Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gus Mamak Sebut Pesantren Saat Ini Tak Bisa Alergi dengan Teknologi
Ketua MP3I MPW Jatim, KH Muhammad Bin Mu'afi Zaini alias Gus Mamak usai dilantik. Dok. MP3I MPW Jatim

Surabaya, IDN Times - Jawa Timur memiliki jumlah pesantren yang cukup banyak. Seiring berkembangnya zaman, pembelajaran di pondok pesantren tak lepas dari peran penting perkembangan teknologi.

Pengurus Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren Indonesia (MP3I) Jawa Timur (Jatim), KH Muhammad Bin Mu'afi Zaini mengatakan, di era teknologi saat ini sudah banyak pondok pesantren yang melek teknologi. Teknologi bukan hanya menjadi media pembelajaran namun juga sebagai media berdakwah. 

"Kalau dari sisi media, sudah banyak pesantren yang memiliki media sosial, pergerakannya di media sosial juga terlihat masif, baik dari video, penulisan ataupun yang lain," ujar pria yang akrab disapa Gus Mamak ini, Sabtu (21/10/2023). 

Gus Mamak menjelaskan, beberapa pesantren di Jawa Timur sudah memperbolehkan santrinya untuk membawa laptop. Laptop tersebut dimanfaatkan sebagai media pembelajaran di malam hari. "Beberapa bahkan mewajibkan membawa laptop, menggunakan internet secara luas tapi tetap terjaga," kata dia. 

Setiap pesantren di Jawa Timur memiliki cara dan kreativitas masing-masing untuk memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran. Gus Mamak lantas mencontohkan pesantren yang dia asuh, Pondok Pesantren Nazhatut Thullab di Pamekasan. Di pesantren tersebut, santri diminta untuk mencari berbagai referensi di internet saat malam hari. 

"Keunggulan kami, karena (santri) di pesantren 24 jam, ada waktu malam yang bisa dipakai, karena mereka berjamaah, mereka bisa di-filter sehingga tidak masuk media-media atau akun yang di luar norma agama," ungkap dia. 

Gus Mamak menjelaskan, di pesantrennya penggunaan teknologi sangat bermanfaat. Terlebih, santri akan bisa membatasi diri untuk apa teknologi digunakan. 

"Fokusnya akan luar biasa untuk pembelajaran, jadi dibanding kurikulum lama , ini (penggunaan teknologi) jauh lebih cepat," ungkap Gus Mamak. 

Meski demikian, tentu teknologi memiliki dampak negatif bagi pesantren. Seperti misalnya, adanya teknologi AI yang kemudian membuat santri curang dalam mengerjakan penugasan. 

"Kami harus mendayagunakan keunggulan kami dari penggunakan internet yang berjamaah itu, ada berapa situs yang diblokir, yang kedua juga kami semaksimal mungkin meminimalisir penggunaan di luar syariat, ketiga kami harus bekejaran dengan santri eksplorasi mereka penggunaan aplikasi baru yang membuat mereka curang dalam penugasan," kata dia. 

Selain itu, teknologi juga kerap digunakan santri untuk melakukan komunikasi intens dengan lawan jenis. Padahal, di pesantren hal ini dilarang. 

"Nah, itu yang harus kami antisipasi, memang tidak menjadi sempurna, ada risiko yang harus kami tanggung," jelas dia. 

Meski demikian, dibanding dengan dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan teknologi di pesantren, dampak positifnya jauh lebih banyak. Kurikulum pembelajaran jauh lebih cepat dan santri bisa mengeksplore tugas-tugasnya di internet. 

"Yang harus diingat penggunaan teknologi ini berbasis pada kreativitas santri. Kalau saya bahasakan mau tidak mau santri lebih aktif, kalau metode lama itu guru ngomong santri tidur, tapi sekarang guru memberi tugas murid mengerjakan sehingga proporsi keaktifan jauh lebih tinggi sehingga anak lebih cepat berkembang," jelasnya. 

Gus Mamak menyebut, teknologi bukan merupakan hal yang perlu dihindari di Pesantren. Selama teknologi tersebut tidak keluar dari norma universal agama, teknologi masih dapat diterima. 

"Sebenarnya pesantren dan teknologi bukan sesuatu yang perlu dibenturkan, teknologi itu adalah keniscayaan yang harus kita terima dan akan dihadapi anak-anak itu ketiga keluar dari pesantren," katanya. 

Yang paling penting adalah, bagaimana pesantren mengajarkan santrinya untuk tetap menggunakan teknologi dengan cara yang tepat dan benar. Seperti menggunakan untuk sarana berdakwah. 

"Tidak dalam merusak, syukur-syukur tidak merusak, tetapi bisa menggunakan sebagai alat dakwah dan perkembangan diri mereka," pungkas dia. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article