Ini 3 Alasan Warga Sayutan Magetan Mati-matian Tolak Tambang

- Warga Desa Sayutan menolak tambang galian C karena khawatir aktivitasnya merusak sumber mata air yang menjadi kebutuhan utama masyarakat sekitar.
- Posisi tambang di bawah makam dan permukiman membuat warga takut terjadi longsor yang bisa mengancam rumah serta makam leluhur mereka.
- Lahan pertanian warga terancam rusak akibat tambang, sehingga masyarakat menuntut penghentian total demi menjaga lingkungan dan masa depan anak cucu.
Magetan, IDN Times – Penolakan warga terhadap aktivitas tambang galian C di Desa Sayutan, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, tampaknya belum klimaks. Bahkan, setelah rapat dengar pendapat (RDP) di DPRD Magetan belum menghasilkan keputusan penghentian tambang, warga tetap bersikukuh meminta aktivitas penambangan dihentikan.
Bagi warga, tambang bukan sekadar persoalan investasi atau perizinan. Mereka menilai keberadaan tambang mengancam lingkungan, sumber kehidupan, hingga keselamatan masyarakat sekitar. Ketua RT setempat, Dakun, membeberkan alasan mengapa warga rela turun ke jalan demi menolak tambang.
1. Mata air yang menjadi sumber kehidupan warga terancam

Alasan terbesar penolakan warga adalah kekhawatiran hilangnya sumber mata air yang selama ini menjadi kebutuhan pokok masyarakat.
Dakun mengatakan mata air di sekitar lokasi tambang dimanfaatkan oleh warga Dukuh Ngeloh, sebagian Dukuh Santan, hingga masyarakat Desa Sayutan sebagai sumber air minum sehari-hari.
"Yang pertama karena bisa mematikan sumber mata air yang diminum semua warga. Air yang dibawa ke Dukuh Ngeloh dan sebagian Sayutan itu berasal dari bawah lokasi tersebut," ujar Dakun, Kamis (4/6/2026).
Menurut warga, aktivitas pengerukan dikhawatirkan merusak cadangan air bawah tanah dan mengganggu pasokan air bersih yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.
2. Makam leluhur dan rumah warga dikhawatirkan longsor

Warga juga menyoroti posisi tambang yang berada di bawah kawasan makam dan permukiman. Mereka khawatir aktivitas penambangan yang terus mendekati tebing akan mengurangi kekuatan tanah penyangga sehingga memicu longsor. Jika hal itu terjadi, makam leluhur maupun rumah warga yang berada di atasnya berpotensi terdampak. "Di atas lokasi itu ada makam, di sebelah makam ada pemukiman warga. Kalau terus dilongrong ke sana, kami khawatir rumah-rumah dan makam itu bisa longsor ke jurang," kata Dakun.
Ia juga menyebut di bawah area tersebut terdapat saluran air yang selama ini memasok kebutuhan warga sehingga risiko yang ditimbulkan dinilai semakin besar.
3. Sawah dan lingkungan untuk anak cucu harus diselamatkan

Selain sumber air dan permukiman, warga menilai lahan pertanian di sekitar kawasan tambang juga berisiko terdampak. Dakun menyebut hamparan sawah warga berada tidak jauh dari lokasi aktivitas tambang.
Kerusakan lingkungan dikhawatirkan mengganggu sistem pengairan dan produktivitas pertanian masyarakat. "Ada sawah di bawah sana. Jadi yang kami perjuangkan bukan hanya hari ini, tetapi juga untuk masa depan lingkungan," ujarnya.
Menurut Dakun, warga hanya memiliki satu tuntutan yang tidak bisa ditawar lagi, yakni penghentian seluruh aktivitas tambang.
"Tuntutan warga cuma satu, tutup tambang. Semua warga Sayutan menolak adanya tambang supaya lingkungan tetap baik dan lestari, agar anak cucu kita besok tidak terlantar," tegasnya.
Hingga kini warga tetap berpegang pada tuntutan tersebut. Meski DPRD Magetan telah membentuk tim verifikasi lapangan, masyarakat berharap langkah itu berujung pada keputusan yang berpihak pada keselamatan lingkungan dan keberlangsungan hidup warga sekitar.



















