Surabaya, IDN Times - Salah seorang perempuan peserta aksi #IndonesiaSekarat ditangkap polisi ketika demo di Depan Gedung Negara Grahadi, Jumar (26/6/2026) lalu. Perempuan berinsial KP (19) itu bersaksi mendapat pelecehan verbal hingga perlakuan meredendahkan dari aparat kepolisian.
KP yang merupakan pekerja informal di sebuah kedai kopi mengatakan, saat itu, dirinya ikut aksi sebagai bentuk menyerukan keresahan terhadap negara. Aksi 26 Juni 2026 lalu itu bukan pertama kalinya yang diikuti KP.
Sebelum ricuh, KP turut menyampaikan aspirasinya melalui orasi. Di samping itu, KP mengaku seorang temannya sesama massa aksi memberitahu bahwa dirinya menjadi incaran aparat tanpa seragam. "Aku menyampaikan beberapa orasi saat itu. Terus juga mengungkapkan kekecawaan terhadap aparat kepolisian karena tidak ada yang menemui massa aksi untuk audiensi," kata KP di Kantor KontraS, Surabaya, Selasa (30/6/2026).
Tak lama, selepas makrib, tepatnya sekitar pukul 18.00 WIB, aksi yang awalnya kondusif tiba-tiba ricuh. Sekelompok massa tiba-tiba menyerang Gedung Negara Grahadi dengan melempari berbagai benda, mulai dari botol, kaca, batu hingga petasan. Di samping suasana yang sudah tak kundusif, KP memilih pulang karena hendak berangkat kerja. Sayang, di tengah jalan dia berjalan menuju tempat motornya terparkir, dia ditangkap orang berbaju sipil.
"Di depannya balai pemuda itu sudah ada banyak itu yang apa, kayak intel atau apa itu yang enggak pakai seragam itu langsung lari ngejar gitu. Ngejar Iya. Jadi ngejar acak gitu sudah. Jadi aku sempat takut kan itu sempat takut akhirnya kan aku wis lari ae lah," sebutnya.
KP yang tak mampu berlalu karena gangguan pernafasan ini kemudian bersembunyi di sebuah hotel. Tapi persembunyian KP pun terendus aparat dan dia akhirnya ditangkap. "Aku pasrah, sempat dihalangi polisi itu (aparat). Yang nangkap sekitar tiga-empat orang. Mereka pakai baju baju bebas. (Waktu melakukan penangkapan) Mereka ngumpat-ngumpat dan ngomong-ngomong kotor gitu," terang dia.
KP kemudian digiring ke Gedung Negara Grahadi. Saat digiring, dia mengetahui ada seseorang yang memukul kepalanya bagian belakang. Sayangku, KP tak bisa melihat wajah orang yang memukulnya itu. "Aku gak bisa lihat (siapa yang memikul) fokus ke depan," terang dia.
Ketika di Gedung Grahadi, KP lalu diserahkan ke polisi wanita (polwan) .
Lalu, dia berkumpul dengan massa lainnya yang juga ikut ditangkap. Ia melihat, sebagian dari mereka terluka diduga akibat mendapat kekerasan.
"Dikumpulin massa yang ditangkap, sebagian telanjang dada gitu. Ada yang sampai darah ini banyak di wajah ini, netes-netes, (di kepala)bocor gitu, lebam segala macam," jelasnya.
KP juga sempat diintrogasi oleh polwan yang menanganinya. Bahkan, ada perkataan yang dirasa merendahkan KP.
"Saya ditanya, saya jawab dari masyarakat sipil, 'Dibayar berapa kamu?' Saya enggak dibayar gitu. Oh, dari situ sudah mulai memanas lagi maksud aparatnya mulai ngejek-ngejek terus mulai menghina segala macam cuma aku berusaha untuk enggak gubris," jelas KP.
Bahkan, mereka menggeledah KP dan diminta mencopot jilbab. Ia mengaku sempat ditampar polwan. "Sempat ada perkataan, cewek murahan kamu, ditampar satu kali, cuma ya kerasa," terang dia. Usai didata, KP kemudian diangkut masuk dalam truk polisi menuju ke Mapolrestabes Surabaya. Di mobil tersebut, KP diapit oleh aparat laki-laki dan mendapat pelecehan seksual verbal.
"'Oh tak kira yang ditangkap ini cewek cantik ya, ternyata enggak. Gelem tah? Enggak, enggak gelem aku gitu, tak kiro ayu," ujarnya menirukan ucapan mereka. KP pun memilih diam tak menggubris mereka.
Setelah digiring ke Mapolrestabes Surabaya, KP menjalani tes urin. Ia mengungkapkan ketidaknyamanan saat menjalani pemeriksaan tersebut.
Kp meminta agar pintu ruangan tes ditutup. Tetapi petugas tak menuruti permintaan KP. "Aku mojok, saya bilang 'pak tolong agak jauh', untungnya aku pakai jaket, jaket sepaha," kata dia.
Hasil terus urine KP kemudian dinyatakan negatif. KP sudah dibebaskan, Sabtu (27/6) malam.
Meski sudah dibebaskan, KP mengaku, rangakaian peristiwa yang dialami ini membuatnya trauma. "Aku gak berani lihat aparat, sama kalau ada kamera itu aku takut," sebutnya.
Walau begitu, KP mengaku tetap akan mengikuti aksi di kemudian hari. Terlebih dia selama ini memang aktif mengikuti isu-isu yang sedang berkembang. "Kalau ada aksi lagi, jelasnya aku ikut lagi. Kalau enggak kita siapa lagi kan," pungkas dia.
Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan sebelumnya menegaskan, pihaknya tidak menganggap kelompok tersebut sebagai demonstran, melainkan perusuh. Menurutnya, aksi digelar di luar jam kerja sehingga dinilai tidak memiliki tujuan menyampaikan aspirasi kepada pejabat pemerintah.
"Kami sampaikan kepada seluruh warga Kota Surabaya bahwa kemarin telah terjadi aksi anarkis oleh perusuh. Saya katakan perusuh, bukan pendemo, karena sebenarnya tidak ada aspirasi yang disampaikan. Mereka datang sekitar pukul 16.30 WIB, sudah bukan jam kerja. Mau bertemu siapa?" ujarnya, Minggu (28/6/2026).
Luthfie juga menyoroti ajakan yang beredar di media sosial sebelum aksi berlangsung. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, terdapat ajakan bermain sepak bola di Jalan Gubernur Suryo, tepat di depan Grahadi, yang menurutnya tidak masuk akal karena lokasi tersebut merupakan jalan raya.
Sebelum situasi memanas, polisi mengklaim telah beberapa kali mengimbau massa secara persuasif agar membubarkan diri setelah melewati batas waktu penyampaian pendapat di muka umum. Namun, imbauan tersebut disebut tidak diindahkan.
Menurut Luthfie, situasi berubah ketika sebagian massa mulai melakukan provokasi dengan melempar batu, petasan, hingga bom molotov ke arah petugas. Di saat yang sama, sejumlah pengendara motor disebut datang sambil membunyikan knalpot keras untuk memancing emosi massa.
"Kemudian terjadi provokasi. Mulai ada pelemparan batu, petasan, molotov, lalu datang motor yang blayer-blayer sehingga situasi semakin memanas," katanya.
Sekadar diketahui, ratusan massa yang tergabung dalam aksi "Warga Surabaya Turun ke Jalan" di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (26/6/2026). Demonstrasi bertajuk #SurabayaSekarat membawa 11 poin tuntutan soal turunkan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga BBM. mereka juga membawa banner dengan gambar karikatur mirip Presiden Prabowo itu bertuliskan "Prabowo Kowarso Kowarso", "Gendarseng", "Lemes", "Longor."
Bener berukuran 1,5 meter kali 4 meter itu tersebut dipasang di jembatan penyebrangan Jalan Gubernur Suryo.
Massa yang didominasi kalangan muda itu tiba di lokasi sekitar pukul 16.20 WIB setelah melakukan long march dari kawasan Monumen Kapal Selam (Monkasel), Jalan Pemuda. Mereka mengenakan pakaian kasual dan sebagian besar menggunakan penutup wajah.
Massa kemudian melingkar dan satu persatu melakukan orasi. Mereka juga nampak membakar baju bekas yang dibawa dari rumah.
Aksi yang awalnya berjalan damai ini berujung ricuh. Polisi kemudian membubarkan massa dengan membentuk barikade dan mobil bara kuda. Massa aksi dipukul mundur hingga arah ke ujung Timur Jalan Gubernur Suryo.
Polisi kemudian menangkap 24 orang. 4 orang diterapkan tersangka atas dugaan pengerusakan fasilitas umum,6 orang positif narkoba dan sisanya dibebaskan.
Dalam demonstrasi tersebut, massa menyampaikan 11 tuntutan kepada pemerintah, yakni:
1. Menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.
2. Menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
3. Mencabut UU Polri dan UU TNI.
4. Menciptakan lapangan kerja yang layak.
5. Membubarkan Komando Teritorial serta menghentikan keterlibatan TNI dalam ranah sipil.
6. Menghentikan proyek reklamasi Surabaya Waterfront Land.
7. Membebaskan seluruh tahanan politik serta memulihkan nama baik mereka.
8. Memprioritaskan anggaran pendidikan dan kesehatan.
9. Mewujudkan transportasi umum yang layak, inklusif, dan gratis.
10. Membubarkan parlemen dan membangun kuasa rakyat.
11. Mengakhiri kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi.
