Kegiatan Wisuda Sekolah Menengah Dilarang di Jawa Timur

Surabaya, IDN Times - Tahun ajaran 2024/2025 mulai memasuki masa akhir. Seiring dengan itu, biasanya juga ada acara wisuda untuk perayaan kelulusan sekaligus penyerahan ijazah. Nah, budaya wisuda di jenjenga sekolah menengah ini pun mulai dilarang di Jawa Timur (Jatim).
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengatakan bahwa kegiatan kelulusan seharusnya cukup dilakukan dengan penamatan sederhana. Serta pemberian ijazah atau surat keterangan kelulusan.
“Di sekolah menengah khususnya, atau di sekolah-sekolah pada umumnya, tidak ada istilah wisuda. Mereka itu hanya penamatan, menerima ijazah, menerima surat keterangan kelulusan,” tegasnya, Minggu (18/5/2025).
Aries menilai kegiatan wisuda dapat memberi kesan bahwa pendidikan siswa telah selesai sepenuhnya. Sehingga berpotensi menghambat keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
“Jangan sampai mereka diwisuda, akhirnya mereka berpikir sekolahnya cukup sampai situ saja. Itu bisa berdampak pada psikologis mereka,” katanya.
Atas dasar itu, pihaknya telah mengeluarkan arahan yang juga telah dikomunikasikan dengan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Arahan yang dimaksud ialah penghentian kegiatan wisuda, terutama yang dilakukan di luar sekolah dan membebani biaya kepada orangtua siswa.
“Saya tekankan kepada seluruh kepala sekolah, atas arahan Ibu Gubernur, berhentikan adanya kegiatan wisuda, terkhususnya yang dilaksanakan di luar sekolah karena itu ada pembiayaan,” kata Aries.
Aries juga menyebut bahwa hampir seluruh sekolah negeri di Jatim sudah mematuhi arahan ini. “Saya sudah monitor semua sekolah, Alhamdulillah sudah ditaati dengan baik, kecuali swasta,” tuturnya.
Untuk sekolah swasta, Pemprov hanya bisa memberikan imbauan karena lembaga tersebut memiliki otonomi dalam pengelolaannya. Meski demikian, ia tetap berharap sekolah swasta tidak memberatkan orang tua siswa dengan kegiatan seremonial.
Mantan Pj Wali Kota Batu ini pun mengapresiasi sejumlah sekolah yang tetap melaksanakan penamatan secara sederhana, namun tetap bermakna. “Saya lihat di media sosial, ada yang drive thru, ada yang sekeladarnya tapi bermakna,” pungkasnya.


















