Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Koridor Baru Trans Jatim di Pasuruan, Terbentur Bus Kuning
Armada Bus Trans Jatim (commons.wikimedia.org)
  • Pemprov Jatim masih mengkaji pembukaan koridor baru Trans Jatim di Pasuruan karena harus menyesuaikan dengan keberadaan bus kuning yang kini kembali ramai penumpang.
  • Dishub Jatim berhati-hati menentukan rute agar Trans Jatim tidak bersaing langsung dengan angkutan eksisting, termasuk terus berkomunikasi dengan paguyuban sopir bus kuning.
  • Salah satu opsi yang dikaji adalah jalur alternatif menuju kawasan industri dan konsep transport hub agar mobilitas pekerja tetap lancar tanpa mengganggu trayek lama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) membuka koridor baru Bus Trans Jatim di wilayah Pasuruan tidak berjalan mulus. Di balik upaya memperluas layanan transportasi publik, Pemprov dihadapkan pada tantangan besar agar kehadiran Trans Jatim tidak mematikan angkutan umum yang sudah lebih dulu beroperasi, khususnya bus kuning.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim, Nyono mengatakan, kajian pembukaan koridor Pasuruan masih terus dilakukan. Salah satu pertimbangan utama ialah keberadaan trayek bus kuning yang justru kembali bergairah setelah mendapat limpahan penumpang dari Bus Trans Jatim Koridor VI Mojokerto - Porong.

"Pasuruan masih kami lakukan studi. Karena di sana sudah ada trayek bus kuning dan sekarang justru hidup kembali karena mendapat limpahan penumpang Bus Trans Jatim Koridor VI yang melanjutkan perjalanan ke Pasuruan," ujarnya, Senin (17/6/2026).

Nyono menambahkan, efek domino beroperasinya Koridor VI membuat okupansi bus kuning meningkat. Bahkan, sejumlah operator mulai melakukan peremajaan armada karena permintaan penumpang yang terus bertambah.

"Setelah Koridor Mojokerto–Porong beroperasi, bus kuning bertumbuh pesat. Pengusahanya sampai mengganti bus-bus lama dengan armada baru karena penumpangnya meningkat," katanya.

Kondisi itu membuat Pemprov Jatim berhati-hati dalam menentukan rute koridor baru. Dishub menegaskan Trans Jatim tidak ingin menjadi pesaing langsung angkutan eksisting yang selama ini menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat Pasuruan.

"Kami tidak ingin bersaing dengan bus kuning. Karena itu kami terus berkomunikasi dengan paguyuban angkutan dan mencari skema yang tidak menimbulkan konflik," tegasnya.

Sebagai jalan tengah, Dishub mengkaji kemungkinan Bus Trans Jatim tidak melintasi seluruh jalan utama, melainkan masuk melalui jalur alternatif menuju kawasan industri. Skema tersebut dinilai lebih tepat karena mayoritas calon penumpang merupakan pekerja pabrik.

"Alternatifnya Bus Trans Jatim langsung masuk kawasan industri, sehingga tidak bersinggungan dengan trayek bus kuning. Bisa saja menuju kawasan PIER atau kawasan industri lainnya, bahkan memungkinkan memanfaatkan jalan tol. Semua itu masih dalam tahap studi," jelas Nyono.

Selain mempertimbangkan jalur industri, Dishub juga menyiapkan konsep transport hub sebagai titik perpindahan moda transportasi. Dengan skema tersebut, penumpang dapat berganti angkutan menuju kawasan industri tanpa harus mengganggu operasional angkutan umum yang telah ada.

Nyono mengakui pembukaan koridor baru bukan perkara mudah karena harus mengakomodasi berbagai kepentingan, mulai dari angkutan kota, bus antarkota, hingga kebutuhan mobilitas para buruh. Keputusan akhir baru akan diambil setelah seluruh kajian teknis dan sosial selesai dilakukan.

Editorial Team

Related Article