Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
15 Anak Difabel di Jatim Diasah Jadi Jagoan Vokasi, Siap Mandiri
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai saat melihat latihan vokasi. Dok. Dindik Jatim.
  • Sebanyak 15 anak difabel di Jawa Timur mengikuti pelatihan vokasi tata busana, tata boga, dan tata rias pada 19-24 Agustus 2026 sebagai bekal kemandirian.
  • Dindik Jatim melibatkan guru pendamping agar materi berlanjut di sekolah, sekaligus mengevaluasi peluang memperluas peserta, sekolah, dan bidang keterampilan.
  • Instruktur menilai kemampuan peserta menjanjikan, dari membuat produk boga hingga tata rias dasar; pelatihan juga meningkatkan kepercayaan diri, sosialisasi, dan peluang wirausaha.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Sebanyak 15 anak berkebutuhan khusus (ABK) atau difabel di Jawa Timur (Jatim) mendapat kesempatan mengasah keterampilan vokasi sebagai bekal menuju kemandirian. Selama tujuh hari, 19-24 Agustus 2026, mereka mengikuti pelatihan tata busana, tata boga, dan tata rias yang digelar Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim melalui UPT Pengembangan Teknis Keterampilan dan Kejuruan (PTKK).

Pelatihan tersebut tidak sekadar mengajarkan keterampilan teknis. Dindik Jatim menargetkan kemampuan yang diperoleh peserta dapat menjadi modal untuk meningkatkan kepercayaan diri, membuka peluang kerja, hingga mendorong mereka membangun usaha secara mandiri setelah lulus sekolah.

Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai mengatakan, penguatan kompetensi menjadi bagian penting dalam pendidikan bagi ABK. Menurutnya, setiap peserta memiliki potensi yang perlu dikembangkan melalui keterampilan yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

“Pertama bukan jumlah siswanya saja, yang pertama kompetensi yang perlu kita tambah. Ini kan ada tiga, tata kecantikan, tata boga, sama tata busana. Mungkin nanti ada keahlian-keahlian lain yang kita harapkan bisa linier,” ujarnya, Senin (24/8/2026).

Pelatihan juga melibatkan guru pendamping. Langkah tersebut dinilai penting agar keterampilan yang diberikan selama pelatihan tidak berhenti ketika kegiatan berakhir. Guru diharapkan mampu meneruskan materi dan mengembangkan pembelajaran vokasi di sekolah masing-masing.

“Kenapa kita berharap gurunya juga ikut? Supaya gurunya nanti bisa continue kepada murid-murid yang ada di sekolah tersebut. Kalau muridnya, supaya mereka bisa mengembangkan ilmu yang mereka dapatkan sehingga bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-harinya,” jelasnya.

Aries melihat kemampuan peserta dalam mengikuti pelatihan cukup menjanjikan. Bahkan, sejumlah peserta mampu menunjukkan hasil yang menurutnya tidak kalah dengan peserta didik pada umumnya.

“Kalau tata kecantikan ternyata tidak kalah dengan murid-murid yang ada di luar sana. Tata boga juga tadi keahliannya sudah cukup bagus. Mereka bisa membuat kue yang menurut saya standarnya sudah standar pada umumnya,” ujarnya.

Selain itu, Dindik Jatim berencana mengevaluasi pelaksanaan pelatihan untuk melihat peluang memperluas jumlah peserta, sekolah yang terlibat, hingga bidang keterampilan yang diberikan.

“Jumlah peserta maupun guru masih terbatas. Ke depan kita berharap jumlahnya lebih banyak lagi supaya lebih banyak manfaat bagi sekolah-sekolah lain,” katanya.

Bagi Aries, keterampilan vokasi memiliki nilai strategis karena dapat menjadi jalan bagi ABK untuk membangun masa depan yang lebih mandiri. Ia berharap kemampuan tersebut terus diasah sehingga peserta tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga keberanian untuk mengubah keterampilan itu menjadi peluang ekonomi.

“Kalau dikembangkan, diperluas lagi ilmu mereka, saya yakin percaya dirinya semakin tinggi. Kalau percaya dirinya semakin tinggi, akhirnya nanti kita harapkan mereka tidak menganggur, tapi bisa buka wirausaha sendiri dengan hal-hal yang kecil-kecil tetapi bisa bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan lingkungannya,” tutur Aries.

Potensi itu terlihat dari kemampuan peserta selama mengikuti pelatihan. Instruktur tata boga dari David Baking Studio Ngawi, Chef David Bryan Satria, mengaku cukup terkejut melihat kemampuan peserta.

“Yang kami kira dari nol atau belum bisa sama sekali, di luar prediksi kami sudah lumayan hampir mahir. Ketika membuat produk, menimbang dan membedakan jenis bahan sudah tahu. Pengenalan alat juga mereka paham,” katanya.

Dalam pelatihan tata boga, peserta tidak hanya dikenalkan pada peralatan dan bahan, tetapi juga langsung mempraktikkan pembuatan berbagai produk makanan, termasuk kreasi nastar dengan beragam isian dan bentuk.

David menilai keterampilan tersebut akan semakin berkembang jika terus dilatih di sekolah. Ia berharap guru dapat melanjutkan praktik menggunakan resep dan teknik yang telah diperoleh selama pelatihan.

“Harapannya semoga setelah lulus dari sekolah bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri, bisa menjadi wirausaha di bidang kuliner,” ujarnya.

Hal serupa terlihat dalam pelatihan tata rias. Instruktur dari Viva Beauty Center Surabaya, Tini Renang, mengatakan peserta masih berada pada tahap dasar, tetapi sebagian menunjukkan kemampuan yang menonjol dan berpotensi dikembangkan lebih jauh.

“Kompetensi mereka masih dalam tingkat dasar. Tapi patut diapresiasi dan terus diasah. Ada siswa yang unggul juga, tetapi memang harus dibiasakan terus-menerus,” katanya.

Peserta dikenalkan pada berbagai materi, mulai dari tata rias dasar hingga makeup kreatif seperti body painting dengan motif bunga dan daun. Mereka juga mendapat pemahaman mengenai kosmetologi, jenis dan warna kulit, serta bentuk wajah agar keterampilan yang dimiliki dapat diterapkan secara tepat.

Guru Kecantikan SLB Gedangan, Anoraga Mona, menilai pelatihan tersebut memberikan manfaat lebih luas karena peserta tidak hanya belajar keterampilan, tetapi juga memperoleh pengalaman bersosialisasi dan keberanian untuk tampil.

“Bagus sekali, menambah ilmu dan anak-anak juga berani tampil. Mereka bisa bertemu teman-teman dari daerah lain,” pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article