Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kasus Kanker Leher Rahim di Surabaya Turun
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Nanik Sukristina. (Dok. Diskominfo Kota Surabaya)

Surabaya, IDN Times- Kasus kanker leher rahim di Kota Surabaya mengalami penurunan selama dua tahun terakhir. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk melakukan menurunkan angka tersebut. 

Berdasarkan data ICD-X di fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes), khususnya di puskesmas se-Kota Surabaya, pada tahun 2023 tercatat ada 413 kasus, sedangkan di tahun 2024 menurun menjadi 201 kasus. 

Dalam upaya mencegah kanker leher rahim, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya secara masif selama dua tahun terakhir di Kota Pahlawan. Pencegahan yang dilakukan, yakni melalui sosialisasi hingga skrining setiap sebulan sekali di seluruh wilayah kecamatan se-Surabaya.  

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Nanik Sukristina mengatakan, sosialisasi hingga skrining kanker leher rahim ini adalah bagian dari upaya deteksi dini. Deteksi dini kanker leher rahim ini ditujukan kepada perempuan usia 30-69 tahun. 

“Deteksi dini kanker leher rahim itu dilakukan menggunakan metode self sampling, atau pengambilan bahan pemeriksaan sendiri dan provider sampling HPV DNA,” kata Nanik, Sabtu (18/1/2025). 

Nanik menjelaskan, sosialisasi dan skrining kanker leher rahim itu dilakukan secara berkala oleh pemkot. Salah satunya seperti yang akan digelar di Kelurahan Manukan Kulon. Di kelurahan tersebut, pemkot melalui Dinkes Surabaya menyasar sebanyak 5.500 peserta. 

“Proses skrining HPV DNA yang akan dilakukan di Kelurahan Manukan Kulon menggunakan metode self sampling. Jika hasil skrining HPV DNA-nya negatif maka akan diulang lima tahun kemudian, akan tetapi jika positif maka akan dilakukan IVA (inspeksi visual asam asetat) untuk menentukan rencana tindak lanjut. Apakah dilakukan thermal ablasi atau dirujuk ke RSUD BDH untuk dilakukan LEEP (Loop Electrosurgical Excision Procedure) atau prosedur pembedahan pengangkatan jaringan serviks,” jelas Nanik. 

Sosialisasi ini, tidak hanya dilakukan kepada masyarakat, akan tetapi pemkot juga menggelar pelatihan untuk tenaga kesehatan yang ada di wilayah Kelurahan Manukan Kulon. Nakes yang mengikuti pelatihan diantaranya ada 7 orang bidan, 7 perawat, dan 3 dokter. Rencananya, skrining kanker leher rahim itu dilakukan kembali pada Februari, minggu ketiga April hingga September 2025. 

Upaya pemkot untuk mencegah kanker leher rahim, juga dioptimalkan melalui pemberian program nasional berupa layanan imunisasi HPV pada anak perempuan sekolah tingkat SD/MI/Sederajat, antara kelas 5 dan 6. Selain itu, pemkot juga menyediakan layanan skrining kanker leher rahim gratis di 63 puskesmas se-Surabaya. 

“Di 63 Puskesmas se-Surabaya sudah memiliki layanan skrining kanker leher rahim melalui metode IVA, dan semua masyarakat wanita usia 30-50 tahun yang sudah menikah, atau sudah pernah kontak seksual, dapat mengakses layanan tersebut secara gratis,” terangnya.

Nanik berharap kepada masyarakat, terutama wanita di Kota Surabaya untuk peduli terhadap adanya risiko kanker leher rahim. Maka dari itu, ia mengimbau agar melakukan pengecekan secara berkala di puskesmas terdekat sesuai wilayah tempat tinggalnya masing-masing. 

“Bagi masyarakat, terutama wanita usia 30-69 tahun, ayo lakukan deteksi dini melalui skrining IVA/HPV DNA sebagai upaya pencegahan terhadap kanker serviks (leher rahim). Skrining ini, dapat diakses dan dilakukan di Puskesmas terdekat sesuai wilayah tempat tinggal,” pungkasnya.

Editorial Team

Related Article