Kenapa Surabaya Tetap Banjir Walau Proyek Penanganan Digencarkan?

Surabaya, IDN Times - Pemerintah Kota Surabaya telah menggencarkan proyek penanganan banjir selama tahun 2024. Meskipun begitu, rupanya banjir masih menjadi momok bagi Kota Surabaya saat hujan lebat melanda.
Seperti diketahui, alokasi dana untuk penanganan banjir di Kota Pahlawan tahun 2024 mencapai Rp700 miliar. Namun, berdasakan data Command Center 112 Surabaya ada 30 titik banjir yang terjadi pada Selasa (10/12/2024) kemarin.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengatakan, ada berbagai macam faktor mengapa sejumlah titik masih digenangi air. Selain karena curah hujan yang tinggi, banjir disebabkan karena penumpukan sampah di sejumlah saluran.
"Saya kemarin malam ke rumah Pompa Dinoyo, sampahnya menutupi pintu air, ini berarti masih banyak yang membuang sampah di kali, " ujar Eri saat konferensi pers, Rabu (11/12/2024).
Selain itu, banjir juga disebabkan karena alih fungsi lahan. Seperti misalnya mengubah rumah tinggal menjadi rumah usaha.
"Saya berharap kalau dia jadi rumah usaha, dia juga harus mengganti salurannya, itu yang ada di Imam Bonjol Kartini dan sekitarnya," kata dia.
Faktor berikutnya karena penyempitan sungai. Hal ini terjadi di wilayah Tambak Asri dan Tambak Mayor, penyempitan terjadi karena bangunan liar. Dari yang semula 30 meter menjadi satu meter.
"Kalau sungainya ditutup, kita gak bisa opo-opo (gak bisa apa-apa), masalahnya jadi omah (saluran jadi rumah) nanti kita lihat, kita harus menyelesaikan itu, jangan sampai ini mengorbankan ribuan rumah yang ada di Tambak Asri dan Tambak Mayor," tutur dia.
Tak cuma itu, banjir di Surabaya juga disebabkan karena kiriman dari daerah lain. Hal ini berdasarkan kondisi sungai Jagir yang penuh saat hujan turun pada Selasa (10/12/2024) kemarin.
"Kali Jagir itu sudah tidak kelihatan pinggirnya, sudah rata, kalau sudah banjir (meluber) kita sudah gak bisa apa-apa, karena Surabaya ini buangan dari Mojokerto, Berantas, jadi semua wilayah itu kalau sudah banjir, termasuk Gresik itu buangnya ke Surabaya," terangnya.
Walau begitu, Eri mengklaim sejumlah wilayah yang sudah dilakukan pembangunan saluran kini tak lagi banjir. Banjir terjadi di titik-titik yang belum dilakukan pembangunan.
"Jadi dihitungan saya ada pekerjaan rumah 200 titik (banjir yang harus ditangani) tahun depan. Saya jadi wali kota pertama (banjir ada) 300 titik. Itu bukan titik banjir tapi pusatnya. Kalau ngomong 300 (titik) ya 1000 wilayah (yang banjir), kalau 200 hari ini jadi sekitar 400 wilayah. Itu sumbernya (banjir)," kata Eri.
Selain itu, Eri mengklaim bahwa banjir di Surabaya surut dalam waktu 15 menit saja. Kecepatan surutnya banjir ini disebut karena proyek penanganan banjir sudah berjalan dengan baik.
"Itu titik banjir masuk prioritas RPJMD-ku periode pertama 2025. Pembangunan sudah berhasil tapi (saluran) belum terkoneksi semuanya, banjir cuma 15 menit surut semua berarti salurannya sudah berhasil. 2025 akan dikoneksikan," pungkas dia.

















