Sekolah di Jatim Bakal Punya Kurikulum Tangguh Bencana

- Dindik Jatim memperkuat penerapan Kurikulum SPAB di sekolah-sekolah untuk membangun kesiapsiagaan siswa, guru, dan tenaga kependidikan dalam menghadapi bencana.
- Penerapan SPAB tidak hanya berfokus pada simulasi evakuasi, tetapi juga pada pembentukan sistem dan keterampilan warga sekolah dalam merespons berbagai potensi bencana.
- Ketua Komisi E DPRD Jatim mendukung penguatan mitigasi bencana di sekolah dengan menekankan perlunya pendidikan kebencanaan yang disesuaikan dengan karakter wilayah masing-masing daerah.
Surabaya, IDN Times - Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur (Jatim) memperkuat penerapan Kurikulum Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) atau Sekolah Tangguh Bencana di sekolah-sekolah. Langkah ini dilakukan mengingat Jatim merupakan wilayah dengan sedikitnya 14 jenis potensi bencana.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, mengatakan bahwa kurikulum SPAB telah disosialisasikan secara luas dengan melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim. “SPAB sudah kami masukkan sebagai kurikulum tambahan dan disosialisasikan ke sekolah-sekolah. Tujuannya untuk membangun kesiapsiagaan siswa, guru, dan tenaga kependidikan dalam menghadapi bencana,” ujar Aries, Sabtu (17/1/2026).
Menurutnya, penerapan SPAB tidak hanya berfokus pada simulasi evakuasi, tetapi juga pada pembentukan sistem dan keterampilan warga sekolah dalam merespons berbagai potensi bencana. “Sekolah diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan memiliki kesiapan ketika terjadi bencana,” katanya.
Penguatan mitigasi bencana di sekolah ini mendapat dukungan dari Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari Bisowarno. Ia menilai pendidikan kebencanaan harus disesuaikan dengan karakter wilayah masing-masing daerah. “Potensi bencana di Jawa Timur berbeda-beda. Di perkotaan rawan banjir dan kebakaran, daerah pegunungan rawan longsor, sementara pesisir selatan berisiko tsunami. Materi mitigasi di sekolah harus kontekstual,” jelas Untari.
Ia menegaskan, program SPAB harus dijalankan secara berkelanjutan dan tidak sekadar bersifat formalitas. “Sekolah menjadi tempat penting untuk membangun kesadaran dan kewaspadaan bencana sejak dini,” pungkasnya.

















