Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Harga Gabah di Magetan Nyaris Rp9 Ribu, Berkah atau Alarm Pangan?
Petani di Desa Karangmojo, Kecamatan Kartoharjo Magetan tengah memanen padi. IDN Times/Riyanto.
  • Harga gabah di Magetan naik: gabah basah sekitar Rp7.900 per kilogram, sementara gabah kering giling mencapai Rp8.900 hingga Rp9.000 per kilogram.
  • Kenaikan harga membantu petani menutup biaya garap, pupuk, obat, dan perawatan, tetapi keuntungan tetap terbatas karena hasil panen menurun.
  • Serangan wereng dan tikus serta kemarau mengurangi produksi; petani mengkhawatirkan kemarau panjang dan berharap dukungan irigasi, pupuk, serta pengendalian hama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Magetan, IDN Times - Harga gabah di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, sedang berada di level tinggi. Gabah kering giling (GKG) kini nyaris menembus Rp9 ribu per kilogram.

Kenaikan harga tersebut menjadi berkah bagi petani. Namun di balik itu, kondisi ini juga bisa menjadi alarm bagi ketahanan pangan. Sebab, harga tinggi terjadi ketika hasil panen sejumlah petani justru menurun akibat kemarau dan serangan hama.

Saat ini, panen baru berlangsung di sejumlah wilayah, seperti Kecamatan Barat dan Kartoharjo. Di Desa Karangmojo, Kecamatan Kartoharjo, sejumlah petani mulai memanen padi yang mereka tanam.

Ahmad (50), petani setempat, mengatakan harga gabah basah saat ini berada di kisaran Rp7.900 per kilogram. Harga tersebut naik dibandingkan musim tanam sebelumnya yang hanya sekitar Rp7.500 per kilogram.

Sementara untuk gabah kering giling, harganya sudah mencapai Rp8.900 per kilogram. Bahkan, ada gabah yang dibeli hingga Rp9 ribu per kilogram.

"Alhamdulillah ya, meski tanaman padi kurang bagus saat ini akibat hama, harganya bagus. Artinya masih ada sisa lebih untuk petani," kata Ahmad, Minggu (17/8/2026).

1. Harga gabah tinggi jadi berkah bagi petani

Petani di Desa Karangmojo, Kecamatan Kartoharjo Magetan tengah memanen padi. IDN Times/Riyanto.

Kenaikan harga gabah menjadi angin segar bagi petani yang selama ini menghadapi tingginya biaya produksi.

Ongkos menggarap lahan, pupuk, obat-obatan hingga biaya perawatan tanaman harus dikeluarkan sejak awal masa tanam. Karena itu, harga jual yang lebih tinggi sedikit membantu menutup biaya tersebut.

Namun, petani mengakui keuntungan yang diperoleh belum terlalu besar karena produksi sejumlah lahan ikut menurun.

Kasni, petani lainnya, mengatakan harga gabah memang sedang bagus. Tetapi tingginya biaya produksi membuat keuntungan yang diperoleh tetap terbatas.

"Iya saat ini harga gabah bagus, namun biaya produksi juga tinggi. Garap, pupuk dan obat-obatan juga enggak murah. Kalau dikurs dengan itu untungnya enggak bisa buat libur ke luar negeri," kelakarnya.

2. Hasil panen nenurun akibat hama dan kemarau

Petani di Desa Karangmojo, Kecamatan Kartoharjo Magetan tengah memanen padi. IDN Times/Riyanto.

Harga gabah yang tinggi tidak serta-merta menunjukkan petani sedang menikmati panen besar.

Sebaliknya, sejumlah petani menghadapi persoalan produksi. Tanaman padi mereka terdampak serangan wereng dan tikus. Kondisi kemarau juga membuat kebutuhan air menjadi persoalan tersendiri.

Jika produksi terus menurun, pasokan gabah di tingkat petani berpotensi ikut berkurang.

Situasi inilah yang membuat kenaikan harga gabah perlu dilihat dari dua sisi. Di satu sisi menguntungkan petani, tetapi di sisi lain bisa menjadi sinyal adanya tekanan pada produksi pangan.

3. Petani waspadai kemarau berkepanjangan

Petani di Desa Karangmojo, Kecamatan Kartoharjo Magetan tengah memanen padi. IDN Times/Riyanto.

Petani Magetan juga mulai mengkhawatirkan kondisi cuaca ke depan. Kasni mengaku sedikit waswas jika fenomena El Nino benar-benar menyebabkan kemarau berlangsung lebih panjang.

Menurutnya, kemarau berkepanjangan dapat meningkatkan biaya produksi sekaligus memperbesar risiko serangan hama dan penurunan hasil panen.

Petani berharap harga gabah tetap berada pada level yang menguntungkan tanpa membuat harga pangan di tingkat konsumen melonjak terlalu tinggi.

Mereka juga berharap pemerintah memastikan ketersediaan air irigasi, pupuk dan sarana pengendalian hama agar produksi tetap terjaga.

Sebab, harga gabah nyaris Rp9 ribu bisa menjadi berkah bagi petani, tetapi sekaligus menjadi alarm jika kenaikan harga terjadi karena pasokan pangan mulai tertekan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article