Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kisah Mbah Imam, CJH Asal Pasuruan Berusia 1 Abad

Kisah Mbah Imam, CJH Asal Pasuruan Berusia 1 Abad
Mbah Imam bersama putranya, Yoyok tergabung dalam kloter 31 Embarkasi Surabaya. Dok. PPIH Embarkasi Surabaya.

Surabaya, IDN Times - Usia tak menjadi halangan bagi Imam Kartam Taselim untuk menunaikan rukun Islam kelima, ibadah haji ke Tanah Suci. Terbukti, Calon Jemaah Haji (CJH) asal Pasuruan ini tetap bisa berangkat menginjak usia 1 abad alias 100 tahun.

Nah, sebelum terbang ke Arab Saudi, Mbah Imam--begitu sapaan karibnya- membagikan kisahnya. Ia juga mengaku melakukan sejumlah persiapan khusus agar bisa menuntaskan ibadah haji nanti.

1. Daftar haji pada tahun 2018 saat usianya 94 tahun

ilustrasi haji (pexels.com/Muhammad Khawar Nazir)
ilustrasi haji (pexels.com/Muhammad Khawar Nazir)

Mbah Imam bilang, kalau ia pertama kali mendaftar haji pada tahun 2018, ketika itu usianya menginjak 94 tahun. “Sebenarnya keinginan berhaji sudah ada sejak lama. Namun karena keterbatasan keuangan, pada tahun 2018 itu saya baru bisa mendaftar,” kenangnya.

Ketika itu, Mbah Imam mendaftar dengan uang tabungan yang ia miliki, akan tetapi itupun belum mencukupi. “Alhamdulillah saya dibantu anak saya sehingga bisa mendaftar haji,” tuturnya.

Mbah Imam sejatinya ia mendapat panggilan berangkat haji pada 2020. Namun karena virus SARS CoV-2 merebak, keberangkatannya ditunda. “Saat itu saya mendapat kuota prioritas lansia sehingga cepat mendapat panggilan haji, namun ternyata tidak jadi berangkat karena ada pandemi COVID-19,” jelasnya. 

“Setelah tertunda 4 tahun, Alhamdulillah saya tahun ini bisa berangkat bersama anak saya,” imbuhnya penuh rasa syukur.

2. Persiapan fisik dilakukan denga rutin ke sawah

ilustrasi haji (pexels.com/Mutahir Jamil)
ilustrasi haji (pexels.com/Mutahir Jamil)

Dalam persiapan kondisi fisik menjelang berangkat haji, Mbah Imam mengaku tidak ada persiapan khusus. “Saya sudah terbiasa berjalan kaki. Setiap hari saya ke sawah, ya meskipun cuma mengawasi saja di sana,” terangnya.

Untuk lansia, jarak yang ditempuh Mbah Imam pulang pergi dari rumah ke sawah cukup jauh, yakni sekitar 1,5 km. "Alhamdulillah saya masih kuat menempuh jarak sejauh itu setiap hari sendiri tanpa dibantu orang lain. Saya juga belum memakai tongkat,” terangnya.

3. Jaga pola makan sehingga bisa tembus usia seabad

ilustrasi haji (pexels.com/Hafiz Humayun Khan)
ilustrasi haji (pexels.com/Hafiz Humayun Khan)

Sementara itu, putra Mbah Imam, Yoyok Wijaksono mengatakan, jika bapaknya tidak memiliki tips khusus untuk memiliki tubuh yang sehat meskipun usianya sudah lebih dari satu abad.

"Bapak itu makannya ya biasa saja. Tahu tempe ya mau. Kalau Idul Adha, makan sate kambing pun masih bisa banyak. Anak-anaknya malah yang khawatir kalau beliau kena darah tinggi. Tetapi waktu diperiksa Alhamdulillah tekanan darahnya normal saja," tutur sang putra. 

Yoyok melanjutkan, Mbah Imam masih sehat di usianya yang sudah lebih dari satu abad ini karena ia rajin beraktivitas. “Bapak itu setiap hari ada saja kesibukannya. Katanya kalau tidak ngapa-ngapain malah sakit semua badannya. Alhamdulillah kadar gula, kolesterol, dan tekanan darah Bapak sejauh ini semua normal,” terang pria yang berprofesi wiraswasta ini.

Mbah Imam dan sang putra tergabung dengan kloter 31. Saat ini mereka sudah di tanah suci. Tak lupa selama di tanah suci nanti, Mbah Imam akan mendoakan istrinya yang telah mendahului menghadap Ilahi. Mbah Imam pun berharap dia dan keluarganya senantiasa diberikan kesehatan dan kesejahteraan. 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ardiansyah Fajar Syahlillah
Zumrotul Abidin
Ardiansyah Fajar Syahlillah
EditorArdiansyah Fajar Syahlillah
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More

Tawuran Bawa Sajam, Dua Pemuda Surabaya Jadi Tersangka

07 Apr 2026, 13:48 WIBNews