Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

SRRL Siap Tancap Gas, DED Rampung Akhir Januari

ilustrasi kereta listrik (pexels.com/Thgusstavo Santana)
ilustrasi kereta listrik (pexels.com/Thgusstavo Santana)
Intinya sih...
  • Penandatanganan kontrak Detail Engineering Design (DED) SRRL diharapkan rampung akhir Januari 2026.
  • Proyek ini menjadi percontohan transportasi publik berbasis energi hijau di enam kota besar Indonesia, dengan pembangunan fisik ditargetkan mulai pada 2027 hingga 2028.
  • SRRL akan dibangun menggunakan sistem jalur ganda (double track) dengan anggaran sekitar Rp5,4 triliun yang bersumber dari pinjaman luar negeri.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) memasuki fase teknis krusial. Pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) menargetkan penandatanganan kontrak Detail Engineering Design (DED) pada akhir Januari 2026 sebagai langkah awal menuju pembangunan fisik kereta listrik perkotaan berbasis energi ramah lingkungan.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim, Nyono mengatakan DED akan menjadi dasar final perencanaan teknis proyek, khususnya untuk Koridor 1A dan 1B. Penandatanganan kontrak DED dilakukan oleh satuan kerja Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan di Jakarta.

“Artinya desain perencanaan lengkap proyek ini akan segera difinalisasi. Setelah itu, kita masuk ke tahapan kontrak fisik,” ujar Nyono, Minggu (11/1/2026).

Proyek pemerintah pusat ini dikembangkan sebagai percontohan transportasi publik berbasis energi hijau di enam kota besar Indonesia. Untuk kawasan Surabaya Raya, proyek ini dinilai memiliki progres paling agresif dibanding daerah lain.

Nyono menjelaskan, jika tahapan berjalan sesuai jadwal, pembangunan fisik ditargetkan mulai pada 2027 hingga 2028. Kereta yang dioperasikan nantinya menggunakan tenaga listrik dan meninggalkan penggunaan bahan bakar solar.

Pada tahap awal, Koridor 1A akan menjadi prioritas pembangunan dengan rute Gubeng–Wonokromo–Sidoarjo. Sementara Koridor 1B direncanakan melayani jalur Gubeng–Pasar Turi, namun realisasinya menyusul karena masih terdapat persoalan penataan lahan dan relokasi warga di sepanjang jalur.

“Yang siap dieksekusi lebih dulu adalah Koridor 1A. Koridor 1B masih perlu pembahasan lanjutan karena ada hunian warga di lahan milik PT KAI,” jelasnya.

Secara teknis, SRRL akan dibangun menggunakan sistem jalur ganda (double track) dengan konsep pelebaran ke samping atau at grade, bukan jalur layang. Satu jalur eksisting akan ditambah satu jalur baru yang dikhususkan untuk kereta listrik perkotaan.

“Seluruh tahap pertama tidak menggunakan konstruksi elevated karena masih tersedia lahan milik PT KAI untuk pelebaran jalur,” kata Nyono.

Tahap pertama proyek ini membutuhkan anggaran sekitar Rp5,4 triliun. Seluruh pembiayaan bersumber dari pinjaman luar negeri dengan bunga rendah yang telah disepakati antara Kementerian Keuangan RI dan lembaga pembiayaan Jerman, KfW Development Bank. Dengan skema tersebut, APBD Jawa Timur belum digunakan dalam pembangunan utama proyek.

“APBD Jatim nanti kontribusinya lebih pada penanganan perlintasan sebidang dan penyesuaian jalur akibat pembangunan double track,” kata Nyono.

Dari sisi kebutuhan penumpang, proyek SRRM diproyeksikan melayani pergerakan komuter harian dalam jumlah besar. Berdasarkan kajian Sustainable Urban Mobility Plan (SUMP), pergerakan harian dari wilayah Sidoarjo ke Surabaya mencapai hampir 300 ribu perjalanan per hari. Selain itu, koridor Pasar Turi–Gresik–Lamongan–Babat juga memiliki potensi sekitar 250 ribu perjalanan harian.

Ke depan, pengembangan SRRL dirancang mencakup tiga koridor utama, yakni Koridor 1A–1B (Gubeng–Wonokromo–Sidoarjo dan Gubeng–Pasar Turi), Koridor 2 (Pasar Turi–Gresik–Lamongan–Babat), serta Koridor 3 (Wonokromo–Sidoarjo–Mojokerto).

Nyono menegaskan, pengaturan operasional kereta selama masa konstruksi sepenuhnya menjadi kewenangan PT KAI. Namun, ia memastikan akan ada penyesuaian manajemen operasional di stasiun-stasiun wilayah Jawa Timur agar layanan tetap berjalan.

“Ini proyek besar dan bertahap. Yang terpenting, desain teknisnya matang agar saat masuk pembangunan fisik tidak menimbulkan persoalan baru,” pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More

42 Dapur MBG Berhenti Operasional, Emil Tegaskan Tak Ganggu Distribusi

11 Jan 2026, 19:28 WIBNews