Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Baru Awal Tahun 2024, DBD di Jatim Capai 3638 Kasus

Baru Awal Tahun 2024, DBD di Jatim Capai 3638 Kasus
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur drg. Sulvi Anggraeni. (IDN Times/Khusnul Hasana)
Share Article

Surabaya, IDN Times - Baru awal tahun 2024, Kasus Demam Berdarah (DBD) di Jawa Timur hingga Februari mimggu ketiga mencapai 3638 kasus. Angka itu disebut meningkat jika dibanding 2023 dengan keseluruhan kasus hingga Desember sebanyak 9041 kasus. 

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur, drg. Sulvi Anggraeni mengatakan, dengan tingginya angka kasus DBD diawal tahun, pihaknya memprediksi angka kasus DBD di Jatim hingga akhir tahun 2024 dapat melebihi 2023. 

"Tahun 2023 kan sekitar 9041 kasus ini sampai Februari minggu ketiga saja sudah 3638 berarti kan belum sampai triwulan satu ya. Jadi kalau bisa diprediksi misalnya tiga kalinya sudah 9000 lebih, kan jadi bisa minimal hampir sama atau bisa melebihi tahun 2023," ujar Sulvi ditemui saat Talkshow Langkah Bersama Cegah DBD di Tunjungan Plaza Surabaya, Sabtu (2/3/2024). 

Angka DBD paling tinggi terjadi Kabupaten Probolinggo, yakni mencapai 600 kasus. Sementara di Surabaya sendiri saat ini tercatat lebih dari 30 kasus. 

"Nah Surabaya Alhamdulillah memang masih terkendali dibandingkan beberapa kabupaten kota yang kasusnya cukup banyak, tapi memang sudah mulai ada peningkatan," kata dia. 

Sulvi menyebut, bila dilihat dari trennya, kasus DBD meningkat setiap musim penghujan datang Biasanya peningkatan terjadi di akhir atau awal tahuh. 

"Mungkin waktunya bergeser-geser sedikit ya bulannya, tapi memang peningkatannya lebih banyak di musim penghujan. Nah kalau kita lihat cuaca memang saat ini kan kita nggak bisa prediksi seperti tahun-tahun dulu ya, nah sekarang banyak naik turnnya tapi kalau lihat ukurannya kemarin waktu awal-awal Januari sebenarnya memang masih datar tiba-tiba naik lagi di Januari akhir sampai Februari,"  terang Sulvi. 

Salah satu upaya pencegahan DBD adalah dengan menerapkan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) 3M (Menguras, Menutup, Mendaur Ulang) Plus. Selain itu, upaya pencegahan DBD adalah dengan pemberian Vaksin DBD, vaksin DBD TAK-003 diproduksi oleh perusahaan berwma Takeda asal Jepang.

Namun demikkan, Sulvi menyebut vaksin tersebut belum masuk menjadi program pemerintah. Saat ini vaksin DBD baru bisa didapatkan dengan biaya pribadi. 

 Kalau masyarakatnya mampu ya silakan membeli karena kalau dilihat dari harganya itu jauh lebih murah dibandingkan kalau kita sakit DBD di rumah sakit ya itu jauh lebih mahal dan itu pilihan kepada masyarakat," terangnya. 

Namun demikian, pihaknya menyatakan bahwa Vaksin DBD dari Takeda adalah vaskin yang aman. Jika masyarakat sudah menggunakan vaksin tersebut, ia berpesan agar masyarakat tak melupakan PSN 3M Plus. 

"Kami dari sektor kesehatan dari Kementerian Kesehatan maupun Kesehatan Provinsi juga mendukung asal tidak melupakan PSN 3M plus vaksinasi tetap jalan," jelas dia. 

Ditanya apakah vaksin tersebut akan menjadi vaksin massal untuk penanganan DBD, pihaknya menyebut sejauh ini masih belum. Namun, tidak menutup kemungkinan vaksin dari Takeda ini akan menjadi vaksin massal. 

"Semoga ya Kementerian Kesehatan mampu, karena memang banyak vaksin-vaksin yang sudah disupport oleh program ya karena ini vaksin Dengue ini masih baru, jadi mungkin skala prioritas pemerintah," kata dia.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht mengatakan, pihaknya memastikan vaksin DBD TAK-003 dapat diakses oleh masyarakat luas di Surabaya dan Jawa Timur. Pihaknya pun bekerjasama dengan Pemerintah untuk pencegahan DBD secara efektif. 

"Jadi komitmen kami lebih dari sekedar vaksin, yaitu kami mendukung Indonesia untuk mencapai target nol kematian akibat dengue di tahun 2030," ujarnya. 

Share Article
Topics
Editorial Team
Khusnul Hasana
EditorKhusnul Hasana

Latest News Jawa Timur

See More

Khofifah: Dunia Lagi Gak Baik-Baik Saja, Pancasila Jangan Cuma Hafalan

01 Jun 2026, 10:39 WIBNews