, mengatakan pihak sekolah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya agar tetap mendapatkan peserta didik baru. Sosialisasi dilakukan hingga ke taman kanak-kanak (TK) di desa setempat.
Namun, sedikitnya lulusan TK serta banyaknya pilihan sekolah di sekitar wilayah tersebut membuat calon siswa memilih sekolah lain. "Berbagai upaya telah kami lakukan, termasuk berkoordinasi dan melakukan pendekatan ke TK di desa. Namun hingga penutupan SPMB kami tetap tidak mendapatkan murid, sehingga kelas 1 tahun ini kosong," ujar Catur.
Meski tanpa siswa baru, SD Negeri Rejomulyo 2 tetap menjalankan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sesuai agenda tahun ajaran baru.
3. Dikbud siapkan evaluasi, regrouping menjadi salah satu opsi
Fenomena kekurangan murid juga terjadi di jenjang SMP. Sebanyak 82 SMP negeri dan swasta di Ngawi mengalami kekurangan peserta didik. Hanya SMP Negeri 1 Ngawi, SMP Negeri 1 Jogorogo, dan SMP Negeri 1 Paron yang berhasil memenuhi kuota. Sementara itu, SMP Negeri 3 Kedunggalar hanya menerima lima siswa baru.
Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dikbud Kabupaten Ngawi, Zaenal Fanani, mengatakan kondisi tersebut akan menjadi perhatian pemerintah daerah. Sekolah-sekolah dengan jumlah siswa yang sangat sedikit akan dievaluasi untuk menentukan langkah penanganan.
"Dari total 502 SD di Ngawi, masih banyak yang kekurangan siswa, bahkan ada sekolah yang tidak mendapatkan murid sama sekali. Di jenjang SMP juga ada sekolah yang siswanya sangat minim, seperti SMP Negeri 3 Kedunggalar yang hanya memperoleh lima siswa. Kondisi ini akan kami evaluasi, termasuk kemungkinan dilakukan regrouping," kata Zaenal.
Menurutnya, regrouping menjadi salah satu solusi agar proses belajar mengajar tetap efektif, sekaligus mengoptimalkan tenaga pendidik dan pemanfaatan sarana prasarana sekolah. Selain persaingan antarsekolah, menurunnya jumlah anak usia sekolah di sejumlah wilayah juga menjadi tantangan yang harus dihadapi dunia pendidikan di Kabupaten Ngawi.