Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gus Yahya Berharap Muktamar NU 2031 Kembali Dibuka Prabowo

Kab. Jombang
Gus Yahya Berharap Muktamar NU 2031 Kembali Dibuka Prabowo
Ketum PBNU, Yahya Cholil Staquf dalam Pembukaan Muktamar ke-35 NU di Jombang.
  • Gus Yahya berharap Presiden Prabowo Subianto kembali membuka Muktamar ke-36 NU pada 2031, setelah hadir dalam pembukaan Muktamar ke-35 di Jombang.
  • Ketua Umum PBNU menegaskan NU didirikan untuk mengukuhkan NKRI; arah organisasi yang ditentukan 2.232 perwakilan muktamar harus sejalan dengan kepentingan bangsa dan negara.
  • Gus Yahya mendorong penguatan kerja sama NU dan pemerintah agar program menjangkau rakyat, sekaligus memperkuat budaya tolong-menolong sebagai penopang ketahanan bangsa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jombang, IDN Times - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf berharap Presiden Prabowo Subianto kembali membuka Muktamar NU pada lima tahun mendatang. Harapan itu disampaikan Gus Yahya saat membuka Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026).

Gus Yahya menyampaikan harapan tersebut setelah mengucapkan terima kasih atas kehadiran Prabowo dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU. Menurutnya, Muktamar ke-36 NU dijadwalkan berlangsung pada 2031.

"Kami berbahagia dan berterima kasih atas kehadiran Bapak Presiden. Lima tahun lagi kita akan Muktamar lagi, Muktamar ke-36, 2031. Dalam hati saya, Muktamar berikutnya dibuka Pak Prabowo lagi," kata Gus Yahya.

Dalam pidatonya, Gus Yahya menegaskan bahwa NU sejak awal didirikan sebagai ikhtiar untuk mengukuhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena itu, menurut dia, arah perjuangan NU tidak dapat dipisahkan dari kepentingan bangsa dan negara.

"NU dihadirkan oleh para pendirinya sebagai ikhtiar mengukuhkan negara yang kita cintai, NKRI," ujarnya.

Ia menyebut Muktamar ke-35 NU diikuti 2.232 perwakilan dari pengurus wilayah dan pengurus cabang. Besarnya jumlah warga NU juga disebut sebagai potensi sekaligus tanggung jawab yang besar.

Gus Yahya mengutip hasil survei yang menyebut sekitar 57 persen penduduk muslim Indonesia merupakan warga NU. Dengan jumlah penduduk muslim Indonesia yang mencapai sekitar 244 juta orang, ia memperkirakan jumlah warga NU lebih dari 120 juta orang.

"Ini potensi besar dan tanggung jawab yang sangat besar," katanya.

Gus Yahya mengatakan NU perlu memperkuat kerja sama dengan pemerintah. Ia menilai NU dapat berperan sebagai sarana untuk mengantarkan program-program pemerintah agar lebih efektif diterima dan dirasakan masyarakat.

"Setelah perenungan lama, NU harus kerja sama dengan pemerintah. NU memerankan sebagai sarana pengantaran program pemerintah sampai ke rakyat," tuturnya.

Menurut Gus Yahya, kinerja NU perlu terus dikembangkan agar organisasi tersebut mampu menjadi penghubung yang lebih efektif antara program pemerintah dan masyarakat.

"Bagaimana NU dapat dikembangkan kinerjanya sehingga menjadi penghantar lebih efektif program pemerintah untuk rakyat," lanjutnya.

Selain menjadi penghubung program pemerintah, Gus Yahya menekankan pentingnya NU ikut menyangga ketahanan bangsa melalui penguatan budaya saling tolong-menolong di antara warga.

Ia mengingatkan kembali pemikiran KH Hasyim Asy'ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi mengenai pentingnya sikap tolong-menolong sebagai landasan kehidupan bermasyarakat. "Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi berkata, tolong-menolong adalah landasan beredarnya tatanan kemasyarakatan," ujar Gus Yahya.

Menurutnya, masyarakat yang dibangun atas semangat tolong-menolong tidak akan terjebak pada persoalan siapa yang paling berkuasa dan siapa yang tidak berkuasa. Sebaliknya, masyarakat akan lebih mengedepankan kerja sama. "Dengan begitu orang berpikir tentang kerja sama, bukan siapa yang paling berkuasa," katanya.

Gus Yahya menilai Muktamar ke-35 NU menjadi momentum untuk memperkuat semangat tersebut. "Maka sangat tepat momentum Muktamar ini saling tolong-menolong sesama," pungkasnya.

Ia menegaskan bahwa para muktamirin nantinya akan menentukan arah NU. Namun, arah tersebut harus tetap berjalan seiring dengan kepentingan bangsa dan negara. "Muktamirin akan menentukan arah NU, tidak boleh tidak searah dengan bangsa negara. Tidak boleh dan tidak mungkin dipisahkan," tegas Gus Yahya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More